PEMBUNUH SATU KELUARGA TERINSPIRASI IKLAN TABLOID

TEMPO.CO, Madiun – Pembunuh satu keluarga di Madiun, Agus Basuki, 35 tahun, mengaku terinspirasi iklan penggandaan uang di sebuah tabloid mistis untuk menipu korbannya. “Setelah membaca iklan itu, muncul ide untuk menipu dengan berpura-pura bisa membantu ritual penggandaan uang,” kata Agus yang masih ditahan di Markas Kepolisian Resor Madiun, Jumat, 18 Januari 2013.

Korban pembunuhan oleh Agus adalah pasangan suami-istri, Mohamad Giantoro alias Aan, 35 tahun, dan Retno Sugiarti, 35 tahun, serta anak sulung mereka, Tania, 11 tahun. Korban dihabisi setelah memasukkan cairan potasium sianida pada minuman korban.

Agus dan korban sudah lama saling kenal. Agus pernah satu tempat kerja dengan Retno, yakni sebagai pegawai di Hotel Merdeka, Kota Madiun. Namun, Agus sudah lama berhenti.

Menurut Agus, Aan dan Retno sudah memiliki dua anak, bahkan kini sedang menunggu anak ketiga yang masih dalam kandungan Retno. Pasangan ini sering mengeluhkan biaya hidup. Apalagi Aan hanya bekerja sebagai tukang pangkas rambut.

Aan terbujuk rayuan Agus untuk menjalani ritual penggandaan uang. Agus pun menyebut tokoh paranormal dengan panggilan Abah dan bermukim di Malang. Padahal, semuanya fiktif. Namun, Aan percaya dan beberapa kali menitipkan imbalan untuk si Abah melalui Agus. Jumlahnya sekitar Rp 2,7 juta. Namun, janji penggandaan uang tak membuahkan hasil. Aan pun menuntut Agus mengembalikan dua kali lipat uang yang diberikannya.

Tuntutan Aan membuat Agus naik pitam dan merencanakan pembunuhan. Pada 8 Januari 2013, dengan menyewa taksi, Agus mengajak Aan dan Retno menemui Abah dengan dalih mengambil uang yang digandakan. Saat itu Agus sudah menyiapkan minuman beracun. Namun, hanya Retno yang meminumnya saat tiba di Malang.

Karena fiktif, tentu saja Abah yang dituju tak ditemui. Namun, Agus tak kehilangan akal. Setelah menelpon, Agus malah mengajak keluarga itu mengikuti ritual di Nganjuk. Saat di Nganjuk, Agus menyarankan Retno pulang ke Madiun. Sedangkan Aan dan Tania tetap di Nganjuk. Setiba di Madiun, Retno meninggal setelah menenggak minuman beracun pada 9 Januari 2013.

Aan dan Tania dibonceng sepeda motor oleh Agus ke hutan Desa Kuwiran, Kecamatan Kare, Kabupaten Madiun. Aan disuruh bersemedi dan meminum air dalam botol yang juga dicampur potasium. Tania juga meminumnya. Keduanya pun tewas. Jenazahnya ditemukan warga empat hari kemudian, 13 Januari 2013. ”Saya menyesal dan kalap waktu itu. Saya mohon maaf pada keluarga korban,” ujar Agus.
sumber : tempo

This entry was posted in Berita. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *