SOPIR BAYAR UANG JALUR TEMBAK

ASDP janji usut uang pungutan tersebut.

BANDAR LAMPUNG – Hingga Senin (14/1) pagi ini ratusan kendaraan masih mengantre untuk diseberangkan ke Pelabuhan Merak, Provinsi Banten. Di Dermaga I, II, dan III Pelabuhan Bakauheni masih ada sedikitnya 600 truk yang antre untuk diseberangkan ke Merak.

Untuk mengatasi itu, sejumlah sopir truk yang antre di Pelabuhan Bakauheni memilih menggunakan jalur tembak dengan membayar antara Rp 100.000-300.000 untuk lebih cepat menyeberang ke Pelabuhan Merak, Banten, karena antrean kendaraan sangat panjang.

Salah seorang sopir truk tronton pengangkut barang dari Medan, Ganap, di Dermaga III Pelabuhan Bakuheni, mengaku membayar jalur tembak Rp 300.000 untuk dapat menyeberang lebih dulu, meski tidak mengangkut sembako yang menjadi prioritas penyeberangan. Menurutnya, memang jalur tembak itu tidak dipaksakan, namun para petugas yang menawarkan untuk menggunakannya.

“Kalau bayar Rp 100.000 masih antre, tapi tidak lama, sedangkan bayar Rp 300.000 dikawal sampai masuk ke kapal feri,” katanya.

Namun, Manajer Operasional PT Angkutan Sungai Danau dan Penyeberangan (ASDP) Indonesia Ferry cabang Bakauheni Heru Purwanto Senin pagi ini berjanji akan menyelidiki soal adanya pungutan seperti yang dikeluhkan para sopir truk di Pelabuhan Bakauheni.

Ia juga menyebutkan pungutan terhadap para sopir truk di Pelabuhan Bakauheni itu bukan dilakukan pihaknya dan pengelola pelabuhan. “Kami sekarang sedang menyelidiki siapa yang melakukan pungutan itu,” ujarnya.

Ditanya soal antrean kendaraan, ia mengatakan, penumpukan truk tujuan Pulau Jawa di pelabuhan penyeberangan setempat, Senin pagi, mulai berkurang dibanding sehari sebelumnya. “Meskipun saat ini masih terdapat ratusan kendaraan yang mengantre untuk diseberangkan ke Pelabuhan Merak, Banten,” katanya.

Menurutnya,  jumlah kapal yang dioperasikan saat ini sudah mencapai 26 unit, atau jauh lebih banyak dibandingkan tiga hari lalu yang hanya 16 kapal. Ia mengatakan jumlah kapal yang beroperasi diperbanyak untuk mengurangi penumpukan kendaraan di Pelabuhan Bakauheni dan Merak, sehubungan kondisi cuaca di perairan Selat Sunda mulai membaik. “Kondisi cuaca dan gelombang masih cukup besar, tetapi tidak lagi seperti sebelumnya. Jadi, aman untuk kapal berlayar,” katanya.

Direktur Operasi PT ASDP Indonesia Ferry Prasetyo kepada SH, Senin pagi ini, menjelaskan pascapembukaan Dermaga IV dan V, PT ASDP Indonesia Ferry menambah jumlah kapal feri yang beroperasi untuk mengatasi antrean kendaraan yang mengular di Pelabuhan Merak karena penundaan pengangkutan kapal akibat cuaca ekstrem.

“Sejak Sabtu (12/1) Dermaga IV dan V memang sudah kami buka, karenanya kami tambah jumlah kapal kemarin. Memang masih terjadi antrean truk ekspedisi yang akan menyeberang ke Bakauheni, namun sejak Senin (14/1) sekitar pukul 00.00 WIB antrean sudah mulai terurai. Bahkan, pagi ini sudah tidak ada antrean. Bisa dicek sendiri ke lapangan,” dia mengklaim.

Diungkapkan Prasetyo, pascadibukanya Dermaga IV dan V dan membaiknya kondisi cuaca, ASDP menambah jumlah kapal yang beroperasi dari sebelumnya hanya 18 kapal. Semalam, sempat dioperasikan 29 kapal, namun sekarang sudah tinggal 26 kapal yang beroperasi.

Capai 12 Km

Hingga Minggu sore, ribuan truk ekspedisi yang akan menuju Pulau Sumatera masih mengantre di Pelabuhan Merak-Banten hingga KM 96 di jalan tol Tangerang-Merak.

Bahkan, panjang antrean truk diperkirakan mencapai 9 kilometer. Selama cuaca buruk antrean truk di Pelabuhan Merak yang akan menuju Sumatera mencapai 2.000 truk ekspedisi. Adapun truk ekspedisi itu mengangkut kebutuhan sandang, pangan, dan sembako untuk sejumlah daerah di Sumatera.

Sebelumnya, antrean truk ini terjadi sejak Jumat (11/01) akibat lima dermaga yang ada di Pelabuhan Merak, dua dermaga, yaitu Dermaga IV dan V sempat ditutup sementara oleh PT ASDP Indonesia Ferry, Cabang Utama Merak, karena kapal tidak bisa bersandar. Akibat penutupan itu, dari rata-rata 26-28 kapal yang beroperasi untuk lima dermaga, hanya 22-23 kapal saja yang bisa dioperasikan.

Humas PT ASDP Indonesia Ferry, Cabang Utama Merak, Mario Sardadi mengatakan, saat cuaca buruk seperti ini, yang beroperasi hanya 26 kapal saja. Dari 26 kapal yang beroperasi itu juga mengalami kemunduran waktu kedatangan dan kemunduran waktu bongkar muat.

“Saat cuaca normal, waktu penyeberangan kapal dan bongkar muat rata-rata hanya tiga jam. Namun saat cuaca buruk ini, waktu penyeberangan kapal dan bongkar muat bisa sampai 4-5 jam,” jelasnya.

Di bagian lain, Humas PT Marga Mandala Sakti (PT MMS) selaku pengelola jalan tol Tangerang-Merak, Rahmatullah, mengatakan antrean truk yang terjadi ini jumlahnya naik turun. Untuk itu, sistem pengaturan arus lalu lintas di jalan tol akan disesuaikan dengan panjang antrean truk.

“Kalau antreannya terus memanjang, kami menutup gerbang tol Cilegon Barat dan dijadikan kantong parkir sehingga khusus mobil pribadi dan bus akan dikeluarkan ke tol Cilegon Timur,” katanya singkat.

Dari Ambon dilaporkan, Kantor Syahbandar dan Otoritas Pelabuhan Kelas I Ambon mengeluarkan larangan berlayar bagi kapal rakyat dan kapal berukuran kecil, sehubungan kondisi tinggi gelombang hampir seluruh perairan di Maluku antara dua hingga lima meter.

“Kami telah mengeluarkan larangan berlayar bagi kapal rakyat serta kapal berukuran kecil untuk menunda berlayar, karena tinggi gelombang semua perairan di Maluku sangat tinggi antara dua hingga lima meter sehingga sangat membahayakan,” kata Kepala Kantor Syahbandar dan Otoritas Pelabuhan Kelas I Ambon, Capt Ali Ibrahim, di Ambon, Senin pagi ini.

Larangan berlayar yang dikeluarkan tersebut mulai berlaku sepekan sejak 10-15 Januari 2013, namun tidak tertutup kemungkinan diperpanjang tergantung pantauan dan analisis kondisi cuaca terkini. (Ant/Ellen Piri)
sumber : shnews

This entry was posted in Berita. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *