PETANI KOPI BERALIH DARI ROBUSTA KE ARABIKA

Di Kabupaten Dairi Sejak 2005

MedanBisnis –  Medan. Proses pengolahannya yang lebih sulit, serta memakan biaya, waktu dan tenaga lebih banyak, menyebabkan banyak petani kopi di Kabupaten Dairi beralih dari menanam kopi robusta ke arabika. Bukan baru terjadi, hal ini bahkan sudah berlangsung sejak 2005.
Salah seorang petani kopi dari Desa Pasi, Kecamatan Berampu, Kabupaten Dairi, Mawardi Ujung, mengungkapkan itu kepada MedanBisnis, Kamis (3/1). Menurutnya, seluas satu hektare lahan yang semula dia tanami kopi robusta dialihkannya ke kopi arabika.

“Dari sisi keuntungan, juga lebih bagus kopi arabika dibandingkan robusta,” kata Mawardi yang ditemui di acara penyerahan bantuan sarana dan prasarana kepada 26 kelompok tani dari sepuluh kabupaten/kota di Aula Balai Perlindungan Tanaman Pangan dan Hortikultura Sumut, Kamis (3/1).

Menurut Mawardi, citarasa kopi robusta lebih baik dibandingkan kopi arabika dan di desanya tanaman kopi robusta yang luasnya mencapai ratusan hektare sudah ada sejak zaman dahulu. Namun, kalaupun ada sekarang kegiatan penanaman kopi robusta cenderung dilakukan seadanya saja.

Saat ini, imbuhnya, di Dairi sudah ada sekitar 50 hektare tanaman kopi arabika milik petani yang dirawat secara baik dan panennya juga sangat baik.

Lebih lanjut Mawardi memaparkan proses pengolahan kopi robusta dari mulai buah hingga bisa dikonsumsi yang memerlukan biaya, waktu dan tenaga lebih banyak. Setelah dipetik, kata dia, buah kopi itu digiling baru kemudian dijemur hingga seminggu. “Kemudian digiling lagi untuk memisahkan kulitnya, baru setelah itu digiling lagi menjadi bubuk, baru bisa dijual,” paparnya.

Lain halnya kopi arabika, jelas Mawardi, bahkan sudah laku dijual saat masih berkulit, sehingga biaya yang dikeluarkan petani bisa dikurangi. Sebagai contoh, ungkapnya, biaya pengolahan kopi robusta mulai pemetikan hingga bubuk mencapai Rp 500 ribu dan harga jualnya hanya Rp 17 ribu per kilogram.

Sedangkan untuk proses pengolahan kopi arabika, sedikit lebih murah dan harga jual bubuknya lebih tinggi, berkisar Rp 20 ribu-Rp 25 ribu per kilogram. “Dengan demikian, wajar saja jika petani beralih ke kopi arabika dan enggan merawat kopi robusta,” ujar Mawardi.

Hanya saja, menurutnya kondisi sedemikian itu sangat disayangkan karena secara geografis wilayah Kabupaten Dairi lebih cocok untuk pertanaman kopi robusta daripada arabika. Selain itu, Dairi juga pernah terkenal berkat citarasa kopi robustanya. (dewantoro)
sumber: medanbisnisdaily

This entry was posted in Berita, Berita dan Informasi Utk Takasima, Informasi AgriBisnis, Informasi Untuk Kab. Karo. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *