SENANGNYA TINGGAL DI RUSUN MARUNDA

Ada yang masuk gratis hingga harus membayar jutaan rupiah.

Sekumpulan bocah terlihat riuh bermain di lapangan konblok yang berada di tengah-tengah tower-tower rumah susun di Cluster B, Rumah Susun Sewa (Rusunawa) Marunda, Jakarta Utara. Mereka terlihat senang dan sesekali terdengar tawa riang.

Muhammad Kamil (4) tampak senang bermain ular tangga bersama ibunya. Meskipun belum mengerti tentang cara bermain permainan tersebut, Kamil terus mengocok dadu itu dengan semangat.

“Anak saya senang di sini, lapangannya luas dan banyak anak-anak seumurannya. Jadi dia (Kamil) punya banyak teman di sini,” kata Suryati (28) yang merupakan ibu dari Kamil, saat SH tanyakan apakah mereka betah tinggal di Rusun Marunda.

Ibu tiga anak itu merupakan salah satu dari ratusan keluarga yang sebelumnya tinggal di Muara Baru, Penjaringan, Jakarta Utara. Mereka pindah karena rumah tinggal mereka terendam banjir. Mereka akhirnya mau pindah setelah Wakil Gubernur DKI Jakarta Basuki Tjahaja Purnama alias Ahok berhasil membujuk mereka.

Suryati mengatakan, bila dengan berbagai fasilitas yang tersedia saat ini seperti pasar, puskesmas keliling, sekolah, dan tempat bermain, tentu banyak yang ingin pindah ke rusunawa yang terletak di Marunda tersebut. Namun selama ini belum pernah ada yang memberi tahu soal rusunawa tersebut.

Itu karena selain berbagai fasilitas, harga sewa satu unit rusunawa jauh lebih murah daripada sewa kontrakan di tempat lamanya yang sebesar Rp 250.000 per bulan. Di rusunawa itu, mereka hanya membayar sewa Rp 155.000 sebulan.

Menurut Suryati, tidak ada kesulitan untuknya dan warga lainnya dalam memperoleh unit di rusunawa itu. Ia sudah satu minggu menempati satu unit di lantai 1, Blok 8, Cluster B, Rusunawa Marunda, dengan berbagai fasilitas yang sudah tersedia, seperti kompor gas beserta tabung, piring, gelas, dan sendok yang masing-masing setengah lusin, kulkas, dan tempat tidur.

Dia bersyukur karena pemerintah menyediakan berbagai fasilitas itu di dalam unit rusun. Pasalnya akibat banjir besar beberapa waktu lalu, dia dan suami hanya mampu menyelamatkan satu televisi, sedangkan seluruh baju keluarga beserta surat-surat tertinggal terendam banjir. Kini, ia dan anak-anaknya menggunakan baju hasil sumbangan warga.

Menurutnya, sejauh ini yang masih menjadi kendala adalah sarana transportasi dari Marunda ke Muara Baru, sebab tidak ada angkutan yang langsung menuju ke tempat tinggal lamanya itu. Itu karena untuk ke Muara Baru, mereka harus naik turun angkutan umum lebih dari lima kali.

“Suami saya kerjanya di Muara Baru dan sekarang dia memilih untuk kembali satu minggu sekali untuk menghemat biaya transportasi,” ucap perempuan yang sebelumnya mengontrak di RT 19/RW 17, Kebon Tebu, Muara Baru, Penjaringan, Jakarta Utara. Dia menambahkan, suaminya bekerja sebagai buruh serabutan di Pelabuhan Ikan Muara Baru.

Kini dia dan suami hanya tinggal menunggu satu lagi janji Ahok kepada para pengungsi Muara Baru beberapa waktu lalu, yaitu akan menyediakan transportasi laut bagi mereka yang tempat bekerjanya di Muara Baru dan tinggal di Rusunawa Marunda. Menurutnya, saat itu Ahok berucap akan menyediakan transportasi laut, yang waktu tempuh Marunda ke Muara Baru hanya 30 menit.

Selain Suryati, ada Rizki (12) yang mengaku senang tinggal di Rusunawa Marunda. Hal itu karena kawasan Marunda dan Muara Baru tidak jauh berbeda, sama-sama di tepi laut.

Dia mengaku masih trauma dengan banjir besar yang menenggelamkan tempat tinggalnya di Muara Baru. Dengan polosnya dia mengatakan, dengan tinggal di rusun banjir besar tidak akan kembali menenggelamkan tempat tinggalnya sebab gedungnya tinggi-tinggi.

“Di Muara Baru sering banjir, yang paling para banjir kemarin, airnya sampai atap rumah. Kalau di sini nggak mungkin banjir, soalnya gedungnya tinggi sekali,” ucapnya sambil tersenyum senang.

Bayar lewat Calo

Ternyata tidak semua penghuni kawasan Rusunawa Marunda yang memiliki luas sekitar 26 hektare tersebut bisa “seberuntung” pengungsi banjir asal Muara Baru yang tidak mengeluarkan biaya sepeser pun untuk tinggal di unit rusunawa itu. Hasil penelusuran SH di rusunawa itu, hampir sebagian besar penghuni di Cluster B tersebut harus merogoh kocek agar dapat tinggal di sana.

“Warga blok ini, hampir 90 persen dipastikan membayar uang pungutan kepada pengelola rusun untuk dapat unit di sini. Rata-rata warga di sini dimintakan uang Rp 2,5 juta sampai Rp 7,5 juta per unitnya,” kata warga berinisial AS kepada SH.

Menurutnya, praktik tersebut sudah sangat lumrah terjadi di kawasan rusunawa milik pemerintah tersebut. Hal itu karena para pengelola selalu mengatakan bahwa rusunawa itu sejatinya diperuntukkan bagi korban gusuran. Namun ternyata kini bukan hanya warga gusuran yang tinggal di sana, tapi masyarakat umum juga dapat tinggal di rusunawa itu.

Seperti dirinya, AS menambahkan, banyak warga yang harus membayar sejumlah uang kepada pengelola untuk dapat tinggal di rusunawa itu tidak mendapatkan kuitansi pembayaran. Namun ada juga yang diberikan kuitansi, tapi jumlahnya tidak banyak.

Menurutnya, besaran uang yang dikutip warga tersebut cukup bervariasi tergantung lantai yang diinginkan. Semakin tinggi lantai yang di sewa, semakin murah harganya.

Uang kutipan itu, kata dia, hanya untuk perizinan agar dapat tinggal di rusunawa itu. Setiap bulannya, mereka harus membayar sewa dengan kategori masyarakat umum, yaitu sebesar Rp 345.000. Harga itu berbeda dengan warga yang pindah karena direlokasi, seperti para pengungsi dari Muara Baru yang mendapatkan subsidi dari pemerintah, sehingga hanya cukup membayar Rp 155.000.

Selain AS, ada warga lain yang mengaku telah “membeli” unit di Rusunawa Marunda, Cluster B tersebut. Meski tidak mau menyebutkan harga beli unit rusunawa itu, tapi dia menyebutkan harganya tidak semahal di Rusun Pluit.

“Pak Ahok pernah ngomong di televisi, bahwa ada warga yang beli satu unit rusun di Pluit sampai Rp 90 juta. Saya tidak sampai segitu, agak di bawahnya sedikit,” kata perempuan yang sudah tinggal di rusun tersebut sejak akhir 2011.

Dia mengaku tidak terlalu masalah membayar uang sebesar yang diminta pengelola hingga puluhan juta. Itu karena jumlah tersebut lebih murah daripada dia harus banyar sewa bulanan atau tahunan.
sumber : shnews

This entry was posted in Berita. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *