KONVERSI LAHAN PERTANIAN KE SAWIT 100.000 HEKTARE PER TAHUN

MedanBisnis – Medan. Laju konversi/pengalihan fungsi lahan pertanian menjadi perkebunan kelapa sawit kian mengkhawatirkan. Tak kurang dari 100.000 hektare lahan pertanian telah berubah menjadi perkebunan kelapa sawit setiap tahun. Fakta tersebut bisa mengancam ketahanan pangan.
Menurut Menteri Pertanian (Mentan) RI, Suswono pada panen benih padi varietas mekongga di UPT BBI Padi Murni Tanjung Morawa, Jumat (11/1), banyak petani yang tergiur terhadap manisnya investasi di perkebunan kelapa sawit sehingga memilih beralih dari petani padi menjadi petani sawit. “Setiap tahun kita kehilangan 100.000 hektare lahan pertanian kita, ini tidak bisa dibiarkan, kita harus bisa menghentikan,” tegasnya.

Dengan cepatnya laju konversi lahan pertanian ke sawit tersebut, tidak heran jika kini lahan perkebunan kelapa sawit sudah mencapai 8,6 juta hektare, lebih tinggi daripada lahan pertanian padi yang tersisa 8,1 juta hektare.

Dari situ, lanjut Mentan, pemerintah daerah harus peduli dengan mengeluarkan kebijakan penyelamatan lahan pertanian baik yang masih produktif maupun yang potensial, dirubah menjadi perkebunan kelapa sawit.

Mentan mengaku prihatin setelah beberapa waktu lalu dalam perjalanan Medan – Langsa (Aceh), menemukan sangat banyak persawahan produktif yang berubah menjadi areal perkebunan kelapa sawit. Menurutnya, petani harusnya tidak mudah tergiur dengan kelapa saawit karena padi merupakan komoditas kebutuhan primer yang harus lebih diutamakan daripada kelapa sawit.

Sementara itu, mengenai lahan pertanian yang saat ini masih tersisa harus dimaksimalkan pemanfaatannya melalui penerapan teknologi tepat guna, menggunakan benih varietas unggul dan memberikan pupuk berimbang. Selain itu, saluran irigasi yang rusak harus segera diperbaiki.

“Jika saluran irigasi dalam keadaan baik, diharapkan bisa meningkatkan indeks pertanaman (IP) sehingga ketika lahan yang dimiliki terbatas, namun produksi tetap bisa ditingkatkan,” kata Mentan.

Suswono menuturkan, sebelumnya pemerintah berupaya melakukan ekspansi lahan baru seluas 2 juta hektare untuk pertanaman padi namun hingga kini masih sulit dilakukan karena untuk mengeksekusi lahan masih banyak kendala. Bahkan, untuk lahan-lahan terlantar, sulit untuk dieksekusi. Ini tentunya bisa menjadi sandungan peningkatan produksi jika pemerintah tidak melakukan terobosan lainnya.

“Memang target surplus beras 2014 sebesar 10 juta ton masih mungkin, tapi kita tidak kita harus melakukan langkah konkret dengan penyelamatan lahan pertanian, jangan ada lagi konversi lahan  pertanian,” katanya.(dewantoro)
sumber: medanbisnisdaily

This entry was posted in Berita, Informasi AgriBisnis. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *