SEPANJANG 2012, TERJADI 16 KECELAKAAN KERETA API DI SUMUT

Medan, (Analisa). PT Kereta Api Indonesia Divre I Sumatera Utara mencatat, sepanjang 2012 sebanyak 16 kecelakaan terjadi di perlintasan kereta api. Disebutkan, dari 16 pintu perlintasan, 10 pintu perlintasan tidak dijaga oleh petugas, 4 pintu perlintasan dijaga dan 2 pintu perlintasan lainnya termasuk liar.
“Dari 372 pintu perlintasan yang ada di wilayah regional I Sumut, hanya 102 perlintasan saja yang dijaga yang terdiri dari 98 perlintasan yang dijaga oleh pihak Pemko dan Pemda. Sementara itu, selebihnya pintu perlintasan tidak dijaga oleh petugas,” ujar Humas PT KAI Divre I Sumut, Hasri, kepada Analisa di Medan, Kamis (3/1).

Dijelaskan Hasri, perlintasan maupun perpotongan jalan antara jalur kereta api dengan jalan raya disebut dengan perlintasan bidang. Sedangkan perlintasan ini dibuat untuk digunakan pihak kereta api dan melindungi pengguna jalan raya.

“Jika terjadi kecelakaan, maka itu bukan tanggungjawab pihak PT KAI. Sebab, sesuai dengan peraturan pemerintah nomor 27 tahun 2009, kewajiban untuk mendahulukan perjalanan kereta api. Maka itu, pemakai jalan wajib mendahulukan perjalanan kereta api dan mematuhi semua rambu-rambu di perpotongan tersebut, dan jika terjadi pelanggaran maka hal itu bukan termasuk kecelakaan perkeretaapian,” jelasnya.

Melintas di Perlintasan

Lebih lanjut diungkapkannya, bagi pemakai jalan raya, ketika ingin melintas di perlintasan kereta api baik yang dijaga maupun yang tidak dijaga memang harus berhati-hati. Dengan memperlambat laju kendaraan atau berhenti diperlintasan, jika aman barulah melintas.

Dari 16 kecelakaan yang terjadi di perlintasan, adapun daerah perlintasan yang rawan kecelakaan di antaranya, perlintasan Medan-Binjai, Medan-Belawan, dan perlintasan Medan-Tebing Tinggi.

“Dari kasus-kasus sepanjang 2012 yang menelan korban, di antaranya Aras Kabu Lubuk Pakam dan Pajak Sore dengan korban 1 meninggal dunia. Sedangkan, 4 korban di perlintasan antara Tebing Tinggi dan perlintasan Rambutan,” ungkapnya.

Hasri menambahkan, untuk wilayah yang dianggap rawan kecelakaan, pihaknya tetap berkordinasi dengan sistem terkait. Perlintasan yang tidak dijaga akan diberikan rambu-rambu lalulintas termasuk membersihkan bangunan-bangunan liar yang mengganggu pemandangan masinis ketika sedang mengoperasikan kereta api. (ik)
sumber: analisadaily

This entry was posted in Berita. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *