PERAMPOKAN PENUMPANG BUKAN TANGGUNG JAWAB DISHUB SAJA

“Jika keamanan tidak terjamin, akan sia-sia penataan kota”.

VIVAnews – Pengamat perkotaan dari Universitas Trisakti, Nirwono Joga, menilai tindak kekerasan pada penumpang di angkutan umum bukan persoalan keamanan kendaraan umum saja. Menurut Nirwono, ini persoalan multispektrum, imbas dari kesenjangan sosial di Jakarta.

“Perekrutan pengamen sebagai pelaku kejahatan lebih karena kesenjangan sosial yang cukup tinggi, ini tidak hanya tanggungjawab dinas perhubungan, tapi dinas sosial juga untuk menyediakan lapangan kerja, peningkatan pelatihan keterampilan kepada mereka,” ujar Nirwono kepada VIVAnews, 30 Desember 2012.

Selain itu, dikatakan oleh Nirwono, di beberapa titik ibukota yang dianggap rawan terjadinya tindak kejahatan masih sangat minim fasilitas umum yang dapat mencegah terjadinya aksi kriminal, seperti Penerangan Jalan Umum (PJU). “Banyak titik rawan kejahatan di daerah yang tidak cukup penerangannya. Kalau ada pun, ada tiang dan lampunya, tapi tidak hidup. Kalau pun hidup,  belum memenuhi syarat,” katanya.

Menurut Nirwono, perlu dilakukan upaya pencegahan dengan melakukan patroli jalan raya yang berkelanjutan setiap malam hari. “Sepertinya ini masih kurang, pos-pos keamanan juga masih minim, padahal pos keamanan di tempat rawan bisa dijadikan sebagai pertolongan untuk korban kriminal,” katanya.

Nirwono juga menyoroti, upaya Dinas Perhubungan Jakarta untuk menambah kenyamanan pengguna angkutan umum belum menunjukkan konsistensi. Selain sarana dan prasarana yang belum memadai, aturan-aturan lain seperti penertiban sopir tembak belum berjalan maksimal.

“Kalau diamati, konsistensi penegakan aturan oleh Dishub tidak berjalan lancar, seperti beberapa hari di Pasar Minggu ada razia sopir tembak, banyak yang ditertibkan, tapi selang berapa hari, sopir tembaknya muncul lagi,” katanya.

Ia sendiri mendesak Gubernur DKI Jakarta, Joko Widodo untuk segera mungkin menjadikan prioritas nomor satu keamanan penumpang angkutan umum sebelum membatasi kendaraan melalui sistem ganjil genap dan pemberlakukan ERP. Angkutan umum murah penting, tapi nomor satu adalah keamanan dan kenyamanan penumpang. Ini juga berkaitan dengan penataan kota dan citra Jakarta sebagai kota investasi.

“Jika keamanan tidak terjamin, akan sia-sia penataan kota yang dilakukan,” katanya.

Kepala Suku Dinas Perhubungan Jakarta Timur, Mirza Aryadi Soelarso, mengatakan bahwa untuk mengantisipasi agar kejadian seperti Jumat malam lalu itu tidak terulang kembali, pihaknya akan meningkatkan razia sopir tembak dan kelaikan angkot di sejumlah terminal di Jakarta Timur, seperti Terminal Pulogadung, Rawamangun, Klender, Pinangranti, Kampungrambutan, dan lain-lain untuk kenyamanan, dan keselamatan penumpang.

“Biasanya kami razia sebulan dua kali di sejumlah terminal. Ke depan akan ditingkatkan. Kami juga akan sosialisasikan kepada sopir angkot dan pemilik angkot agar tidak memakai sopir tembak karena itu melanggar,” katanya.
sumber: vivanews

This entry was posted in Berita. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *