REKAYASA LALULINTAS SULIT DILAKUKAN

MEDAN (Waspada): Sejak beberapa tahun terakhir, kemacatan lalulintas di Kota Medan dipicu pertambahan jumlah kendaraan bermotor yang sangat pesat, namun tidak dibarengi dengan peningkatan infrastruktur jalan raya.

Data yang diperoleh Waspada di Dinas Perhubungan Kota Medan, Selasa (15/1), sejumlah ruas jalan yang dianggap rawan kemacatan lalulintas yakni Jln. Sutomo, Jln. Cirebon, Jln. Hj. Ani Idrus, Jln. Sisingamangaraja, Jln. Thamrin, Jln. Asia, Jln. Haryono MT, Jln. Palang Merah dan lainlain.

Selain pertambahan jumlah kendaraan bermotor, pemicu kemacatan lalulintas lainnya yakni lintasan kereta api yang berada dekat persimpangan jalan. Selama ini, keberadaan kereta api reguler dan komuter yang melintas setiap hari, sudah cukup merepotkan personel Sat Lantas dan Dinas Perhubungan Kota Medan untuk mengatasi kemacatan lalulintas.

Kini, pemerintah berencana menambah frekuensi kereta api yang melintasi inti Kota Medan. Kereta api yang melayani rute Medan – Kualanamu dan sebaliknya ini, khusus mengangkut penumpang pesawat.

Namun rencana pemerintah ini dinilai tidak mempertimbangkan dampak buruk terhadap kondisi lalulintas di Kota Medan. Kemarin, Anggota DPRDSU dan para pengguna jalan raya mendesak pemerintah untuk mengevaluasi rencana penambahan armada kereta api tersebut atau mencari solusi lainnya.

Di tempat terpisah, Kasat Lantas Polresta Medan Kompol Risya Mustario, SH, SIK menegaskan, rekayasa lalulintas sulit dilakukan untuk mengatasi kemacatan pada ruas jalan yang dilintasi kereta api. Sebab, terdapat lintasan kereta api yang berdekatan dengan persimpangan jalan.

“Solusinya harus dibuat jalan layang (fly over) atau jalan di bawah tanah (underpass) di setiap lintasan KA. Dengan demikian, kemacatan lalulintas akibat lintasan kereta api di inti Kota Medan  dapat diatasi,” kata Risya Mustario kepada Waspada di ruang kerjanya, Selasa (15/1).

Apalagi, kata Risya, frekuensi kereta api yang melintas akan meningkat menyusul beroperasinya  Bandara Kualanamu. “Frekuensi kereta api yang melintasi inti Kota Medan bisa dipastikan sangat tinggi,” ujarnya.

Karena itu, Risya menyarankan agar semua pihak duduk bersama untuk mencari solusi guna mengantisipasi kemacatan lalulintas tersebut. Jika tidak, kondisi lalulintas di Kota Medan akan semakin parah sehingga menimbulkan dampak negatif perekonomian di daerah ini.

Untuk mengatasi kemacatan arus lalulintas di inti kota, pemerintah harus membangun fly over atau underpass. “Diakui bahwa untuk membangun jalan layang atau jalan di bawah tanah tersebut membutuhkan waktu relatif lama dan perlu koordinasi lintas instansi. Tapi kalau tidak dibangun, maka tidak ada solusi lain untuk mengatasi kemacatan lalulintas,” ujarnya.

Sebelum jalan layang atau jalan di bawah tanah dibangun, kata Risya, pihaknya akan berupaya semaksimal mungkin melakukan koordinasi dengan PT KAI  guna mengatasi kemacatan lalulintas.

“Dalam hal ini, kereta api yang melintas harus menghindari jam padat pada pagi, siang dan sore. Yakni saat anak sekolah dan para pekerja pergi serta pulang ke rumah,” jelas Kompol Risya Mustario seraya menambahkan Sat Lantas Polresta Medan terus berupaya memikirkan alternatif lain.

Titik macat

Menurut Risya, ada beberapa lokasi yang mengalami kemacatan bila KA MedanKualanamu sudah beroperasi. Yakni di perlintasan KA Jln. Haryono MT, Jln. Hj. Ani Idrus, Jln. Mahkamah, Jln. Sisingamangaraja, Jln. Sutomo, Jln. Thamrin, Jln. AR Hakim dan Jln. Mandala by Pass.

“Delapan lokasi lintasan KA inilah yang berpotensi mengalami peningkatan kemacatan lalulintas,” jelasnya.

Saat ini saja, kondisi lalulintas di delapan lokasi tersebut sudah sangat parah. Apalagi jika rangkaian kereta api Medan  Kualanamu sudah beroperasi, dipastikan kemacatan semakin parah. “Kondisi seperti ini jangan dianggap sepele karena bisa mengganggu aktivitas masyarakat kota Medan,” demikian Risya.(m25/m39)
sumber: waspadamedan

This entry was posted in Berita. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *