DILARANG KAWIN, ADIK BUNUH ABANG

SIANTAR-PM : Gara-gara tak senang dilarang kawin duluan, seorang adik tega membunuh abang kandung sendiri. Peristiwa sadis nan menggemparkan ini terjadi di Jl. Ir Sutami, Kel. Kisaran Baru, Kec. Kisaran Barat, Asahan. Adalah Syahrial Sitorus (17), nama pelaku. Ironisnya, setelah puluhan kali membacok leher Syahrono Sitorus (24), pelaku lalu duduk manis sembari menunggu polisi datang menjemputnya. Semula jenazah korban dilarang pihak keluarga untuk diotopsi. Tapi karena polisi terus mendesak, akhirnya janazah pun dilepas ke RSUD dr Djasamen Saragih Pematangsiantar, Rabu (30/1) sekira pukul 12.00 WIB.

Pantauan POSMETRO MEDAN di kamar mayat, terdapat lima luka bacokan di leher Syahrono. “Kejadiannya Rabu dini hari tadi bang,” ujar Dedi Juliansyah (33), bapak uda korban yang ditemui kru koran ini di kamar mayat. Kata Dedi, keduanya (abang-adik-red) sebelumnya terlibat cecok yang diawali dengan canda. Dedi mengetahui hal itu karena memang tinggal serumah dengan korban dan pelku. Diceritakan Dedi, pertengkaran itu terjadi sekira pukul 23.00 WIB, saat Syahrial mengutarakan niatnya untuk meminang seorang wanita (menikah).

Rencana itu langsung disambut dengan kata sindiran oleh Syahrono. Ia meminta adiknya tidak mendahuluinya dirinya yang masih lajang. Tak mau kalah, Syahrial yang telah putus sekolah setahun terakhir itu, tetap ngotot akan mendahului abang kandungnya. Singkat cerita, sindiran yang awalnya sempat dibarengi tawa kecil itu pun berubah jadi saling ejek hingga pertengkaran mulut. Suara keras yang sudah larut malam, memaksa Ramlan Sitorus (55), ayah kandung keduanya, melerai dan menyuruh keduanya beranjak ke kamar masing-masing untuk tidur. Begitupun, kata-kata pedas bercampur makian, masih terdengar dari mulut keduanya. Tapi setengah jam kemudian suasana berubah hening.

Tapi ketenangan itu tadi terusik kembali oleh suara gaduh dari kamar Syahrono. Yakin kedua putranya bertengkar lagi, Ramlan pun beranjak dari kamarnya. Tapi saat itu, ia terkejut melihat darah segar mengalir dari kamar Syahrono. Dalam hitungan detik, jeritan tangis tiba-tiba memecah keheningan malam. Ternyata diam-diam Nuraini br Purba (50), ibu kandung korban mapun pelaku, membuntuti suaminya dari belakang. Nuraini yang tak tahan melihat darah, sontak menjerit, lalu pingsan. Mendengar jeritan ibunya, Syahrial lalu ke luar dari kamar abangnya. Saat itu, pakaian dan wajah pelaku dipenuhi bercak darah. Tak sempat bertanya, Ramlan yang penasaran tetap masuk dan melihat anak keduanya itu sudah terkapar bersimbah darah di atas ranjang tempat tidurnya.

Bahkan sebilah golok sepanjang 50 cm masih tergeletak di atas lantai samping kasur. Tapi Syahrial terlihat duduk tenang di kursi ruang tamu dengan pandangan kosong. “Kami terbangunlah semua, Syahrono dibawa ke rumah sakit ternyata sudah tak bernyawa karena luka bacok di leher dan wajahnya itu,” tutur Dedi. Hitungan menit, rumah Ramlan dibanjiri para tetangga, sedang Syahrial masih terlihat tenang di atas kursi. Selang satu jam, polisi pun tiba dan mengamankan Syahrial tanpa perlawanan. Petugas yang menyusul ke rumah sakit, keluarga justru menolak jenazah Syahrono anak kedua dari tiga bersaudara itu di otopsi. Meski sudah dibujuk, tetap saja keluarga tidak bersedia, bahkan sudah sempat menandatangani surat pernyataan. Namun kabarnya, atas perintah Kapolres Asahan, akhirnya keluarga bersedia menyerahkan jenazah untuk diotopsi di Pematangsiantar. “Karena pelakunya saudara kandung makanya keluarga meminta agar jenazah tidak perlu diotopsi,” kata Dedi.

Sedangkan Kapolres Asahan, AKBP Yustan Alpiani ketika dikonfirmasi, menegaskan pihaknya sudah menahan Syahrial yang diduga sebagai pelaku. Adapun motifnya, pihaknya masih meminta waktu karena masih proses penyelidikan. Oleh Forensik melalui dr Reinhard Hutahaean, korban mengalami mati lemas karena mengalami pendaharan hebat dari lima luka menganga pada leher. Beberapa jaringan saraf pada leher putus akibat trauma benda tajam. Terdapat juga lebam pada dada hingga diyakini, korban sempat memberi perlawanan. “Penyebab kematian fatal terdapat pada luka menganga di leher,” kata Reinhard. (ndo/deo)
sumber: posmetro

This entry was posted in Berita. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *