MANGGA ‘PARAPAT’ TERGERUS WAKTU, TERGESER IMPOR

Mangga udang mungkin kurang familiar kedengarannya, tapi bila disebut mangga ‘parapat’ orang langsung bisa menebak kalau mangga berukuran imut-imut (kecil) ini berasal dari seputaran Danau Toba. Sayang, buah ini seperti terlupakan. Tak ada peremajaan yang berarti yang dilakukan masyarakat setempat maupun pemerintah. Entah itu pemerintah provinsi maupun pemerintah kabupaten yang terlibat di seputaran Danau Toba.
Bahkan masyarakat terutama para pedagang buah di daerah wisatawan tersebut mulai suka menjual buah-buah ‘impor’ dari provinsi seberang, seperti mangga probolinggo, arum manis dan sejenisnya. Padahal, sebelum era 2000-an, buah berasa super manis dan wangi ini sangat digandrungi tidak hanya masyarakat Sumatera Utara (Sumut) saja tapi juga para pelancong dari berbagai daerah dan negara yang singgah ke daerah tersebut.

Mirisnya lagi, masyarakat setempat mulai meninggalkan komoditas tersebut dan beralih ke komoditas lain yang dianggap lebih memberi kontribusi besar dalam pendapatan keluarga mereka. Seperti kopi arabika atau lebih dikenal kopi ateng.

“Masyarakat maunya yang instan (cepat), tidak mau capek-capek mempertahankan atau mengembangkan tanaman mangga udang, mereka lebih memilih mengembangkan kopi dan lainnya,” kata Bupati Samosir, Mangindar Simbolon dalamperbincangannya dengan MedanBisnis, Selasa malam (22/1) di Niagara Hotel, Parapat, Kabupaten Simalungun usai acara Silaturahmi Duta Besar Swiss untuk Indonesia Heinz Walker Nederkoorn dengan Bupati Simalungun, Samosir dan Toba Samosir.

Pada malam itu, Bupati Mangindar secara panjang lebar menceritakan keberadaan mangga udang yang dimiliki tujuh kabupaten yang mendiami Danau Toba, yakni Simalungun, Samosir, Toba Samosir, Humbang Hasundutan, Tapanuli Utara, Karo dan Dairi.

“Secara umum, mangga udang ini tumbuh di tujuh wilayah yang berada di kawasan Danau Toba, tetapi keberadannya yang paling banyak ada di Kabupaten Samosir dan Tapanuli Utara tepatnya di Muara,” jelasnya.

Mangga-mangga inilah yang kemudian menurut Mangindar yang dipasarkan di Kota Parapat, untuk mempermudah jangkauan para pengunjung yang datang. “Makanya mangga Samosir ini lebih dikenal dengan mangga parapat,” sebutnya.

Saat ini, buah mangga udang yang banyak beredar di seputaran Danau Toba khususnya Kota Parapat umumnya berasal dari tanaman yang sudah berumur tua sehingga produktivitasnya pun menurun. Begitupun, kata Bupati, tahun ini, pihaknya telah mengagendakan pengembangan mangga udang di Kabupaten Samosir.

Hanya saja, pihaknya terkendala di pengadaan bibit mangga. Sebab, jika mengandalkan dari biji, proses pertumbuhannya memakan waktu cukup lama untuk bisa berbuah. “Bisa sampai 10 tahun,” sebutnya.

Ini jugalah yang membuat masyarakat enggan membudidayakannya. “Kalau kita tanam sekarang, cucu kita yang akan menikmati buahnya,” kata Mangindar menirukan ucapan masyarakat setempat.

Pihaknya juga kata Mangindar akan menyurati Badan Penelitian Buah-buahan agar melakukan penelitian terhadap mangga udang Samosir ini. “Saya ingin, litbang membuat hasil persilangan terhadap mangga Samosir ini sehingga muncul generasi baru tapi tidak mengurangi rasa, aroma maupun bentuknya,” katanya.

Dan, yang paling penting lagi kata Mangindar, varietas mangga baru tersebut cepat menghasilkan (berbuah) dan produktivitasnya juga tinggi. Dengan begeitu akan merangsang petani dan masyaarakat setempat untuk mengembangkan kembali mangga Samosir ini.

“Saya tidak mau yang sudah menjadi komoditas unggulan daerah ini hilang begitu saja. Apa yang sudah ada harus dipertahankan dan dikembangkan. Itu harapan saya. Sebab, mangga Samosir ini sudah menjadi ikon bagi Danau Toba. Rasanya ada yang kurang jika pulang dari Parapat tidak membawa mangga udang,” sebutnya.

Tahun ini juga lanjut Mangindar, pihaknya telah mengagendakan pengembangan mangga Samosir ini. Hanya saja, jumlahnya belum begitu besar mengingat keterbatasan biaya yang ada. Namun, ke depan pihaknya komit untuk mengalokasikan anggaran khusus pengembangan mangga Samosir.

“Saya juga berharap pusat dan pemerintah provinsi dalam hal ini Dinas Pertanian bisa membantu kami baik dalam anggaran maupun penelitian untuk pengembangan mangga Samosir ini. Begitu juga dengan, kabupaten yang terlibat di Danau Toba agar bersama-sama turut mengembangkan mangga yang sudah menjadi ikon daerah wisata Sumatera Utara ini,” kata Bupati Mangindar penuh harap.

Hanya dengan begitu, lanjut dia, keberadaan mangga Samosir ini dapat dipertahankan. “Kalau hanya Samosir saja yang mengembangkannya sementara enam kabupaten lain tidak, sama saja. Karena kemampuan Samosir sangat terbatas,” tandas Mangindar.  ( junita sianturi)
sumber: medanbisnisdaily

This entry was posted in Berita, Informasi AgriBisnis. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *