MUSLIM MUIS: ITU BENTUK KEALPAAN PENGADILAN TENTUKAN JADWAL SIDANG

Sidang Malam Hari Tak Masalah Bagi Pihak PN Medan

Medan, (Analisa). Pihak Pengadilan Negeri (PN) Medan mengaku tidak masalah persidangan perkara di lembaga tersebut berlangsung malam hari, sebagaimana yang terjadi pada Kamis (10/1) lalu.
Sebagaimana diketahui pada hari itu ada sekitar empat perkara tindak pidana korupsi yang digelar. Sidang yang sebagian digelar sore hari diketahui usai sekira pukul 20.30 WIB.

Bahkan ada persidangan yang baru dimulai usai waktu magrib, yakni sidang pembacaan vonis perkara korupsi yang menjerat mantan Bupati Simalungun, Zulkarnain Damanik.

Sementara persidangan digelar hingga malam hari yakni perkara korupsi bantuan sosial (Bansos), korupsi di Asahan dan Langkat.

Persidangan tersebut dimulai sore hari, di saat jam kerja pegawai negeri sipil (PNS) usai. Persidangan yang rata-rata beragendakan mendengarkan keterangan para saksi itu, didiskors beberapa menit saat masuk waktu magrib.

Pemandangan itu tidak biasa terjadi di lembaga hukum tersebut. Biasanya setelah usai jam kerja, majelis hakim menunda persidangan. Sementara, ada hari tertentu seperti Senin dan Jumat sebagaimana pantauan wartawan, waktu persidangan tergolong lowong. Terlebih Jumat terkadang tidak ada sidang, kecuali persidangan perkara tilang.

Juru bicara PN Medan Achmad Guntur kepada wartawan mengatakan, ia pada hari itu juga bersidang mulai pukul 10.00 WIB hingga pukul 20.00 WIB. Hal itu dikarenakan saksi dari satu perkara sudah dibawa.

Ditanya soal keefektifan saksi bersidang malam hari, pihaknya sudah menyampaikan hal itu kepada para saksi. Apalagi banyak persidangan perkara korupsi dari daerah, dan saksi sudah datang sejak pagi.

Sehingga, katanya, sudah dipertanyakan terlebih dahulu kepada para saksi apakah sudah siap dimintai keterangannya apa tidak. Lebih baik ditanya terlebih dahulu kepada para saksi daripada kembali lagi.

Guntur mengatakan, kualitas kesaksian para saksi yang hadir dipersidangan tidak ada masalah. Pasalnya para saksi tidak mengantuk pada saat bersidang, dan tidak mabuk.

Ia juga membantah tidak adanya sidang pada Senin dan Jumat. Setiap Senin, katanya, banyak juga sidang perdata digelar, serta Jumat tetap ada sidang dan pada hari itu banyak Panitera Pengganti (PP) menyelesaikan berita acara. “Kalau sidang terus, mereka tidak punya kesempatan membuat berita acara”, sebutnya.

Menanggapi hal ini, pengamat hukum Muslim Muis dari Pusat Study Hukum dan Pembaharuan Peradilan (PUSHPA) Sumut mengatakan, sepantasnya perkara tipikor diutamakan persidangannya dan waktu pelaksanaannya lebih awal yakni pagi hari.

Apa yang terjadi Kamis lalu, menurut Muslim, bentuk kealpaan Pengadilan Tipikor dalam menentukan jadwal persidangan. Jika persidangan efektif khusus korupsi digelar sejak pagi, maka masyarakat umum dapat memantau jalannya persidangan tersebut.

Muslim mengatakan, sebenarnya tidak masalah jika persidangan dilakukan hingga malam hari. Mungkin saat itu banyak saksi yang harus diperiksa, sehingga menyita waktu.

Hanya saja yang diherankan jika persidangan baru dimulai malam hari, sebagaimana perkara mantan Bupati Simalungun yang divonis 18 bulan penjara pada Kamis malam lalu. “Jangan-jangan itu sengaja dilakukan untuk menghindari pantauan masyarakat terhadap kinerja Pengadilan Tipikor?”, duga Muslim Muis.(dn)
sumber: analisadaily

This entry was posted in Berita. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *