BIRIBA, SRIKAYA ‘RAKSASA’ YANG MAHAL

Sungguh menguntungkan bertanam buah biriba. Buah yang termasuk jenis srikaya ini mampu terjual dengan harga Rp 100.000 per kilogram (kg). Bahkan, dari satu pokok, di usia produktif bisa menghasilkan lebih dari 100 buah. Maka, jika dihitung, hanya dengan bertanam satu pokok saja bisa mendapatkan laba berkisar Rp 7 juta hingga Rp 8 juta sekali panen.

buah biriba

 

Pelaku agribisnis, Ismail Ginting saat ditemui dirumahnya yang dikelilingi ribuan bibit berbagai buah, di Dusun 3, Desa Namupecawir, Kecamatan Biru-biru, kabupaten Deliserdang, sejak 3 tahun lalu dirinya sudah membudidayakan tanaman buah biriba dan sudah berproduksi.

Tidak itu saja, biarpun masih dalam jumlah terbatas, dirinya juga sudah membuat pembibitan buah biriba. “Sebagai buah yang termasuk jenis srikaya, ukuran biriba lebih besar, bisa mencapai 2 kilogram,” katanya.

Di pekarangannya yang seluas satu hektare, tanaman buah biriba ditanam di antara tanaman buah lainnya seperti belimbing sembiring, cempedak, berbagai varietas jeruk, durian, pisang, dan kelengkeng. Menurutnya, biriba atau juga dikenal srikaya raksasa ini merupakan tanaman primadona yang masih sedikit yang membudidayakannya.

Padahal, jika dikalkulasikan nilai keuntungannya cukup menggiurkan. Apalagi, dari sisi teknis pembudidayaan tidak sulit dan berbuah cukup banyak.

Karena itu, ia mengajak siapapun yang memiliki pekarangan untuk ditanami tanaman buah, biriba bisa menjadi pilihan yang tepat untuk dibudidayakan dalam skala yang lebih luas. Selama ini, orang terfokus pada pengembangan perkebunan kelapa sawit. Padahal, dengan permintaan pasar terhadap buah yang selalu tinggi, mengolah lahan menjadi perkebunan buah juga sangat menguntungkan.

Ia mencontohkan, saat ini tak jarang petani yang mulai mengubah lahan persawahannya menjadi tanaman kelapa sawit karena mengira keuntungan yang besar hanya bisa didapat dari kelapa sawit. Padahal, melihat kecenderungan sekarang ini, harga kelapa sawit mengalami penurunan. Apalagi, jika lahan yang dimiliki kurang dari satu hektare, menanam kelapa sawit tidak akan menguntungkan.

Sementara, jika masyarakat mau memanfaatkan lahannya, biarpun di bawah satu hektare, menjadi lahan pertanaman tanaman buah, tetap menguntungkan. Sebagai contoh, tanaman buah yang bisa sangat menguntungkan adalah biriba.

Menurutnya, buah yang sekilas mirip dengan sirsak ini, sangat potensial dikembangkan dengan cara yang sangat mudah dan keuntungan yang bisa didapat pun  tidak mengecewakan.

Dari tiap pokoknya, di saat panen bisa menghasilkan sekitar 100 butir. Setiap tahun bisa dipanen 2 – 3 kali. Dari tiap butirnya, beratnya bisa mencapai 1 – 2 kilogram. Harga jual di pasaran, buah biriba, bisa mencapai Rp 100.000 per kg. Jika dikalkulasikan, setiap kali panen, keuntungan yang bisa diambil sekitar Rp 7 juta hingga Rp 8 juta.

Dipotong biaya operasional mulai dari perawatan, pemupukan, dan lain-lain sebesar Rp 2 juta – Rp 3 juta, keuntungan yang dibisa dikantongi berkisar Rp 5 juta – Rp 6 juta. Itu dari satu pokok saja. Bisa dibayangkan kalau jumlah pokok yang ditanam lebih dari itu.

Ismail menjelaskan, biarpun potensi ekonomis buah biriba begitu menggiurkan, namun hingga saat ini belum banyak yang membudidayakannya. Adapun beberapa orang yang menanamnya masih skala kecil atau bahkan sebagai tanaman pekarangan rumah biasa.

Semestinya, jika melihat permintaan pasar terhadap buah yang semakin besar, sudah saatnya untuk mengembangkannya dalam skala yang lebih besar sehingga semakin banyak pula pilihan bagi masyarakat untuk mengonsumsi buah. “Karena pada dasarnya kita dengan kesuburan tanah yang kita miliki sangat baik dan mudah untuk mengembangkan sekian banyak tanaman buah. Jadi, kenapa tidak mencoba berinvestasi untuk tanaman buah,” katanya.

Di pekarangannya, memang belum banyak   tanaman biriba. Sebagai penangkar, dirinya lebih fokus membuat pembibitan tanaman buah yang memiliki potensi untuk dibudidayakan. Dari tanaman biriba yang ditanamnya, saat ini sudah berusia 3 tahun dan itu merupakan usia produktif. Selama berbuah, biriba tersebut bisa terjual dengan harga mencapai Rp 100.000 per kg.

Sementara untuk bibit, ia menjualnya dengan harga Rp 25.000 per polibag. Jika hendak menanamnya, bibit tersebut sudah siap untuk ditanam di tanah sehingga siapa pun yang berminat untuk membudidayakannya bisa lebih mudah untuk merawatnya.

Dirinya juga bersedia untuk memberikan pemahaman tentang tata cara perawatan tanaman hingga berbuah. Tanaman ini, juga tidak begitu rumit dengan penggunaan pupuk. Namun demikian, ia menyarankan penggunaan pupuk organik daripada pupuk kimia. Ini selain untuk keberlanjutan kesuburan tanah, juga bisa menghemat biaya produksi karena bahan-bahan yang dibutuhkan untuk pupuk organik bisa ditemukan dengan mudah di sekitar dan jikapun harus membeli, tidak dibutuhkan ongkos yang banyak. (dewantoro)
sumber: medanbisnisdaily

This entry was posted in Berita, Berita dan Informasi Utk Takasima, Informasi AgriBisnis, Informasi Untuk Kab. Karo. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *