PRODUKSI TANAMAN PISANG ASAL UGANDA CAPAI 96 TON PER HEKTARE

Medan, (Analisa). Peneliti Pisang dari Universitas Medan Area (UMA) yang bekerjasama dengan Dinas Pertanian Deliserdang, Suswati menjelaskan, tingkat kesuburan tanah di Sumut akan banyak ditumbuhi tanaman buah yang menghasilkan nilai ekonomis. Contohnya, pisang fhia dari Uganda yang produksinya mencapai 96 ton per hektare.
“Hasil dari budidaya pisang fhia sangat memuaskan, 90 persen tanaman yang berhasil dipanen dan berat pertandaan berkisar 40-60 kilogram atau menghasilkan 64 hingga 96 ton per hektare,” jelasnya.

Dia mengatakan, jenis pisang fhia-17 merupakan kelompok Gros Michel tipe pisang meja yang memiliki penampilan agronomi yang sangat baik dan tahan akan penyakit jamur yang disebabkan Mycosphaerella sp. Selain itu, tanaman pisang jenis ini juga toleran terhadap jamur Fusarium oxysporum f.sp.cubense dan kumbang penggerek bonggol.

“Pisang ini juga peka terhadap Banana bunchy top virus dan nematoda Radopholus similis,” katanya.

Diungkapkannya, jenis pisang asal Uganda ini memiliki lokal Kobana. Sebab, dengan potensi yang dimilikinya, tanaman ini dikembangkan melalui program pemuliaan fhia dan direlease (dilepas) pada tahun 1989, yang kemudian dievaluasi ketahanannya terhadap hama dan penyakit di lebih 50 negara.

Tinggi tanaman

Untuk sisi fisiknya, tinggi tanaman pisang fhia-17 ini bisa mencapai 3-3,5 meter dan dapat tumbuh pada ketinggian tempat 0-1.200 meter di atas permukaan laut (mdpl), dengan curah hujan 2.000 mm/tahun dan temperatur optimum 280 derajat Celcius.

“Tanaman ini juga dapat tumbuh pada suhu yang lebih rendah, namun tidak tahan akan genangan,” ungkapnya.

Lebih lanjut, kata dia, untuk membudidayakan pisang fhia-17 yang harus diperhatikan adalah kerapatan tanaman agar hasilnya dapat maksimal. Kerapatan tanaman 1.600 per hektare dengan jarak tanam 2m x 2m. Untuk jumlah pupuk yang dibutuhkan sebanyak 300 kilogram N per tahun, 450 kilogram per tahun untuk K.

“Sebaiknya dilakukan pemindahan anakan setiap 8 minggu sekali, rasa buah manis dan agak sedikit asam,” katanya.

Akibat potensi yang dimilikinya, Suswati bekerjasama dengan Dinas Pertanian Deliserdang melakukan uji coba jenis pisang ini di areal bekas pertanaman pisang yang terserang penyakit darah bakteri dan layu Fusarium di Kecamatan Tanjungmorawa, Kabupaten Deliserdang pada November 2012 lalu.

Uji coba tersebut menghasilkan panen yang menggembirakan. Sebab, ketika tanaman yang ditanam berusia 7 bulan, tanaman pisang dapat berbuah dan pada umur 10 bulan setelah tanam, pisang dapat dipanen.

“Hasilnya sangat memuaskan. Sekitar 90 persen, tanaman berhasil dipanen dan berat buah pertandan berkisar 40-60 kilogram atau 64-96 ton per hektare dengan jarak tanam 2m x 2m dengan jumlah populasi di lahan seluas satu hektare sebanyak 1.600 tanaman. Selain itu, panjang tandang pisang tersebut dapat mencapai 1,5-2m,” ungkapnya. (ik)
sumber: analisadaily

This entry was posted in Berita, Berita dan Informasi Utk Takasima, Informasi AgriBisnis, Informasi Untuk Kab. Karo. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *