PROYEK LAPEN BERBIAYA RP 2 M HANCUR LEBUR

Aek Songsongan-andalas Program peningkatan ruas jalan dari pengerasan menjadi lapisan penetrasi (Lapen) berbiaya Rp 2 miliar lebih, yang berada di Kecamatan Aek Songsongan dan Kecamatan Aek Ledong, Kabupaten Asahan, kondisinya saat ini hancur-lebur.

Pantauan andalas di lokasi lapen tersebut, Selasa (1/1) terlihat jelas, lapen yang dananya bersumber dari APBD Asahan tahun 2012, mulai dikerjakan 18 juli dan selesai 17 Desember 2012.

Selain kondisi jalan yang baru terhitung hari selesai dikerjakan itu, sudah dalam keadaan hancur. Saat ini, kondisi jalan yang dibangun dari uang rakyat tersebut sudah sulit untuk menemukan ruas jalan yang masih utuh.

Di sepanjang jalan yang di lapen tersebut, diduga volume pekerjaan 2600 meter tersebut tampak di kanan kiri maupun badan jalan material kerikil yang dihampar pihak rekanan Dinas PU berhamburan.

Selain itu, dari pantauan, terlihat prime coat yang digunakan sebagai pengerat material saat dihampar diduga hanya ala kadarnya sehingga saat dilalui kendaraan bertonase 4 ton ke bawah, mudah terkelupas.

Misno (57) didampingi M Siburian (50), keduanya warga Desa Mekar Marjanji, Kecamatan Aek Songsongan saat ditemui di lokasi mengatakan, Lapen sepanjang 2600 meter tersebut diduga dikerjakan rekanan Dinas PU, yakni CV SAMTI, terkesan asal jadi.

“Pengamatan kami warga kampung sini, penggunaan material lapen diduga tidak sesuai bestek.

Saat pengerjaan pihak rekanan penggunaan material kerikil 3/5 tidak tampak digunakan di badan jalan dan hanya terlihat sekali sekali di sisi bahu kanan kiri jalan yang dilapen,” kata keduanya.

Penggunaan material kerikil 2/3 dan 1,5 dicampur lalu dihampar ke badan jalan, digilas dengan stormwalls agar permukaan badan jalan menjadi rata, lalu disiram dengan prime coat dengan ala kadarya dan setelah itu barulah dihampar dengan pasir dan kembali digilas dengan stormwalls.

“Ini sesuai seperti yang kita lihat saat pengerjaan lapen dimaksud,”kata mereka, sembari menambahkan, hal itu menyebabkan ketebalan dari lapen tersebut tidak mencapai enam hingga tujuh centi.

Namun, anehnya penggunaan stormwalls diduga kapasitasnya hanya 2 ton. “Padahal, jalan ini selalu dilalui truk dengan berat 4 hingga 7 ton sehingga belum lagi selesai dikerjakan, saat dilalui kendaraan kondisi jalan ini sudah hancur,”beber mereka.

Selanjutnya, kata kedua warga yang sehari-hari bekerja sebagai petani sawit ini, dengan kondisi belum seratus persen pekerjaan selesai, badan jalan sudah banyak yang rusak.”Hingga, Kepala Desa Mekar Marjanji, enggan meneken berita acara pekerjaan tersebut,” pungkas mereka.

Sementara, melihat kondisi jalan berbiaya Rp 2 miliar tersebut, saat dikonfirmasi kepada pihak-pihak terkait, seperti biasanya memberikan jawaban klasik yang sering didengar, bahwa rusaknya peningkatan ruas jalan tersebut masih ada dana perawatan.

Hal inilah yang masih menjadi senjata pamungkas bagi PPK Dinas PU maupun pihak rekanan dalam menyikapi sejumlah persoalan terkait proyek yang dikerjakan. (FAS)
sumber : harianandalas

This entry was posted in Berita. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *