KNIA BEROPERASI, MEDAN TAMBAH MACAT

MEDAN (Waspada): Tidak lama lagi Bandara Kualanamu atau Kualanamu  Internasional Airport (KNIA) akan beroperasi di kawasan Deliserdang. Pemerintah  memprediksi bandara internasional yang menjadi pengganti Polonia Medan ini  akan beroperasi pada Maret 2013.

Selain itu, pemerintah juga menyiapkan jalur khusus kereta api Medan –  Kualanamu. Tujuannya, agar akses penumpang pesawat dari Medan menuju  Bandara Kualanamu atau sebaliknya, menjadi lebih mudah.

Sementara, jalur transportasi darat lainnya masih terkendala karena belum ada  akses jalan tol. Sementara jalan arteri belum berfungsi dengan baik.

Sayangnya, pihak pemerintah terutama PT. Kereta Api Indonesia (KAI) Divre I  Sumatera Utara dan Pemko Medan, terkesan tidak memperhitungkan dampak  negatif dari pengoperasian kereta api khusus Medan – Bandara Kualanamu tersebut.

Saat ini, para pengguna jalan di Kota Medan sangat resah. Pasalnya,   pengoperasian kereta api khusus Medan – Bandara Kualanamu akan menambah  kemacatan lalulintas di ibukota Provinsi Sumatera Utara ini.

Kekhawatiran para pengguna jalan bukan tidak beralasan. Mereka telah  memperhitungkan bahwa pengoperasian Bandara Kualanamu akan berdampak  kepada meningkatnya frekuensi kereta api yang melintas di Jln. Haryono MT, Jln. Hj. Ani Idrus, Jln. Mahkamah, Jln. Sisingamangaraja, Jln. Sutomo dan Jln.  Thamrin.

Selama ini, kereta api yang melintas di kawasan tersebut, telah menjadi penyebab  kemacatan lalulintas. Bahkan, pada siang dan sore hari, kemacatan lalulintas  semakin parah. Sebab, kereta api melintas di saat jam pulang sekolah dan jam kerja berakhir.

Jika Bandara Kualanamu beroperasi, maka frekuensi kereta api yang melintas di  kawasan padat lalulintas itu semakin meningkat. Diperkirakan setiap 20 menit  rangkaian kereta api akan melintas. Baik kereta KA penumpang regular, KA  pengangkut barang dan KA angkutan penumpang pesawat ke KNIA.

Pantauan Waspada di lapangan selama sepekan terakhir, setiap kereta api  melintas di Jln. Hj. Ani Idrus dan Jln. Sisingamangaraja, terjadi antrean  kendaraan bermotor yang cukup panjang.

Di Jln. Sisingamangaraja, antrean kendaraan bemotor bisa mencapai ruas Jln.  Cirebon, bahkan hingga persimpangan Jln. Haryono MT.

Begitu juga di Jln. Hj. Ani Idrus, antrean kendaraan bermotor bisa mencapai  persimpangan Jln. Sutomo. Sementara, di Jln. Sutomo juga terdapat lintasan  kereta api.

Diprediksi, dalam satu hari rangkaian kereta api akan melintas sebanyak 56 kali.  Dengan rincian, KA Medan tujuan Tanjung Balai dan R.  Prapat melalui KA Putri  Deli dan Sri Bilah (PP) serta Sirek Medan tujuan P. Siantar 16 kali melintas.

Kemudian,  KA angkutan kota (komuter) KRDI Sri Lelawangsa Medan tujuan Binjai  dan T. Tinggi 14 kali melintas. Ditambah KA Medan  Bandara Kualanamu pergi  pulang (PP) 26 kali melintas.

Ini tidak termasuk rangkaian kereta api barang mengangkut crude palm oil  (CPO) dan komoditi non migas yang melintas di Jln. Haryono MT, Jln. Hj. Ani  Idrus, Jln. Mahkamah, Jln. Sisingamangaraja, Jln. Sutomo dan Jln. Thamrin.

Hasri, Manajer Humas PT. KAI Divre I Sumatera Utara ketika dikonfirmasi  Waspada mengatakan, KA Medan  Kualanamu akan ditangani langsung PT.  Railink, yaitu anak perusahaan PT KAI yang bekerjasama dengan PT Angkasa  Pura (AP) II.

“Bakal ada penjelasan dari PT Railink, apalagi sarana pendukung city check in  tiket, tempat istirahat crew dan perparkiran di Lapangan Merdeka akan selesai  dalam waktu dekat,” ujarnya.

Berdasarkan Undangundang No. 23/2007, kata Hasri, sebenarnya PT KAI hanya  sebagai operator, sedangkan regulator tanggungjawab pemerintah. “Jadi harus  singkron PT KAI dengan pemerintah,” kata dia.

Dengan bertambahnya armada kereta api, lanjut Hasri, sudah pasti bakal terjadi  kemacatan lalulintas.  “Untuk mencegah kemacatan ini, seharusnya regulator  mempertimbangkan pembangunan/penggunaan jalan layang (fly over) atau  under pass (lintasan bawah tanah),” ujarnya.

Sementara itu, Menteri BUMN Dahlan Iskan tidak membantah kawasan Medan  bakal bertambah macat seiring beroperasinya kereta api Medan  Kualanamu.

“Pemko Medan harus mencari solusi untuk mengatasi kemacatan. Tidak mungkin  operasional KA dihentikan, karena angkutan massal itu diminati penumpang.

“Jadi, harus dicari solusi untuk mengatasi kemacatan, bukan menghentikan ope  rasional kereta api,” ujar Dahlan kepada wartawan di VIP room Bandara Polonia  Medan menjelang bertolak ke Jakarta, Sabtu (12/1).

Forum lalulintas

Di tempat terpisah, Kasat Lantas Polresta Medan Kompol M. Risya Mustario  menjelaskan, potensi kemacatan lalulintas semakin bertambah seiring  meningkatnya frekuensi perjalanan kereta api.

“Potensi kemacatan arus lalulintas akan meningkat bila rute baru kereta api dari  Medan ke Bandara Kualanamu mulai beroperasi. Karena itu, dibutuhkan solusi  untuk mengantisipasi kemacatan tersebut,” jelas Kompol Risya kepada Waspada,  Rabu (9/1).

Namun, lanjut Risya, pihaknya akan membawa permasalahan tersebut ke forum  lalulintas dengan mengundang pihak PT Kereta Api Indonesia agar menjadwal  ulang perjalanan kereta api terutama pada jamjam sibuk (rush hours).

Dari pembahasan di forum lalulintas tersebut, diharapkan ada solusi yang terbaik  untuk mengantisipasi terjadi kemacatan lalulintas. Bagaimana mekanisme yang  dibuat sehingga rute baru kereta api tidak menambah kemacatan.

Menurut Risya, dengan kondisi perlalulintasan yang ada sekarang, terutama di  sejumlah lokasi perlintasan kereta api Kota Medan, sering terjadi kemacatan  lalulintas.

Apalagi beberapa persimpangan lampu merah berada dekat dengan lintasan  kereta api.

“Lihat saja di persimpangan Jln. Asia – Jln. Sutomo, Jln. Haryono MT, Jln. Hj Ani  Idrus, Jln. Perintis Kemerdekaan – Jln. Gaharu, Jln. Prof HM Yamin – Jln. Gaharu  dan Jln. Bambu II – Jln. Gaharu simpang Glugur. Sering terjadi kemacatan  lalulintas di kawasan itu terutama saat kereta api melintas pada jamjam sibuk,”  sebut Risya.

Dengan kondisi seperti ini, personel Sat Lantas Polresta Medan dibantu Dinas  Perhubungan sudah semaksimal mungkin mengatur arus lalulintas. Namun  bertambahnya frekuensi kereta api yang melintas,  akan membuat kemacatan  bertambah parah sehingga penanganannya semakin sulit..

Under Pass

Sementara itu, Wali Kota Medan Rahudman Harahap mengatakan, Pemko segera  membangun under pass (lintasan bawah tanah) untuk mengatasi kemacatan lalu  lintas karena bertambahnya frekuensi kereta api yang melintasi di inti Kota  Medan.

“ Kita sudah sampaikan usulan ini kepada Wakil Presiden agar setiap badan jalan  yang terdapat lintasan KA agar segera dibuat jalur alternatif seperti under pass  atau jalan layang, sehingga dapat mengantisipasi kemacatan,” terang Rahudman,  Jumat (11/1)

Beberapa ruas jalan yang akan dibangun under pass seperti Jln. Hj. Ani Idrus, Jln.  Mahkamah, Jln. Sisingamangaraja dan Jln. Bakaran Batu. Selain itu, Pemko  Medan akan  melakukan penataan di kawasan pinggiran rel.

“Kita ingin pinggiran rel tidak kumuh lagi, terutama keberadaan ternak kaki  empat segera dibersihkan.

Jadi, ketika kereta api melintas, maka pemukiman penduduk di Medan tidak ada  lagi yang kumuh,” jelas Rahudman kepada Staf Ahli Menteri Bidang Lingkungan  Kementerian Perhubungan RI Wendy Aritenang dan Kepala Pusat Kajian Kemitraan dan Pelayanan Jasa Transportasi saat mengekspos program Indonesia  Suistainable Urban Transport Initiative di ruang rapat Balai Kota  Medan.(m32/h04/m50)
sumber: waspadamedan

This entry was posted in Berita. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *