10 KABUPATEN DI SUMUT TERANCAM SERANGAN SIPUT MURBEI

MedanBisnis – Medan. Sebanyak 10 kabupaten di Sumatera Utara (Sumut) terancam serangan siput murbei. Hingga Desember, sudah 483,3 hektare lahan padi terserang. Jika dibiarkan, serangan bisa meluas dan berpotensi merugikan petani.
Kepala Seksi Pengamatan dan Peramalan Organisme Pengganggu Tanaman (OPT) dan Bencana Unit Pelaksana Teknis Balai Proteksi Tanaman Pangan dan Hortikultura (UPT BPTPH) Sumut, Ruth Kristina Tarigan, kepada MedanBisnis, Jumat (25/1) di Medan mengatakan, siput murbei merupakan organime penganggu tanaman (OPT) yang harus diwaspadai karena bisa merusak padi petani.

Cuaca, kata Ruth, berpengaruh besar pada kemunculan siput murbei. Kondisi yang lembab memudahkannya berkembang lebih banyak. Contohnya, pada periode Oktober – Desember, seluas 483,3 hektare lahan padi petani di seluruh Sumut terserang siput murbei. “Lahan pertanian Karo paling luas terserang, yakni 103,3 hektare, kemudian Deliserdang seluas 77,7 hektare,” ungkapnya.

Dikatakannya, di awal tahun ini yang mana curah hujan masih cukup tinggi, diperkirakan serangan siput murbei paling banyak akan menyerang di 10 kabupaten,takni Mandailing Natal, Tapanuli Selatan, Tapanuli Tengah, Labuhan Batu, Simalungun, Dairi, Deliserdang, Langkat, Pakpak Bharat, dan Labuhan Batu Utara.

Dari 10 kabupaten tersebut, minimal akan menyerang lahan pertanian padi seluas 221,9 hektare dengan rerata 532,3 hektare dan maksimal 1276,9 hektare.

Dengan demikian, menurutnya, 10 kabupaten tersebut harus melakukan kewaspadaan dan ansitipasi agar serangan tidak meluas. Karena jika tidak, akan sangat berpengaruh terhadap produksi padi secara umum. Sebagai contoh, di Asahan, kumulasi luas serangan periode Oktober – Desember, cukup kecil yakni 10 hektare, namun jika melihat dari prakiraann minimal seluas 1,6 hektare, rerata 3,7 hektare dan maksimal 9 hektare. “Jadi untuk Asahan, sudah harus ada tindakan langsung di lokasi,” katanya.

Sama halnya dengan di Karo kumulasi serangan mencapai 103,3 hektare, sebelumnya diperkirakan minimal akan menyerang lahan padi seluas 10,8 hektare dengan rerata 25,9 hektare dan maksimal 62 hektare. “Tindakan cepat di lokasi harus dilakukan, yakni spot stop,” kata Ruth.

Solusi lain, menurutnya adalah dengan lebih mengembangkan agens hayati yang mampu menahan perkembangan serangan hama secara organik tanpa menghilangkan musuh alaminya. “Petugas pengendali hama penyakit dan penyuluh dengan petani harus bekerja sama mengendalikan hama,” tambahnya. (dewantoro)
sumber: medanbisnisdaily

This entry was posted in Berita, Berita dan Informasi Utk Takasima, Informasi AgriBisnis, Informasi Untuk Kab. Karo. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *