BANDA ACEH TERMASUK PALING TINGGI RESIKO BENCANA

Banda Aceh, (Analisa). Berdasarkan hasil survei International Organization for Migration (IOM), Kota Banda Aceh termasuk yang paling tinggi risiko bencana dengan nilai indeks mencapai 111 poin.
“Apalagi, Banda Aceh dengan kondisi wilayah yang rendah, rawan angin, banjir dan tentunya rawan gempa dan tsunami,” Sekda Kota Banda Aceh, T Saifuddin, saat pertemuan Pemko Banda Aceh dengan IOM di Balai Praja, Kompleks Balaikota, Rabu (16/1).

Untuk mencegah tingginya risiko bencana itu, Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kota Banda Aceh akan bekerjasama dengan IOM dalam penguatan kapasitas pengurangan risiko bencana dan peningkatan ketahanan masyarakat.

“Pemko Banda Aceh berinisiatif membangun kerja sama dengan IOM terkait pengurangan resiko bencana, di mana nantinya akan dibuat sejumlah pelatihan yang melibatkan masyarakat agar tanggap bencana yang sewaktu-waktu bisa mengancam,” jelasnya.

Menurut Saifuddin, sebenarnya kota Banda Aceh merupakan daerah yang paling rawan bencana di Aceh. Karena itu, seharusnya Pemko Banda Aceh sejak awal membentuk BPBD. Namun, badan ini masih tergolong baru sehingga belum memiliki pengalaman banyak dalam mengatasi bencana.

Maka dengan adanya kerjasama ini dapat menguatkan kapasitas lembaga yang kemudian bersama-sama dengan lembaga sosial dan organisasi kemasyarakatan lainnya berkoordinasi dalam rangka membangun kesadaran masyarakat agar tanggap terhadap bencana.

“Pengalaman kita, saat musibah tsunami pada 2004, rasa kemanusiaan dari masyarakat yang paling menonjol dalam hal bantuan baik itu internasional, masyarakat luar Banda Aceh maupun masyarakat lokal, bukannya dari lembaga pemerintah yang ada di sini,” katanya.

Target kerja sama

Sementara itu, Program Manager IOM DRR Aceh, Conrad Clos, menyatakan, dengan adanya kerja sama ini diharapkan dapat mengurangi kerentanan dan meningkatkan ketahanan masyarakat dalam menghadapi bencana alam.

Pihaknya mengungkapkan, ada beberapa target yang ingin dicapai dari program ini, yakni menguatkan kapasitas BPBD Kota Banda Aceh hingga ke kecamatan untuk mengurangi risiko bencana yang searah dengan kebijakan, prioritas dan sistem nasional.

Selain itu, program ini juga menargetkan peningkatan kesiapsiagaan untuk respon yang efektif dan terkoordinasi di tingkat provinsi dan kota.

“Partisipasi aktif masyarakat dalam pengurangan risiko bencana yang komprehesif dan inklusif secara sosial melalui kesadaran yang lebih tinggi, kolaborasi dengan berbagai lembaga juga target penting yang ingin kita capai,” kata Conrad.

Untuk program pengurangan risiko bencana, IOM telah menempatkan koordinator distrik di daerah-daerah yang risiko bencananya paling tinggi, yakni Kabupaten Simeulu, Bener Meriah, Aceh Tenggara, Aceh Singkil dan Kota Banda Aceh. (rfl)
sumber: analisadaily

This entry was posted in Berita. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *