80 PERSEN PENDERITA AIDS ALAMI CANDIDIASIS

MEDAN (Waspada): Pengidap AIDS diminta untuk dapat menjaga kesehatannya  dengan baik. Sebab, jika terjadi penurunan kekebalan tubuh, virus ataupun  kuman yang menghampiri, maka si pengidap akan menjadi sakit.

Pada umumnya ada dua infeksi oportunistik (IO) yang dapat dialami oleh  pengidap AIDS yakni IO candidiasis (infeksi jamur)dan TB Paru. “Infeksi  oportunistik adalah infeksi yang disebabkan oleh organisme yang biasanya tidak  menyebabkan penyakit pada orang dengan sistem kekebalan tubuh yang normal,  tetapi dapat menyerang orang dengan sistem kekebalan tubuh yang buruk,” kata  Project Officer Global Fund Dinas Kesehatan Sumatera Utara Andi Ilham Lubis,  Senin (31/12).

Infeksi oportunistik itu, sebutnya, merupakan penyakit yang jarang terjadi pada  orang sehat, tetapi menyebabkan infeksi pada individu yang sistem kekebalannya  terganggu, termasuk infeksi HIV. Organismeorganisme penyakit ini sering hadir  dalam tubuh, tetapi umumnya dikendalikan oleh sistem kekebalan tubuh yang  sehat.

“Ketika seseorang terinfeksi HIV mengembangkan infeksi oportunistik, tahapannya  masuk ke diagnosis AIDS. Umumnya IO yang paling banyak dialami penderita  AIDS yakni candidiasis (infeksi karena jamur) sekira 80 persen,”ujarnya.

Selain itu, penyebab lain yang dapat menginfeksi penderita AIDS yakni TB Paru.  “Kalau TB Paru ini, persentasenya sekira 40 persen. Makanya, setiap orang yang  sudah terinfeksi HIV stadium 2, dia harus minum obat profilaksis. Semua ODHA,  akan mendapatkan profilaksis 100 persen. Obat inilah untuk mencegah terjadinya  IO,” sebutnya.

Selain persoalan IO, katanya, ODHA sering mendapatkan kendala seperti  jauhnya tempat layanan kesehatan dari ODHA, dan keterbatasan SDM dalam  memberikan layanan. “Makanya tidak sedikit ODHA yang harus mendapatkan  ARV untuk konsumsi sebulan. Selama ini ya seperti itu kondisinya. Pasien dari  Nias dan harus mengambil ARV ke Medan dan tenaga kesehatan yang kita latih,  belum bekerja maksimal,” tuturnya.

Sebenarnya, lanjut Andi, yang menjadi kendala mengapa ODHA tidak  mendapatkan layanan, yakni perlu mendapat dukungan dari masyarakat seperti  tokoh masyarakat, tokoh agama dan semua pihak. “ODHA inikan juga  membutuhkan orang lain dalam mendampinginya ke layanan. Selama ini,  kecenderungan ini sering diabaikan. Peran serta masyarakat inilah yang masih  kurang,”katanya.

Kendala lainnya juga terlihat dari pemerintah kabupaten/kota. “Dalam  penganggaran untuk HIV/AIDS di daerah juga belum terlihat. Untuk itulah, kita  minta kepada masyarakat maupun pemerintah agar mau memperhatikan hal ini  termasuk masyarakat agar jangan mendiskriminasi pada ODHA,” ujar Andi. (h02)
sumber: waspadamedan

This entry was posted in Berita, Informasi Kesehatan. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *