PROTES GALIAN TANAH MERAH, SERATUSAN PERNANDEN DIRIKAN POSKO DI BADAN JALAN PATUMBAK

IMANUEL SITEPU. PATUMBAK. seratusan nande-nande warga Desa Sigaragara dan Desa Patumbak Kampung (Kec. Patumbak, Deliserdang) mengadakan aksi protes terhadap armada truk yang melintas. Mereka mendirikan tenda di tengah jalan.

Aksi kaum ibu yang sudah berlangsung selama 3 hari ini, juga terkait dengan beroperasinya galian tanah merah di PTPN II Kebun Patumbak yang sudah berlangsung sejak bertahun-tahun. Menurut mereka, akibat beroperasinya galian tanah merah itu, jalan jadi rusak dan keluarga mereka setiap hari menghirup debu jalanan.
Pantauan Sora Sirulo di lokasi [Senin 7/1], untuk melepaskan kebosanan, para ibu membuat dapur umum dan hiburan organ tunggal di tengah jalan. Sambil bernyanyi dan menari, warga mengkritik kinerja pemerintah yang tidak pernah tegas menindak¬† galian tanah merah di lahan PTPN Kebun Patumbak. Sebagai bentuk kekesalan mereka terhadap armada pengangkut tanah merah yang setiap hari melintas lalu-lalang, para nande membuat sejumlah poster berbunyi: “Sudah bertahun-tahun kami makan abu, maka kami minta agar aktifitas galian tanah merah diberhentikan”. Ada juga poster “Patumbakku malang Patumbakku sayang”, “Wahai masyarakat, buka hati nurani kalian jangan mau disuap, dengan uang yang tidak sebanding dengan harga dirimu. Ingat keluargamu kenyang makan abu”.

Untuk meredakan warga di lokasi,  tampak Kapolsek Patumbak Kompol Triady dan Kades Sigaragara Syafii Tarigan. Sementara, sejumlah personil dari Polresta Medan dikerahkan untuk berjaga-jaga di sekitar lokasi. Kapolsek Patumbak Kompol Triady kepada ratusan nande-nande meminta warga agar menghargai tugas pemerintah dan penegak hukum.

“Tolong hargai kami. Kami menjamin tidak ada lagi armada pengangkut tanah merah melintas. Karena kami akan mendirikan Posko di sini dibantu dengan oknum TNI. Kami akan menindak setiap mobil tanah merah,” ujar Kapolsek.

Hal senada disampaikan oleh Kades Sigaragara Safii Tarigan. “Tolong¬† agar Posko yang dibangun di tengah jalan segera dibongkar karena merunggangu jalan,” ujar Syafii.

Ironisnya, belum juga sang Kades selesai bicara, ratusan pernanden malah meneriakinya balik sambil terus melakukan aksinya. Sepertinya, warga tidak percaya lagi kepada kinerja Pemerintah Desa maupun penegak hukum. Buk Juli, kepada Kepala Desa Sigaragara atas nama warga meminta kepada Muspika agar membuat pernyataan hitam di atas putih. Intinya, warga tetap tidak mengizinkan truk pembawa tanah merah tetap beroperasi.

“Sudah beberapa malam kami tidur di sini, pak. Tolong diperhatikan nasib kami. Biar kami dapat tidur dengan suami kami di rumah,” ujarnya.

Salah satu warga ketika dikonfirmasi oleh Sora Sirulo mengatakan: “Kami sangat kesal karena galian tanah merah tidak pernah ditanggapi serius oleh Muspika. Lihat saja, sudah 3 hari kami buat aksi. Baru hari ini Kapolsek Patumbak datang. Sementara Camat Patumbak sampai sekarang tidak berani mendatangi kami. Ada apa dengan itu?” ujar salah seorang pernanden.

“Kami berharap agar pemerintah segera membuat kebijakan dengan menindak seluruh penambangan tanah merah di Kebun Patumbak. Di samping itu, kami juga minta agar jalan kami segera diperbaiki,” sambungnya.

Karena Camat Patumbak Khirul Saleh Siregar tak kunjung datang ke lokasi, para omak-omak pun terus melakukan aksinya dengan terus menutup badan jalan.
sumber : sorasirulo

This entry was posted in Berita, Berita dan Informasi Utk Takasima. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *