RASA YANG MANIS

Buah biriba merupakan jenis atau kelompok srikaya. Namun karena ukurannya yang jauh lebih besar, yakni mencapai 1 – 2 kilogram, sementara srikaya hanya sepertiganya, maka buah biriba ini  juga seringkali disebut dengan nama srikaya raksasa. Keunggulan lainnya, buah biriba memiliki rasa yang manis dan bisa dimakan langsung atau dibuat jus. Bisa juga dijadikan campuran minuman yang lezat.
Dikatakan Ismail Ginting, buah biriba ini sekilas memang mirip dengan sirsak ataupun srikaya namun dengan duri yang lebih runcing dan jarang. Tanaman ini tingginya bisa mencapai 4 – 15 meter dan bisa tumbuh dengan baik di dataran rendah hingga ketinggian 600 meter di atas permukaan laut (mdpl).

Buah biriba

 

Selain itu, tanaman biriba ini bisa tumbuh dengan maksimal di tanah yang memiliki kesuburan baik. Apalagi jika mendapatkan sinar matahari  secara penuh. Jadi, biarpun kondisi tanahnya lembab namun sinar matahari cukup banyak, biriba bisa tumbuh baik. Tanaman ini akan bisa berbuah ketika sudah berusia 2 – 3 tahun.

Untuk menandai tanaman buah biriba, bisa dilihat dari segi fisiknya. Daun biriba memiliki bentuk lonjong-bulat dan memanjang dari 10 cm hingga 25 cm. Daunnya menunjuk ke atas dan bagian bawah daun berbentuk bulat . Jika diraba, daun biriba tipis tapi agak kasar dan berbulu di bagian bawah.

Sementara itu, bunga biriba, berbentuk 3 kelopak yang memisah. Kelopak tersebut tebal dan berdaging. Bunga, menurut Ismail, menjadi pertanda akan munculnya buah. Dalam waktu seminggu, buah yang masih pentil akan muncul.

Dikatakannya, dari buah berusia mudah hingga masak, memerlukan waktu sekitar 2 – 3 bulan. “Tanda kalau buah sudah masak, kulitnya, dari hijau menjadi kekuningan dan empuk,” katanya.
Di saat masih pentil, buah biriba menyerupai srikaya namun durinya lebih panjang dan padat. Duri atau kulit buahnya memenuhi seluruh badan menjadikannya seolah tidak akan ada daging di dalamnya. Dari bunga menjadi buah pentil hingga biriba bisa dipanen, dibutuhkan waktu sekira 3 – 4 minggu. Untuk menandai buanya sudah masak, tidaklah sulit, hanya dengan melihat kulitnya saja.

Semakin tua buahnya, durinya semakin mengecil. Kulit buah juga akan tampak dan jarang. Untuk menandai biriba yang sudah masak, bisa dilihat dari kulitnya yang berubah warna dari hijau menjadi kekuningan dan sedikit bintik hitam.

Biarpun bentuknya demikian, buah biriba merupakan buah dengan rasa daging yang manis dan lembut tanpa serat. Karena memiliki kadar air yang cukup banyak, daging buahnya sedikit berair. “Rasanya manis seperti srikaya, tapi karena ukurannya yang besar, kita pun kalau makan bisa puas,” katanya.

Sebagaimana srikaya, buah biriba ini bisa dimakan langsung ataupun dibuat menjadi minuman seperti jus atau bahan campuran minuman es lainnya. Kelebihan lainnya, biriba memiliki biji yang tidak begitu banyak sehingga memudahkan untuk dikonsumsi, dijadikan bahan minuman jus ataupun campuran minuman es lainnya.

Lebih jauh Ismail menjelaskan, buah biriba juga banyak tumbuh di Argentina, Meksiko, Peru, Argentina dan Brasil. Sementara di Indonesia, paling banyak tumbuh di Kabupaten Malinau, Kalimantan Timur. Dengan iklim yang hampir sama, buah biriba bisa juga tumbuh dengan baik di Sumatera Utara.

Menurutnya, iklim tropis memang sangat mendukung pertumbuhan tanaman buah dengan baik karena penunjangnya tersedia, mulai dari  tanah yang subur hingga sinar matahari yang banyak.
Dari sisi perawatan, juga tidak begitu sulit. Tanaman ini akan lebih baik lagi jika diberikan pupuk organik atau pupuk kompos. Pupuk tersebut bisa dengan mudah dibuat sendiri oleh petani dengan memanfaatkan apa yang ada di sekitar mulai dari dedaunan sampai kotoran ternak kemudian diolah sedemikian rupa sehingga siap untuk digunakan sebagai pupuk.

Penggunaaannya bisa diatur, tergantung kebutuhan. Jika kesuburan tanahnya tidak begitu baik, penggunaan pupuk bisa lebih banyak sementara jika kesuburan tanahnya baik, penggunaan pupuk organik atau pupuk kompos juga tidak akan berdampak buruk. “Justru akan membantu perbaikan kualitas tanahnya, berbeda dengan pupuk kimia,” ujarnya.

Sebaliknya, penggunaan pupuk kimia sangat berdampak bagi kesuburan tanah. dalam jangka pendek, bisa membantu namun dalam jangka panjang, penggunaan pupuk kimia bisa membuat petani mengalami kerugian karena biaya operasional yang harus dikeluarkannya hingga bisa memanen cukup besar. “Kalau harga pupuknya mahal, ongkos produksinya juga akan lebih banyak lagi,” ungkapnya. (dewanntoro)
sumber: medanbisnisdaily

This entry was posted in Berita, Berita dan Informasi Utk Takasima, Informasi AgriBisnis, Informasi Untuk Kab. Karo. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *