KERAGAMAN TANPA TOLERANSI AKAN MELEBARKAN POTENSI KONFLIK

Medan, (Analisa). Besarnya keragaman sekaligus perbedaan jika tidak diimbangi dengan toleransi akan berimplikasi pada semakin melebarnya potensi konflik.
Apalagi kemajemukan juga memunculkan perubahan struktural masyarakat, yang ke depan akan semakin rumit.

Pengamat sosial kemasyarakat, Dr. H. Arifinsyah, M. Ag mengemukakan hal itu dalam makalahnya pada seminar Revitalisasi Nilai-nilai Kearifan Lokal Membangun Kebangsaan, Jumat (14/12) di Hotel Grand Kanaya Medan.

Seminar dengan moderator Drs R Gopala Krishna Naidu SH MBA itu, dibuka Kakankesbangpolinmas Sumut Drs. Edy Sofyan dan dihadiri Ketua Forum Pembauran Kebangsaan (FPK) Sumut Bahari Damanik beserta anggota dengan peserta sekira 150 orang dari lintas agama.

Dari besarnya keberagaman dan perbedaan itu, lanjut Arifinsyah, ke depan nyaris tidak ada lagi ruang yang homogen.Penyebab itu semua, karena semakin derasnya arus migrasi dan mobilisasi sosial masyarakat yang sangat dinamis.

Indonesia, katanya memiliki 1.128 suku dan 726 bahasa, 17.504 pulau, setidaknya enam agama resmi dan ratusan aliran kepercayaan, yang kesemuanya tidak mungkin diseragamkan.

Wawasan Kebangsaan

Disebutkannya, perjumpaan dan pergaulan antar suku, semakin mudah dengan melalui kesamaan tempat tinggal, perkawinan dan sebagainya.

Perjumpaan dan pergaulan satu agama yang berbeda aliran pemahaman semakin terbuka luas oleh karena itu akan timbul persoalan tentang simbol tradisi.

Kemampuan berintraksi sosial akan menentukan tentang kemampun mengelola konflik. Bahkan kemampuan mengelolanya dengan baik maka perbedaan justru memperkaya dan bisa sangat produktif.

Terkait wawasan kebangsaan, menurutnya, wawasan kebangsaan adalah cara pandang suatu bangsa mengenai diri dan idiologinya, serta cita-citanya yang diorientasikan untuk memperkokoh dan menjaga persatuan kebangsaan dan ketahanan bangsa.

Wawasan kebangsaan Indonesia tercetus pada Sumpah Pemuda 28 Oktober 1928 sebagai tekat perjuangan dan merupakan konvensi nasional.

Dia juga mengungkapkan pengganggu wawasan kebangsaan yakni; kebijakan nasional dan lokal yang tidak adil dan menyuburkan potensi perpecahan.

Kemudian elit yang menonjolkan kepentingan diri dan kelompok serta melupakan kepentingan bangsa, dan langkanya keteladanan. Hilangnya rasa bangga sebagai anak bangsa, kaburnya batas-batas kedaulatan negara dan globalisasi serta kemajuan teknologi transfomasi dan komunikasi. serta, tidak menghargai pluralitas, toleransi keberadaan anak-anak bangsa. (twh)
sumber: analisadaily

This entry was posted in Berita, Berita Pilihan. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *