PETANI DIIMBAU WASPADAI HAMA PANTOEA PADA JAGUNG

Sumber dari Benih Impor

MedanBisnis –Medan. Petani jagung di Sumatera Utara (Sumut) harus mewaspadai serangan hama Panteao stewartii. Hama ini menyerang tanaman jagung, terutama jagung manis pada seluruh stadia tanaman, mulai pembibitan, pembungaan dan pertumbuhan vegetatif. Seragan hama ini bisa menyebabkan kerugian petani 40 – 100 persen.
“Sampai tahun 2006 Pantoea stewartii termasuk dalam daftar Organisme Pengganggu Tumbuhan Karantina (OPT) A1.

Artinya kita harus mewaspadainya,”  kata Kepala Seksi Pengamatan dan Permalan OPT Bencana alam, Balai Proteksi Tanaman Pangan dan Hortikultura (BPTPH) Sumut, Ruth Kristina Tarigan kepada MedanBisnis, Rabu (16/1) di Medan.

Ruth menjelaskan, serangan hama ini cukup mengkhawatirkan karena menyerang di bagian tanaman yang terinfeksi yaitu buah, kuncup bunga, daun, akar, benih, batang dan seluruh bagian tanaman. Kerugian akibat OPT ini berkisar 40 – 100%. Ketika infeksi terjadi pada tahap daun jagung belum berjumlah 5 helai, kerugian berkisar 15-35% dan stadium 7-9-daun sekitar 3-15%.

Dikatakan Ruth, pertama kali dilaporkan pada tahun 1897 di New York dan berpotensi menimbulkan kerugian besar selama ± 100 tahun jika tidak diantsipasi segera. Pada tahun 1999 menyerang di 41 lokasi di 14 negara dan di tahun 2000  menyerang di 149 lokasi di 27 negara. Di antaranya Eropa (Austria), Amerika (Bolivia, Brazil, Canada, Costa Rica, Guyana, Mexico, Peru, Puerto Rica, USA), Asia (Cina, India, India, Malaysia, Thailand, Vietnam).

Dikatakannya, Panteao stewartii merupakan bakteri OPTK A1 (OPT yang dilaporkan belum terdapat di wilayah Indonesia) pada tanaman jagung yang sudah masuk ke dalam wilayah Indonesia. Berdasarkan hasil kegiatan pemantauan daerah sebar OPTK 2012, Panteao stewartii telah tersebar di Sumatera Barat, Lampung, Jawa Tengah, Jawa Timur, Jawa Barat, Banten dan Sulawesi Selatan.

Panteao stewartii, merupakan patogen tular benih, selain dapat ditularkan melalui benih juga dapat menyebar melalui perantara vektor. Bakteri patogen ini mampu hidup pada benih jagung selama 200 -250 hari yang disimpan pada suhu 8-15°C.

Menurutnya, munculnya penyakit ini pada jagung, tidak terlepas dari impor benih baik untuk produksi maupun plasma nutfah untuk perakitan varietas-varietas baru, sehingga memungkinkan tersebarnya patogen. “Karena benih merupakan media pembawa yang paling cocok untuk menyebar melintasi batasan alaminya,” ujarnya.

Untuk mengetahui tanaman jagung sudah diserang atau belum bisa dilihat jika gejala yang muncul seperti layu pada bibit, terutama pada tanaman berdaun kurang dari 5 helai.

Tanaman menjadi layu, kerdil dengan adanya garis hijau pucat kekuningan yang memanjang pada permukaan daun, dan hawar daun tua pada fase vegetatif dan generatif. Gejala layu terjadi setelah munculnya malai. Pada daun berwarna putih memanjang searah tulang daun dan pinggirnya mengalami nekrosis.

Dikatakannya, pada fase fase serangan pertama terjadi saat perumbuhan 2-5 helai daun, bakteri memperbanyak diri dalam pembuluh xilem daun dan batang. Pada tanaman muda terjadi water soaking (luka kebasahan) yang panjang terdapat di sepanjang daun sehingga daun memperlihatkan garis hijau pucat sampai kuning.

Beberapa langkah yang harus dilakukan di antaranya dengan memperhatikan sanitasi lingkungan, seperti mengumpulkan sisa-sisa tanaman dan gulma rerumputan kemudian membakarnya. Membersihkan tanaman yang terserang agar tidak menjadi sumber penyakit dan memutus siklus hidup penyakit.(dewantoro)
sumber: medanbisnisdaily

This entry was posted in Berita, Berita dan Informasi Utk Takasima, Informasi AgriBisnis, Informasi Untuk Kab. Karo. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *