BIARA KAPUSIN DIBANGUN DI JARANGUDA (BERASTAGI)

BETLEHEM KETAREN. BERASTAGI. Kaum religius yang menamakan dirinya Ordo Fratum Minorum Capucin (OFM Cap.) seturut dengan teladan Yesus sebagaimana dikobarkan oleh sang guru mereka St. Fransiskus Asisi, menyadari betul akan pentingnya sepi biara dalam mengihidupi doa, meditasi dan laku tapa sebagai sumber pencerahan hidup. Di Keuskupan Agung Medan, berdasarkan keputusan Rapat Kapitel (musyawarah besar) tahun 2000, disepakati membentuk komunitas konteplatif dan membangun Sapo Malem San Damiano di lereng gunung Sikuda-kuda (anak gunung Sibayak), Desa Jaranguda Berastagi, dan bangunan utama berupa rumah papan bergaya Karo (rumah tersek modern) ini diresmikan pada tahun 2003.

Pastor Marianus Simanullang, OFM Cap dan Bruder Benno Manullang, OFM Cap berkomunitas berdua sebagai penunggu pertama Sapo ini senantiasa menunggu kedatangan para kapusin yang kelelahan dalam pelayanannya, berdoa bagi semua orang serta berani menambah pemenuhan kebutuhan hidup mereka. Mereka juga mendoakan dan berdoa bersama setiap orang yang datang yang kesesakan oleh hiruk pikuk kehidupannya. Bruder Benno kemudian pindah tugas menyusul P. Marianus tahun lalu bermissi ke Papua, dan tugas mereka digantikan pastor Agustinus Yew Yuswanto, pastor Michael Hutabat dan pastor Albinus Ginting.

Biara Kapusin memberdayakan Sapo Malem menjadi Oase Jiwa dan Raga

10 tahun sudah komunitas ini menjalankan missinya, dan orang-orang baik dari stasi-stasi maupun turis-turis semakin banyak datang berkunjung; baik untuk sekedar memberi makanan ringan tanda simpati maupun untuk didoakan. Keberadaan kapel Sukacita serta Gua Maria sumbangan seorang tamu beberapa tahun lalu juga berperanan mengundang semakin banyak kelompok datang berdoa atau sekedar singgah menikmati panorama alam.
Menurut pantauan Sora Sirulo [Minggu 6/1] Sapo Malem memang tak hentinya dihadiri pengunjung. Ada kelompok sedang berdoa di depan Gua, kemudian ada sepasang muda-mudi mohon doa mohon keserasian pasangan sejati dari pastor. Lalu, ada yang menanyakan kelanjutan petemuan rutin serta kelompok-kelompok lain yang jauh dari pandangan.

“Kami harus membuka diri bagi orang yang datang. Apakah mereka mau retreat pribadi, berdoa sendiri atau berkelompok atau minta didoakan. Namun kami juga mempunyai peraturan hidup komunitas, agenda doa komunitas yang kami lakukan kami persembahkan kepada Tuhan dan untuk kedamaian hidup seluruh manusia. Maka kami sangat membutuhkan satu bangunan biara, serta rumah adat ini kemudian nanti dapat digunakan lebih leluasa oleh para tamu”, kata pastor Michael.

“Apa-apa saja yang akan dibangun sebagai keseluruhan bangunan biara itu dan berapa biayanya, pastor?” selidik Sora Sirulo.

“Biara itu nanti terdiri dari 4 kamar untuk para kapusin yang menetap, 7 kamar untuk kapusin tamu pastor, ruang doa yang cukup luas yang akan digunakan juga sebagai tempat berdoa para penghuni biara bersama tamu, ruang refresing, ruang makan, dapur dan teras yang luas untuk memandang ke Berastagi. Di tengah akan dibuat lapangan terbuka dengan kolam kecil dan patung St. Fransiskus Asisi,” papar pastor.

Biaya pembangunan fisik biara ditaksir memerlukan dana sebesar Rp. 1, 8 Milyard. Kapusin mengusahakan swadana sebesar Rp. 1 Milyard.

“Sisanya kami mohon dari uluran tangan para donatur maupun sumbangan umat. Kalau setiap umat membawa nilai secangkir kopi saja, pembangunan ini akan cepat rampung. Kalau di Thailand, umat berlomba-lomba menyumbangkan atap. Mereka bangga bahwa sumbangannya berada paling atas,” lanjut pastor yang lama bermissi di Thailand itu bersemangat.

“Kehadiran sebuah universitas di kawasan ini kemungkinan akan menjadi permulaan menjadikan kota satelit di sini, bagaimana pastor melihat hal ini?” tanya Sora Sirulo lagi.

“Universitas itu baik sekali hadir di sini. Demikian juga villa-villa. Kalau ada donatur ingin mendirikan villa di tanah kita ini untuk kita dan mereka bisa pakai secara temporal dan sehari-harinya kita pakai untuk kebutuhan tamu kita, itu juga bagus. Artinya semua yang ada sekarang masih sejalan dengan misi Sapo Malem. Yang hadir kemudian,…. (pastor menahan napas). Kalau uang kita banyak mestinya kita beli semua tanah sekeliling kita ini, ha ha ha, biar selamat!” kata pastor sambil tertawa lepas.

“Pemerintah juga perlu menata tempat ini sehingga tetap alami. Masyarakat Karo perlu proaktif menjaganya sebagaimana nenek moyang kita menjaganya tetap menjadi kawasan sakral dan religius. Kitab Suci mengatakan gunung adalah kediaman Tuhan. Kami mohon semua orang turut berpartisipasi menjaga suasana simalem ini. Kalau tidak, kami akan tetap menjaganya dan mengembangkannya menjadi oase raga maupun jiwa bagi semua kegersangan padang gurun kehirukpikukan kehidupan,” tegas pastor Michael.
sumber : sorasirulo

This entry was posted in Berita, Berita dan Informasi Utk Takasima, Informasi Untuk Kab. Karo. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *