KERIBUTAN DI KANTORNYA, HATTA RAJASA MARAH BESAR

Hatta juga tidak setuju jika pengacara dari PAN dilibatkan dalam persoalan itu.

JAKARTA – Keributan aparat kepolisian dengan orang-orang yang diduga “preman” di kantor Kementerian Koordinator bidang Perekonomian (Kemenko Perekonomian) Kawasan Lapangan Banteng, Kamis (3/1), berbuntut panjang.

Menko Perekonomian Hatta Rajasa marah besar begitu mengetahui kejadian tersebut. Dia bahkan tidak setuju jika pengacara dari Partai Amanat Nasional (PAN) dilibatkan dalam persoalan itu.

“Pak Hatta Rajasa marah besar dengan insiden itu. Beliau malah tidak setuju pengacara PAN dilibatkan dalam kasus itu,” kata sumber yang dekat dengan Menko Perekonomian Hatta Rajasa kepada SH di Jakarta, Jumat (4/1) siang.

Ia bahkan menyebutkan, Hatta meminta pihak kepolisian untuk memproses hukum para terduga preman sesuai dengan hukum yang berlaku.

Sementara itu, Staf Ahli Menko Abdullah Rasyid kepada SH di ruangannya, lantai enam kantor Kemenko Perekonomian Gedung AA Maramis, Jakarta, Jumat siang, menyatakan pihaknya menyiapkan pengacara dari PAN dari Komisi III DPR untuk membebaskan rekan mereka yang kini mendekam di Mapolres Metro Jakarta Pusat.

Ia menyatakan, tiga rekannya dan dua stafnya telah digelandang ke Mapolres Metro Jakarta Pusat sesaat setelah keributan pada Kamis (3/1). “Mereka tamu dan staf saya, dan kelimanya tidak bersalah. Untuk membebaskan mereka saya sudah siapkan pengacara PAN dari Komisi III DPR,” katanya.

Dia meminta aparat kepolisian segera membebaskan rekannya. Ia pun berdalih kelima rekannya tidak melakukan kesalahan dan polisi telah salah menangkap kelimanya. “Pengacara kami sudah mendampingi kelima rekan saya yang ditahan polisi. Mereka harus dibebaskan karena tidak ada niat mereka menghalangi tugas polisi,” tuturnya.

Namun, polisi hingga kini tetap berdalih bahwa orang-orang yang turut mengamankan aksi unjuk rasa di depan kantor perekonomian adalah preman dan tidak ada kaitannya dengan pengamanan di lingkup Kemenko Perekonomian Hatta Rajasa berkantor.

Alibi polisi bukannya tidak beralasan. Pihaknya menuding pengamanan jalannya demonstrasi yang dilakukan Himpunan Mahasiswa Islam telah mengantongi izin dan para demonstran juga berjalan damai, tidak ada tindakan anarkistis dan kaos. Namun, entah datang dari mana 10 orang yang diduga preman ke tengah-tengah jalannya pengamanan demostrasi dan mendesak polisi untuk segera membubarkan para demonstran.

Namun, Abdullah membantah alibi dari pihak kepolisian dan menganggap tindakan reaktif yang dilakukan terhadap para tamunya berlebihan dan tidak sesuai dengan norma hukum yang seharusnya dilaksanakan oleh penegak hukum tersebut. “Mereka bukanlah preman, melainkan tamu dan staf saya. Tindakan reaktif polisi terlalu berlebihan terhadap mereka,” jelasnya.

Masih Ditahan

Hingga kini Polres Metro Jakarta Pusat masih menahan lima orang terkait insiden pada Kamis siang, di antaranya Mansur, Jamal, Rahman, dan dua staf dari staf khusus Kemenko Perekonomian bernama Anwar serta Ihsan. Keributan di lingkungan Kemenko Perekonoman di kawasan Lapangan Banteng, Jakarta Pusat, terjadi pada Kamis siang.

Kejadian berawal ketika muncul aksi unjuk rasa yang digelar 10 pengunjuk rasa di kantor Kemenko Perekonomian. Para pengunjuk rasa mendesak kepastian proses hukum terhadap anak Hatta Rajasa, yakni Muhammad Rasyid Amrullah Rajasa (22) yang menjadi tersangka kecelakaan lalu lintas di Jalan Tol Jagorawi yang menewaskan dua orang itu.

Awalnya demontrasi berjalan damai dengan pengamanan sejumlah polisi di depan gedung Kemenko Perekonomian. Namun, situasi memanas saat Rasyid dan anak buahnya menemui pengunjuk rasa. Polisi melihat hal itu.

Kapolsek Metro Sawah Besar Kompol JR Sitinjak melihat kondisi tidak aman sehingga kemudian mencegah. Sayangnya, sikap itu justru ditanggapi terlalu reaktif oleh orang-orangnya Rasyid sehingga terjadi aksi saling dorong-mendorong. Bahkan, orang-orang Rasyid mengajak duel polisi.

Akhirnya polisi mencokok sejumlah orang yang dianggap preman di lingkungan kantor Menko Perekonomian Hatta Rajasa itu. Sejumlah orang yang dianggap preman itu ternyata orang-orang yang berada di bawah koordinasi Staf Ahli Menko, Abdullah Rasyid.

Yang bersangkutan dikenal wartawan sebagai staf khusus yang mengurus urusan Hatta Rajasa sebagai Ketua Umum PAN dan organisasi lainnya yang diikuti Hatta Rajasa.

Semula polisi juga akan membawa Abdullah Rasyid ke Mapolres Metro Jakarta Pusat. Namun, hal itu urung dilakukan. Kapolres Metro Jakarta Pusat Kombes AR Yoyol turun tangan mengatasi persoalan tersebut.
sumber : shnews

This entry was posted in Berita. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *