ANTREAN DI MERAK CAPAI 7 KILOMETER

Hujan deras disertai angin masih akan melanda Merak.

MERAK – Cuaca buruk kembali melanda Pelabuhan Merak, Provinsi Banten, Sabtu (12/1) pagi. Akibatnya, antrean kendaraan yang akan menyeberang mengular hingga 7 kilometer (km) dimulai dari Km 92 di Cilegon Barat. Bagi kendaraan yang mencoba menghindari kemacetan untuk kendaraan jenis sedan atau minibus dapat keluar di tol Cilegon Timur Km 87.

Dari Pelabuhan Bakauheni dilaporkan, hingga Jumat (11/1) malam antrean truk, baik di lintas tengah, maupun lintas timur Sumatera mengular hingga lebih dari 5 km dari pintu masuk Pelabuhan Bakauheni.

Ribuan truk juga memenuhi semua areal parkir di pelabuhan penyeberangan itu. Antrean kendaraan tersebut diperkirakan terus bertambah. Pasalnya memasuki akhir pekan jumlah kendaraan yang akan menyeberang mengalami peningkatan.
Kondisi demikian membuat para sopir truk angkutan kian kelimpungan. Itu karena mereka akan terjebak dalam antrean yang lebih lama sehingga membuat biaya perjalanan membengkak. “Kalau sudah macet seperti ini kita hanya bisa pasrah. Kalau nanti kita kekurangan biaya operasional terpaksa meminjam kepada pengurus,” ungkap Buang, sopir truk angkutan barang tujuan Jakarta kepada SH, semalam.

Direktur Operasi PT Angkutan Sungai Danau dan Penyeberangan (ASDP) Indonesia Ferry, Prasetyo kepada SH, Sabtu pagi, mengimbau kepada calon pengguna jasa penyeberangan, khususnya dari Pelabuhan Merak agar menunda keberangkatan dahulu menyusul kondisi cuaca yang masih ekstrem.
“Sebaiknya memang ditunda dulu saja. Kita kan tidak bisa melawan alam. Percuma juga, di Pelabuhan Bakauheni pun kapal akan sulit untuk bersandar,” katanya.

Dia menyebutkan, cuaca masih sangat ekstrem, kecepatan angin di atas 30 knot per jam, ketinggian gelombang pun masih di atas 3 meter. ”Kami tidak bisa memberangkatkan kapal karena cuaca yang tidak memungkinkan,” katanya.

Menurutnya, sejak pukul 00.00 WIB kondisi cuaca sudah sangat ekstrem. “Dermaga 4 dan 5 pun belum bisa kami buka, apalagi angin kencang kerap datang mendadak,” ujar Prasetyo.

Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) memprakirakan selama 24 jam ke depan tinggi gelombang di perairan Selat Sunda bagian selatan maksimum 6 meter. Prakirawan Stasiun Meteorologi Maritim Klas IV Lampung Rintiana di Bandar Lampung, Sabtu pagi ini mengatakan bahwa peringatan cuaca buruk di perairan itu mengingat tinggi gelombang maksimum mencapai 6 meter.

Peringatan cuaca buruk juga terjadi di wilayah perairan barat Lampung dan Samudra Hindia barat Lampung dengan tinggi gelombang maksimum masing-masing mencapai 6 dan 5 meter.

Selain itu cuaca buruk juga terjadi di perairan Selat Sunda bagian utara dan perairan pantai timur Lampung dengan tinggi gelombang maksimum 4 meter dan perairan timur Lampung dengan tinggi gelombang 2,5 meter.

Prakiraan cuaca dan gelombang laut itu berlaku 24 jam, mulai 11 Januari pukul 07.00 WIB hingga 12 Januari 2013 pukul 07.00 WIB. Kondisi cuaca di perairan Selat Sunda bagian utara (Merak-Bakuheni) hujan, sedangkan arah angin berembus dari barat ke barat laut dengan kecepatan 05-20 knot.

Di perairan Selat Sunda bagian selatan, angin berembus ke barat laut dengan kecepatan 10-35 knot dan cuaca hujan. Di perairan pantai barat Lampung, angin berembus dari barat ke barat laut dengan kecepatan 10-35 knot dan cuaca hujan, kata Rintiana. Prakiraan cuaca di perairan pantai timur Lampung, angin berembus ke barat laut dengan kecepatan 05-20 knot, cuaca hujan.

Tambah 20 Kapal

Sebelumnya, Manajer Operasi PT ASDP Indonesia Fery Cabang Bakauheni, Heru Purwanto, Jumat (11/1) siang mengatakan, meski PT ASDP Indonesia Ferry sudah menambah kapal yang beroperasi, tetapi penumpukan truk di Pelabuhan Bakauheni, Lampung Selatan, Jumat (11/1) terus berlanjut.

Pihaknya mengoperasikan 20 kapal sudah bertambah dibandingkan sehari sebelumnya yang hanya 16 kapal. Penambahan kapal menyusul cuaca di perairan Selat Sunda mulai agak membaik sehingga kapal-kapal berukuran sedang yang sebelumnya setop operasi sudah bisa kembali berlayar.

“Sudah ada penambahan kapal dari 16 menjadi 20 kapal, menyusul mulai berkurangnya gelombang dan kecepatan angin di Pelabuhan Selat Sunda juga mulai turun dari 40 knot menjadi 10-20 knot,” ujarnya.

Dia mengakui, meski sudah ada penambahan kapal tapi belum mampu mengatasi penumpukan truk di Pelabuhan Bakauheni. Itu karena waktu tempuh kapal dan bongkar muat lebih lama dari normalnya akibat tingginya gelombang.

“Dalam kondisi cuaca seperti ini, kami lebih mengutamakan keselamatan pelayaran, di antaranya dengan hanya mengoperasikan kapal yang aman berlayar dengan kondisi cuaca seperti sekarang,” ungkapnya.

Heru tidak bisa memastikan kapan penumpukan truk bisa teratasi. Itu karena kelancaran pelayaran tergantung perkembangan cuaca di perairan yang menghubungkan Pulau Sumatera dengan Jawa ini.

Apalagi karena adanya gelombang tinggi, dua dermaga di masing-masing Pelabuhan Bakauheni dan Merak juga ditutup sementara. Kendati begitu, Heru menjamin kendaraan pribadi, bus, dan truk pengangkut bahan pokok tetap diutamakan untuk diseberangkan lebih dulu. (Syafnijal Datuk Sinaro/Ant)
sumber : shnews

This entry was posted in Berita. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *