PRODUKSI KEDELAI SUMUT SEMAKIN ANJLOK

MedanBisnis – Medan. Produksi kedelai di Sumut semakin anjlok, salah satunya disebabkan luas lahan pertanaman komoditas pertanian ini semakin berkurang dan petani enggan menanam kedelai karena kurang menguntungkan dibandingkan komoditas pertanian lainnya.
“Dengan banyaknya kedelai impor, berangsur-angsur kedelai kita mengalami penurunan dari sisi luas lahan pertanamannya sehingga berpengaruh pada produksinya,” ungkap Kepala Sub Bagian Program Dinas Pertanian Sumut, Lusiantiny, kepada MedanBisnis di Medan, Jumat (28/12/2012).

Pada tahun 1990-an, jelas Lusiantiny, Sumut pernah mengalami masa jaya dalam hal luas lahan pertanaman kedelai, yakni mencapai 30.000 hektare. Karenanya, menurut dia, diperlukan langkah strategis untuk membangkitkan produksi kedelai di Sumut. Langkah strategis itu, ujarnya, melalui pengadaan kebijakan mengenai harga yang menguntungkan dan penggunaan benih varietas unggul.

Berdasarkan data yang ada, saat ini luas lahan pertanaman kedelai di Sumut tinggal tersisa 5.914 hektare dengan kemampuan produksi hanya 5.923 ton. Kondisi ini, kata Lusiantiny, jauh dibanding tahun sebelumnya di mana luas lahan pertanaman mencapai 11.413 hektare dengan produksi 11.425 ton. “Produksi kedelai kita masih rendah, hanya 1,1 ton per hektare, padahal dulu bisa mencapai dua-tiga ton per hektare,” imbuhnya.

Sebenarnya, lanjut Lusiantiny, pemerintah terus berupaya mengajak petani agar mau menanam kedelai sambil memberi bantuan berupa benih unggul, perbaikan sarana dan prasarana pertanaman dan bantuan teknis. Namun, petani masih enggan menanamnya karena dinilai kurang mengtuntungkan dibandingkan tanaman pertanian lainnya.

Juga diungkapkannya, target tanam kedelai tahun ini sebesar 7.640 hektare, namun yang berhasil direalisasi hanya 1.170 hektare dan hal ini diperparah dengan terjadinya perubahan pola tanam. Dalam hal ini, saat musim normal petani akan menggilir pertanaman padi dengan kedelai, namun karena sistem irigasi dan curah hujan yang tinggi maka petani lebih mau langsung menanam padi.

Persoalan lainnya, dikatakan Lusiantiny, harga jual kedelai lokal kalah saing dengan kedelai impor yang bisa lebih murah namun ukurannya lebih besar. (dewantoro)
sumber: medanbisnisdaily

This entry was posted in Berita, Informasi AgriBisnis. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *