PEMERINTAH DIMINTA TERUS PERBAIKI HARGA SAWIT

MedanBisnis – Banjarmasin. Anggota Komisi IV DPR RI Habib Nabiel Fuad Al Musawa meminta pemerintah Indonesia agar terus berupaya memperbaiki harga produk sawit, berupa minyak mentah atau crude palm oil (CPO) di pasaran dunia.
“Upaya tersebut antara lain dengan terus melakukan lobbi dengan Malaysia,” katanya  dalam keterangan pers kepada wartawan yang tergabung dalam “Journalist Parliament Community (JPC)” Kalimantan Selatan, di Banjarmasin, Kamis (10/1).

Menurut anggota DPR asal daerah pemilihan Kalsel itu, kesepakatan Indonesia dan Malaysia terkait pasokan sawit dunia merupakan upaya jangka pendek untuk memperbaiki harga komoditi tersebut.

Karena, lanjut anggota Komisi IV DPR yang juga membidangi pertanian tersebut, Indonesia dan Malaysia saat ini menguasai 90% produksi CPO di dunia. “Sebagai ‘pemilik’ sawit dunia, mestinya kedua negara bisa mengatur harga, atau setidaknya bekerjasama untuk mengatasi merosotnya harga,” lanjutnya mengomentari belum membaiknya harga CPO.

Habib mengungkapkan, Februari 2012, harga CPO sempat menyentuh US$ 1.100 per ton.  Namun kemudian turun menjadi US$ 990 per ton pada bulan Juli dan sempat menyentuh US$ 771 per ton di bulan Desember 2012.

Sementara pada komoditas karet, Indonesia dan Malaysia bisa bekerjasama untuk mengatasi merosotnya harga, ungkap politisi Partai Keadilan Sejahtera (PKS) itu.

Begitu pula Indonesia dan Malaysia bersama Thailand sepakat mengatur pasokan karet dunia dengan menerapkan skema pengurangan volume ekspor karet sebesar 300 ribu ton yang diberlakukan Oktober 2012 hingga Maret 2013.

“Dampak dari kesepakatan itu, harga karet yang semula terpuruk di harga rata-rata US$ 2,54 per kg terdongkrak menjadi sekitar US$ 2,9 per kg,” lanjut alumnus Institut Pertanian Bogor (IPB) Jawa Barat tersebut.

Pada komoditas karet, kata dia, kedua negara bisa bekerjasama mengatasi merosotnya harga.  “Mengapa skema serupa tidak diterapkan juga di CPO,” ucapnya.

Di CPO, kata Habib, yang terjadi bukan kerja sama, melainkan sebaliknya seakan perang terbuka. Kedua negara sama-sama memangkas bea keluar.   “Akibat ‘perang terbuka’ itu dan dimana dalam kondisi permintaan yang kurang, pasar internasional terus mendapat pasokan CPO. Maka wajar jika harga CPO terus turun. Sulit beranjak naik,” kata Habib Nabiel.(ant)
sumber: medanbisnisdaily

This entry was posted in Berita, Informasi AgriBisnis. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *