LARANGAN IMPOR HORTIKULTURA SEBAIKNYA BERKELANJUTAN

MedanBisnis – Bogor. Kebijakan larangan impor sejumlah komoditas hortikultura seperti buah-buahan dan sayuran yang baru-baru ini diterapkan pemerintah sebaiknya bersifat permanen atau berkelanjutan, sehingga petani dalam negeri dapat memetik manfaatnya dan kebutuhan masyarakat tetap terpenuhi.
“Jadi bukan larangannya yang dipermanenkan, tapi kebijakan yang tidak selalu bersifat sementara, sehingga petani kita belum siap,” kata Guru Besar IPB Prof Roedhy Poerwanto dalam acara diskusi di Kampus IPB Baranangsiang, Bogor, Jawa Barat, Kamis (31/1).

Roedhy mengatakan bahwa ia cukup mengapresiasi kebijakan laparanan impor sejumlah komoditas buah dan sayuran tersebut, namun berharap kebijakan tersebut berkelanjutan.

“Kebijakan ini harus kontinu agar petani kita siap menyuplai kebutuhan buah lokal,” ujar Roedhy yang juga ketua umum Perhimpunan Hortikultura Indonesia itu.

Selain itu jika kebijakan pembatasan atau larangan impor produk hortikultura itu permanen, maka para investor pun tidak dirugikan karena mereka telah melakukan persiapan dalam proses penanaman.

Seperti diketahui, pemerintah melakukan pelarangan impor terhadap beberapa produk hortikultura, Januari hingga Juni 2013. Hal tersebut sebagai konsekuensi dikeluarkannya Permentan nomor 60 Tahun 2012 dan Permendag No 60/2012 soal Impor Hortikultura.

Produk hortikultura yang dilarang adalah kentang, kubis, wortel, cabai, nenas, melon, pisang, mangga, pepaya, durian, bunga krisan, anggrek dan bunga heliconia.

Menurut Roedhy, kebijakan larangan impor tersebut perlu disempurnakan untuk masa-masa mendatang, termasuk dalam pemilihan komoditasnya. “Kita lihat sebagian besar jenis sayur dan buah yang masuk dalam daftar 13 komoditas, tidak semuanya banyak diimpor. “Dari data yang saya dapat, jenis produksi hortikultura terbesar yang diimpor adalah jeruk, apel, pier dan anggur. Yang lainnya sedikit sekali kita impor,” ujarnya.

Demikian pula dalam hal waktu dalam memberlakukan kebijakan larangan impor buah. “Waktunya juga harus disesuaikan dengan tepat sesuai dengan karakter produknya, sebaiknya pada saat musim panen buah-buahan. Di indonesia antara September sampai april,” katanya.

Acara diskusi yang dipandu oleh Dekan Fakultas Ekologi Manusia Dr Arif Satria tersebut juga menghadirkan pembicara Prof Dr Didin Damanhuri (Guru besar Ekonomi FEM IPB) dan Prof Dr Sobir (guru besar agronomi Fakultas Pertanian IPB).

Prof Sobir mengingatkan bahwa momentum ini harus benar-benar dimanfaatkan untuk meningkatkan mutu produk buah dan sayuran dalam negeri, agar bisa memenuhi kebutuhan lokal maupun ekspor.

Pusat-pusat penelitian di IPB, katanya, siap membantu petani untuk menciptakan produk-produk buah atau sayuran yang dapat bersaing di pasar ekspor. (ant)
sumber: medanbisnisdaily

This entry was posted in Berita, Berita dan Informasi Utk Takasima, Informasi AgriBisnis, Informasi Untuk Kab. Karo. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *