TAHANAN PIDUM BERDESAKAN, TAHANAN KORUPSI ISTIMEWA

Melihat Ruang Sel Sementara PN Medan

Sel tahanan sementara Pengadilan Negeri (PN) Medan setiap harinya penuh sesak dengan para tahanan perkara pidana umum (pidum) yang akan menjalani persidangan.

Farida Noris, Medan

Ruangan sel sementara berukuran lebih kurang 5 x 6 meter itu tampaknya tidak cukup besar untuk menampung seratusan lebih tahanan yang akan bersidang. Siang itu, Rabu (16/1) terik matahari seperti membakar kulit. Hiruk-pikuk di PN Medan mulai terlihat dari pukul 12.00 WIB. Setidaknya, ada 123 tahanan, di antaranya 116 tahanan laki-laki dan 7 tahanan perempuan dari berbagai macam perkara tindak pidana umum. Mereka sebelumnya dibawa dengan tiga bus tahanan milik Kejaksaan Negeri (Kejari) Medan dari Rutan (Rumah Tahanan) Tanjung Gusta Medan ke PN Medan.

Terlihat pula keluarga para terdakwa sudah menunggu kedatangan para tahanan di dekat bus tahanan tadi. Petugas Waltah (pengawal tahanan) bersama sejumlah petugas kepolisian pun langsung mengawal para tahanan memasuki Gedung PN Medan melalui pintu belakang. Disini, para petugas langsung menghitung ulang berapa jumlah tahanan yang mereka bawa. Setelah dihitung ulang, lalu pintu belakang Gedung PN Medan tersebut kembali dikunci.

“Kita cocokkan, jumlahnya pas apa nggak saat dibawa. Setelah hitung ulang, pintu belakang PN Medan ini kembali dikunci. Supaya nggak lari mereka. Kita juga mengantisipasi. Supaya kejadian sebelumnya tidak terulang lagi. Memang baru lima bulan belakangan ini pintu belakang PN Medan ini dikunci. Biasalah, kemaren kan sempat juga ada tahanan yang mencoba kabur,” ujar Pian salah seorang Waltah.

Pada ruangan sel sementara tahanan perempuan dipisahkan dengan tahanan laki-laki. Ruangan sel sementara laki-laki berada di bagian belakang gedung PN Medan, letaknya tidak jauh dengan ruangan sel sementara perempuan. Namun, kondisinya terlihat memprihatinkan, gelap, bau dan kotor. Pemandangan ini sudah terlihat lazim. Tak jarang, bila panas terik, para tahanan akan mengomel dengan para petugas Waltah. “Oii… panas ini, mau keluar aku,” ujar salah seorang tahanan di dalam jeruji besi sel tahanan sementara.

Didalam sel sementara PN Medan, juga terbagi beberapa ruangan yang tidak berpintu. Artinya, di dalam ruangan terdapat ruangan. Begitupun tampaknya para tahanan enggan memasuki ruangan pengap dan gelap itu. Mereka lebih memilih berdiri didekat jeruji besi sambil menjulurkan tangannya memanggil-manggil keluarga mereka yang menunggu diluar. Petugas menganggap hal itu wajar.

Disini keringat mulai mengucur. Para keluarga tahanan mulai mendekat ke ruang sel tahanan untuk sekedar melihat dan melepas rindu dengan kerabat mereka yang tersangkut kasus pidana. “Ini jumlah tahanannya masih mending. Biasanya lebih dari seratusan tahanan yang kita bawa sampai ruangan sel sementara ini penuh,” ujar Pian kembali.

Tak jarang, keluarga para tahanan membawa perbekalan seperti nasi atau makanan, baju, selimut, dan sebagainya untuk keluarga mereka yang ditahan. Dengan suara melengking, petugas Waltah pun memanggil tahanan yang dimaksud. Si keluarga langsung memasuki ruangan sel tahanan sementara yang dibatasi jeruji besi sembari memberikan perbekalan yang telah dipersiapkan sebelumnya. Beberapa dari mereka yang menjadi tahanan terkadang juga terlihat menangis.

“Sudah saya siapkan nasi untuk anak saya. Supaya dia ada makanan nanti sewaktu dibawa kembali ke Rutan. Hari ni dia tidak ada sidang. Tapi dia tetap dibawa ke Pengadilan ini. Saya pun tak ngerti, kenapa gak jadi sidang,” ujar Arif warga Jalan Glugur Medan yang anaknya berada di ruangan tanahan sementara.

Kata Arif, anaknya yang masih remaja itu tertangkap saat menggunakan sabu. “ Anak saya ini diajak temennya. Jadi tertangkap pas makai sabu. Saya cuma ngantar makanan untuk dia aja. Lepas rindu juga, karena kadang saya nggak sempat ke Rutan sana. Jadi saya lihat dia sebentar, gimana kondisinya. Habis itu saya pulang lagi,” kata Arif.

Lelaki tua ini juga tak bisa berkomentar banyak dengan ruangan tahanan sementara yang terlihat sempit. “Namanya dia menjadi tahanan. Memang capek juga nunggu para tahanan ini datangnya. Kita mesti rebutan sama keluarga tahanan lain untuk duluan masuk ke dalam. Kadang saya malas juga masuk ke dalam, ruangannya panas, padat orang di dalam. Paling kalau mau ngomong sama dia, ya nunggu dia keluar dibawa jaksa lah. Ataupun menunggu saat sidang akan digelar, baru lebih leluasa ngomong sama anak saya,” urai Arif yang datang sendiri.

Di depan ruangan sel sementara juga terlihat meja petugas Waltah dan petugas kepolisian yang berjaga. Setidaknya hari itu ada 20 orang petugas yang berjaga di depan sel tahanan sementara. Saat akan menjalani persidangan, para tahanan pun dijemput oleh jaksa di depan ruang bercat putih dan hijau itu.

Biasanya, jaksa lebih dahulu melapor pada petugas, tahanan mana yang akan dibawa bersidang. Setelah itu, waltah pun kembali memanggil nama tahanan yang tercantum di dalam berkas. Lagi-lagi lengkingan petugas hampir memekakkan telinga. Kemudian tahanan yang disebutkan namanya keluar dari ruangan itu dan diperintahkan memakai baju ‘pesakitan’ berwarna merah. Tak lupa, petugas juga memborgol tangan mereka.

Demikian pula setelah selesai bersidang, mereka akan dikembalikan jaksa ke ruang tahanan sementara itu. Bagi tahanan yang tidak bersidang, akan menunggu setelah semua tahanan lainnya selesai menjalani persidangan. Mau tak mau, hingga sore mereka harus berada di ruang sel sementara itu untuk selanjutnya dibawa kembali ke Rutan Tanjung Gusta Medan.

emandangan serupa juga terlihat saat para petugas membawa mereka memasuki bus tahanan. Para keluarga tahanan pun menunggu hingga bus menjauh meninggalkan Gedung PN Medan.

Begitupun, tahanan tindak pidana korupsi (tipikor) tampaknya lebih beruntung. Sebab gerak-gerik mereka lebih leluasa dan tak begitu dijaga ketat oleh petugas Waltah maupun jaksa. Bahkan para tahanan korupsi ini bebas menggunakan handphone dan bercanda tawa dengan keluarga mereka. Para tahanan tipikor tak satupun terlihat mengenakan pakaian tahanan berwarna merah sebagaimana dikenakan oleh tahanan Pidum.

Terlebih lagi berjalan dengan kedua tangan diborgol. Bus yang membawa mereka ke Rutan Tanjung Gusta Medan juga berbeda dengan tahanan pidum lainnya. Sebut saja terdakwa perkara korupsi di Dinas PU Deliserdang, di antaranya Kadis PU Deliserdang Faisal dan Bendahara Dinas PU Deliserdang Elvian. Kedua pesakitan ini bahkan bebas berlalu lalang di Pengadilan tanpa mendapat pengawalan ketat baik dari jaksa maupun Waltah. (far)
sumber: hariansumutpos

This entry was posted in Berita. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *