ATURAN ‘NGANGKANG STYLE’ DILEMATIS

BANDA ACEH – Psikolog Aceh dari Yayasan Psikodistra, Nurjanah Nitura menilai perdebatan aturan tentang ‘Ngangkang Style’ yang diberlakukan oleh Walikota Lhokseumawe hari ini sebenarnya tidak perlu dikomentari.

“Saya tidak ingin berkomentar tentang masalah ini,” katanya di Banda Aceh, hari ini.

Namun, Nurjanah memberikan perumpamaan bahwa aturan ini nantinya akan berdampak pada masyarakat kecil yang mau tidak mau, suka tidak suka mengharuskan mereka duduk ‘Ngangkang Style’ dalam kehidupan sehari-hari.

“Yah banyak yang bisa kita jadikan contoh, siapa yang paling terkena dampak dalam aturan ini,” ujarnya.

Ia mencontohkan, seorang ibu yang ditinggal mati suaminya, dengan memiliki dua orang anak perempuan, setiap harinya harus menafkahi kebutuhan keluarga. Dalam upayanya mempertahankan hidup, ibu ini berdagang, dan setiap harinya harus membawa kerangjang dengan naik sepeda motor. “Ini kisah nyata yah,” tambahnya.

Ia melanjutkan, ketika naik sepeda motor, setiap hari ibu ini dibantu anaknya yang sudah remaja. Dan untuk memudahkan kerja-kerja membawa dagangannya setiap hari, tentu dibutuhkan posisi yang memberikan keamanan dan kenyamanan bagi ibu ini dan kedua anaknya dalam membawa dagangan mereka. “Dan pilihan itu tentu adalah posisi ‘Ngangkang Style,” tuturnya.

Tentu, jelasnya, posisi tersebut memberikan kenyamanan kepada ibu tersebut dan kedua anaknya. Sementara itu disatu sisi dengan adanya aturan tersebut jelas dirinya akan sangat direpotkan tentunya.

“Dilematis jadinya, antara kebutuhan menafkahi hidup dengan aturan yang ada saat ini di kota Lhokseumawe,” tandasnya.
sumber: waspada

This entry was posted in Berita. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *