KEDALAMAN 126 METER DI SILINDA, AIR MENGALIR SAMPAI JAUH KE PERMUKIMAN WARGA

SILINDA (Berita): Selama puluhan tahun masyarakat Desa Tarean, Kecamatan Silinda, Kabupaten Serdang Bedagai, Sumatera Utara mendambakan air sebagai kebutuhan mandi,cuci dan kakus (MCK) dapat mengalir sampai ke rumah tanpa harus membelinya dari pedagang air ataupun menampung air hujan.

Kini, harapan itu dapat terwujud setelah selesai dibangunnya sumur bor atau pompanisasi yang digali persis di belakang Kantor Camat Silinda pada tahun 2011.Menurut Camat Silinda, Drs. Haparuddin Saragih saat ditemui di kantornya, Senin (14/1) mengatakan, letak geografis atau kontur dataran di Kecamatan Silinda yang berbukit dengan ketinggian mencapai 700 Meter diatas permukaan laut (dpl) pada wilayah mereka tentunya secara teknis sulit untuk membuat sumur ataupun pengeboran biasa atau pada umumnya di rumah warga.

“Untuk mengatasi kesulitan masyarakat untuk mendapatkan air sebagai kebutuhan sehari hari, Pemerintah Kabupaten Serdang Bedagai bekerjasama dengan Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (Kemen. ESDM) melakukan survey memastikan pada kedalaman berapa air dapat dipompa ke atas dengan menggunakan mesin (pompanisasi),” terangnya.

Setelah dilakukan survey dan hasil pemotretan dibawah tanah oleh Kementerian ESDM  ternyata  ketebalan tanah mencapai 35 meter, dan dibawahnya batu Padas setebal 80 meter dan terakhir batu Andesit. Jika menggunakan alat pengeboran biasa untuk menembus lapisan tanah dan batu tersebut dipastikan tidak akan mampu. Maka, alat yang digunakan yang biasa dipakai untuk mengebor minyak dari Kementerian tersebut.

“Bayangkan saja, dalam satu hari untuk menembus lapisan batu Andesit   hanya mampu mencapai 40 cm. Menyiasati kondisi demikian maka hanya dengan menggunakan alat khusus mengebor  minyak yang mampu menembus lapisan kulit bumi hingga kedalaman 126 Meter. Setelah dipastikan sumber air mencukupi, selanjutnya  disedot dengan menggunakan mesin pompa (pompanisasi), dimana jenis pipa yang digunakan galvanis berdiameter 6 inchi.”

Fasilitas untuk mengaktivkan mesin pompa adalah mesin diesel yang mampu menghasilkan energi listrik sebesar  10 ribu kilo watt jam (KW-h). Maka, pemerintah juga membangun ruang atau kamar mesin dan tangki penampung air berukuran 5 ribu liter.  “Air yang mampu dikucurkan dalam setiap detik maksimalnya adalah sebanyak 4 liter, dan biasanya setenganya saja sudah cukup untuk memenuhi kebutuhan 24 kepala keluarga (KK) yang ada di desa ini,”  ujar Haparuddin.

Secara tekhnis, setiap hari mesin pompa dinyalakan setiap harinya mulai pukul 17:00 sampai dengan  21:00  WIB. Rata rata dinyalakan dua sampai empat jam, dan itupun sudah mencukupi masyarakat yang menerima manfaat air sumur bor untuk kebutuhan sehari hari. Bagi masyarakat yang ingin menyambungkan air ke rumah, mereka memasang instalasi pipanya dengan biaya sendiri.

Selama ini, pompanisasi tersebut belum pernah mengalami kendala ataupun kerusakan serius. Bahkan, dengan memiliki mesin generator untuk pembangkit listrik mesin pompa  masyarakat dan pemerintah kecamatan merasa terbantu dengan dimanfaatkannya enerji listrik untuk kegiatan mereka jika listrik PLN mati.”Generatornya kemarin kita manfaatkan juga untuk proses e-KTP sewaktu listrik PLN mati. Dan ini sangat membantu sekali, jika tidak ada entah bagaimana mengatasinya.” Tandas Haparuddin.

Dalam menjalankan operasional sumur bor, pemerintah desa setempat mempercayakan kepada salah seorang warganya untuk mengoperasionalkan sehari hari. Maka, untuk mengganti biaya bahan bakar minyak (BBM) dan perawatan mesin dan mengganti oli, masyarakat dikutip iuran sebesar Rp 15 ribu setiap bulannya.

Lokasi pembangunan sumur bor yang persis berada di belakang Kantor Camat Silinda sangat strategis, karena jalan menuju kantor tersebut melalui permukiman masyarakat yang selama ini membutuhkan air sebagai kebutuhan sehari hari.Salah seorang warga, Parentah Sipayung ,60, yang rumahnya berada sekitar 500 meter dari kantor camat mengaku sangat senang setelah pemerintah membangun sumur bor tersebut.

“Sekarang untuk memperoleh air untuk kebutuhan sehari hari sudah lebih mudah dan praktis. Air yang berasal dari sumur bor setiap harinya ditampung dalam bak ataupun wadah lainnya dapat dimanfaatkan masyarakat sekitar desa kami. Jika sebelum ada sumur bor, untuk memperolehnya guna keperluan sehari hari kami harus membeli dari pedagang air, dimana dalam setiap  rumah tangga memerlukan 8 dirigen ukuran 35 liter dengan harga Rp 2 ribu setiap dirigen. Dalam sehari terkadang kami membutuhkan air mencapai 8 dirigen,” ujarnya.

Kini, sambungnya lagi, setelah dibangun sumur bor oleh pemerintah, warga merasa senang dan bangga kepada pemerintah, khususnya Pemerintah Kabupaten Serdang Bedagai (Pemkab Sergai) yang telah memfasilitasi pembangunan sumur bor tersebut dengan Kemeneterian ESDM, bahkan telah berfungsi dengan baik sehingga manfaatnya sangat dirasakan masyarakat.”Kami mengucapkan terimaksih kepada Bapak Bupati Sergai, HT. Erry Nuradi yang telah bersusah payah membangun fasilitas sumur bor untuk kepentingan masyarakat di desa kami,”  tandas Parentah. (anw)
sumber: beritasore

This entry was posted in Berita. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *