PUPUK ORGANIK TINGKATKAN PRODUKSI PANEN TOBASA

TRIBUN-MEDAN.com, TOBASA – Kelompok Tani makmur Desa Jangga Toruan Kecamatan Lumbanjulu, Kabupaten Tobasa, Provinsi Sumut berhasil menerapkan pola pertanian peduli lingkungan. Produksi gabah padi yang diperoleh meningkat tiga kaleng per satu rante, dengan biaya produksi lebih rendah.

Panen perdana dilakukan, Kamis (17/1/2013), tanaman yang ditanam pada 25 September 2012 di atas lahan seluas 50 hektar. Padi ditanam di luar musim tanam secara normal di daerah itu. Demikian di jelaskan Jaimar Manurung Ketua Kelompok Tani Makmur, pihaknya memanfaatkan pupuk kompos atau organic yang diproduksi rumah kompos Kelompok Tani Peduli Sub DAS Gopgopan.

Rumah kompos ini merupakan binaan Strengthening comunity Based Forest Watersheet Management (SCBFWM) yang didanai UNDP dan GEF melalui kementerian kehutanan. SCBFWM adalah lembaga Penguatan Pengelolaan Hutan dan Daerah Aliran Sungai di kecamatan Lumbanjulu melakukan advokasi kepada masyarakat, untuk tetap menanam tanaman hutan, perkebunan di areal pertanian masyarakat. Dengan harapan rumah kompos akan secara otomatis akan mengarahkan masyarakat arti pentingnya menanam pohon dan memakai pupuk organik.

Di sekitar hamparan sawah yang kurang lebih 50 hektar, Jaimar berani mencoba membuat jadwal yang berbeda dengan masyarakat lainnya. Masyarakat sekitar berpendapat bahwa sistem menanam padi yang dilakukan pak Jaimar tidak akan berhasil. “Mana mungkin tanaman padi berbuah dengan baik tanpa diberikan pupuk kimia seperti biasanya dilakoni masyarakat,” ujar Jaimar menirukan komentar rekan sekitarnya.

Diceritakannya, bimbingan Fasilitator Lapangan SCBFWM, ia memulai membuat jadwal tanam sendiri. Ia ingin mencoba hasil kerja keras anggota Kelompok Tani yang telah memproduksi pupuk organik yang diolah sendiri. “Saya mulai menabur pupuk organik sebanyak 12 karung untuk 1 rante padi IR (sibandung), setelah padi berumur 2 minggu dan saya berikan pupuk ponsk 10 kg, setelah itu saya memberi kelambu supaya padi tidak dimakan burung. Keuntungan memakai pupuk organik buatan sendiri ini, cukup memuaskan kami, panen kali ini meningkat tiga kaleng dibandingkan system bertani dengan perlakuan pupuk yang dibeli dari toko,” jelasnya penuh optimis.

Biasanya, katanya, luas lahan 1 rante mendapat 18 kaleng gabah tapi saat panen padi organic bisa mendapat 21 kaleng gabah. “Ada rasa bangga dan senang yang sangat luar biasa karena tidak pernah terpikir untuk membuat pupuk sendiri untuk padi yang kita tanam,” ujarnya.

Jaimar berharap akan bisa meneruskan menanam padi dan tanaman kebun bibit desa yang diterimanya tahun 2010 yang lalu. Sesudah ada rumah kompos, pihkanya sudah jarang membeli pupuk dan uangnya bisa ditabung. Secara tidak langsung, pihaknya turut berpartisipasi mengurangi pencemaran air yang akan merusak kualitas air danau toba.
Saat panen perdana, turut hadir Hendra Butar-butar Camat Kecamatan Lumbanjulu dalam kesempatan panen perdana ini, mengatakan bangga kepada Pak Jaimar yang bersedia membuat demplot padi organik.

“Ini sebagai bukti bahwa masyarakat mendukung program pemerintah, dan masyarakat juga bisa mencari solusi ketika harga pupuk mahal dengan memproduksi pupuk sendiri. Panen Padi organik ini kiranya bisa memotivasi masyarakat lainnya,” ujarnya. Jika pemakaian pupuk organik berkembang maka secara otomatis air pun terjaga dari pencemaran dan secara perlahan kerusakan lingkungan hutan juga akan berkurang. Degradasi lahan di sepanjang daerah aliran sungai juga tidak akan terjadi karena tekstur tanah akan semakin baik.

Monang Naipospos anggota DPRD Kabupaten Tobasa berterimakasih kepada Fasilitator Lapangan SCBFWM, Manogar Napitupulu, Rosmelina Sinaga, Sargon Manurung untuk kerja kerasnya memotivasi masyarakat di Kecamatan Lumbanjulu. Semoga, demplot padi organik yang telah dirancang mulai dari pembuatan pupuk yang diambil dari alam, dan kemudian dikembalikan ke alam akan mempercepat perbaikan tanah. “Menjaga kebersihan air dan membangun kembali budaya gotong royong yang sudah mulai hilang, menjadi tujuan utama,” tegas Monang.

Dijelaskan Manogar, pihaknya bergerak di bidang advokasi warga untuk melestarikan hutan dengan penanaman pohon. Namun, hal itu sulit ketika produktifitas tanaman hutan membutuhkan waktu yang panjang. Dalam waktu berjalan, untuk itulah pihaknya memulai dengan menerapkan konservasi lingkungan dengan penggunaan bahan organic. (afr/tribun-medan.com)
sumber: medan.tribunnews

This entry was posted in Berita, Berita dan Informasi Utk Takasima, Informasi AgriBisnis, Informasi Untuk Kab. Karo. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *