KELUHAN SOPIR ANGKOT DAN PENGGUNA JALAN

RENCANA beroperasinya kereta api khusus penumpang pesawat dengan rute Medan – Kualanamu dan sebaliknya, telah menimbulkan kekhawatiran di kalangan pengguna jalan terutama sopir angkutan kota (angkot).

Pasalnya, penambahan frekuensi kereta api yang melintas di inti Kota Medan dipastikan membuat kemacatan lalulintas semakin parah di kawasan Jln. Haryono MT, Jln. Hj. Ani Idrus, Jln. Sisingamangaraja, Jln. Sutomo, Jln. Thamrin dan seterusnya.

Bagi sebagian kecil pengendara kendaraan bermotor, mungkin bisa mengambil jalan alternatif lain agar terhindar dari kemacatan lalulintas tersebut. Tapi bagi pengguna jalan lainnya terutama sopir angkot, kemacatan lalulintas tersebut tidak bisa dihindari lagi. Sebab setiap angkot memiliki trayek yang sudah ditetapkan sehingga tidak bisa mengubah rute perjalanannya.

Pantauan Waspada di lapangan, Senin (14/1), sejumlah trayek angkot yang harus melewati lokasi rawan macat tersebut yakni Sambu – Amplas (melewati Jln. Sisingamangaraja), Sambu – Titikuning dan Sambu – Delitua (melewati Jln. Hj. Ani Idrus), Belawan – Amplas (melewati Jln. Thamrin), Marelan – Amplas (melewati Jln. Thamrin) dan lainlain.

Begitu juga sebaliknya, angkotangkot itu terjebak macat pada trayek Amplas – Sambu (melewati Jln. Sutomo), Titikuning – Sambu dan Delitua – Sambu (melewati Jln. Haryono MT) serta trayek angkot lainnya yang melintasi Jln. Haryono MT menuju Sambu.

Dedi Siregar, 35, pengemudi angkot trayek Sambu  Amplas berpendapat, jika pemerintah menambah armada kereta api untuk angkutan penumpang pesawat dengan rute Medan  Kualanamu dan sebaliknya, tentu harus memikirkan para pengguna jalan raya terutama sopir angkot.

Sebab, keberadaan lintasan kereta api yang memotong badan jalan raya menjadi penyebab kemacatan lalulintas. “Selama ini, rangkaian kereta api reguler yang melintas setiap hari telah menyebabkan kemacatan lalulintas. Apalagi kalau pemerintah menambah armada kereta api, maka kemacatan lalulintas akan semakin parah,” ujarnya.

Kalau kereta api sering melintas, maka kemacatan lalulintas akan terjadi berulangkali dan antrean kendaraan bermotor semakin panjang. Hal ini akan merugikan para sopir angkot yang mencari nafkah di jalan raya. Sebab, mereka akan membutuhkan bahan bakar minyak (BBM) lebih banyak lagi akibat sering terjebak macat.

Seharusnya, lanjut Dedi, Pemko Medan mempunyai perhitungan matang terkait rencana penambahan frekuensi kereta api yang melintas di inti kota. Apakah penambahan frekuensi kereta api tersebut memberikan dampak buruk terhadap kondisi lalulintas di jalan raya atau tidak.

“Kalau pemerintah mengoperasikan kereta api Medan – Kualanamu dan sebaliknya, maka pendapatan saya akan berkurang. Sebab biasanya saya bisa lima trip, maka terancam berkurang. Kemudian penggunaan BBM bertambah karena mesin terus menyala, tapi kendaraan tidak bergerak akibat macat. Saya juga membayar pajak kepada pemerintah, jadi pemerintah harus mempertimbangkannya,” kata Dedi.

Keluhan yang sama juga disampaikan Benny, 39, penduduk Jln. Prof. HM Yamin Medan. Karyawan swasta di salah satu perusahaan di Jln. Brigjen Katamso Medan ini mengkhawatirkan kemacatan yang semakin parah di Jln. Thamrin dan Jln. Hj. Ani Idrus.

“Hanya ada dua jalan alternatif yang saya lewati kalau pergi bekerja setiap hari. Yakni Jln. Thamrin dan Jln. Hj. Ani Idrus. Kalau kedua jalan itu mengalami kemacatan, praktis saya akan terlambat masuk kantor. Jadi, saya berharap pemerintah tidak hanya mengejar keuntungan dengan menambah frekuensi kereta api yang melintas tanpa memikirkan nasib pengguna jalan raya,” ujarnya.

Benny juga mengkhawatirkan semakin banyak pengendara kendaraan bermotor yang menerobos pintu lintasan kereta api (neng nong). Alasannya, mereka sudah terlambat masuk kantor akibat terjebak kemacatan di jalan raya.

“Bayangkan saja, kalau kereta api melintas setiap 10 menit sekali sejak pagi hingga petang. Kemacatan akibat kereta api pertama melintas belum tuntas, muncul kereta api kedua dan begitu seterusnya. Sepertinya hal ini tidak pernah dipikirkan oleh pemerintah. Padahal, lebih banyak masyarakat yang dirugikan daripada yang diuntungkan akibat penambahan armada kereta api tersebut,” demikian Benny.(cay/m25)
sumber: waspadamedan

This entry was posted in Berita. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *