KE KEBUN BINATANG INJIL DI YERUSALEM

Kalau berkunjung ke Yerusalem, jangan lupa mampir di  Kebun Binatang Injil.

Nama ini memang sangat biblis, tapi itulah asal-usul berdirinya kebun binatang ini, yakni menampung semua binatang  yang disebutkan di dalam Kita Suci Perjanjian Lama.

Selain itu, kebun binatang ini menjadi  tempat pertemuan yang sangat disenangi oleh orang-orang Yahudi ortodoks dan orang-orang Arab.

Pendiri kebun binatang ini terinspirasi dengan firman Tuhan dalam Kitab Yesaya Ayat 65, yang mengatakan, “Serigala dan domba sebaiknya bersama-sama makan rumput. Singa akan makan jerami seperti lembu, dan ular akan hidup dari debu. Tidak ada yang akan berbuat jahat atau merugikan di segenap bukit kudus-Ku.”

Karena itu pula, pada tahun 1940, Aharon Shulov, zoologis dari Yerusalem melepaskan sebuah domba dan serigala di sebuah kandang, seperti yang tertulis dalam Alkitab.

Tetapi tidak berhasil, Shulov berulang kali harus memasukkan domba baru, karena habis dimangsa serigala.

Aharon akhirnya mendirikan sebuah kebun binatang untuk semua hewan yang disebutkan dalam Perjanjian Lama.

Kebun binatang itu sekarang juga masih dinamakan Kebun Binatang Injil. Gagasan periset insekta itu memang besar yakni sebuah kebun binatang di Yerusalem di Gunung Scopus. Shulov memerlukan alat-alat peraga ilmiah.

Dia ingin mendekatkan universitas kepada penduduk di kota, dan Alkitab diharapkan hidup melalui bantuan binatang-binatang yang diperagakan.

Tetapi penduduk sekitarnya menolak hingar-bingar monyet-monyet. Kebun binatang itu harus beberapa kali pindah lokasi dalam beberapa tahun, dan cukup sibuk menghadapi tetangga yang menjadi histeris. Kebun binatang ini juga telah melewati sejumlah konflik bersenjata.

Sejak 1993, Kebun Binatang Injil yang luasnya sekitar 25 hektare itu, berlokasi di lembah Malha, di kaki Kota Yerusalem.

Checkpoint ke Tepi Barat menuju Bethlehem terlihat tidak jauh dari lokasi itu. Kandang-kandang binatang tersebar di lahan yang berbentuk teras antara batu-batu kapur di selingi dengan pepohonan dan semak-belukar, yang merupakan bagian dari ekologi Israel pada zaman dahulu. Misalnya, pohon fraxinus dan pohon cemara Aleppo.

“Kebun Binatang ini juga bertujuan untuk mengkonservasi flora dan fauna negeri itu,” ujar Sigalit Herz, pakar Biologi yang sejak tahun 1998 bertanggung jawab untuk pemasaran.

Ini adalah tugas yang sulit dan membuat frustasi di negeri yang kecil dan padat penduduk ini. Sejumlah besar dari 130 jenis binatang yang disinggung di Alkitab, bahkan sudah punah pada tahun 1940.

Sekarang jumlah kepunahan bertambah dan banyak yang terancam akan punah. Misalnya, kura-kura Negev, kucing pasir dan lain-lain.

Kebun binatang ini berupaya melepaskan binatang di alam atau setidaknya mencegah untuk punah. Misalnya berang-berang yang perlu air untuk hidup.

Di Israel hanya tersisa sekitar 100 ekor saja dari jenis ini. Karena itu, sejumlah berang-berang ditangkap di alam bebas dan kebun binatang Injil mengurusnya agar hewan itu berkembang biak.

Yahudi dan Arab Ramah

Kebun binatang ini dikenal di Israel sebagai ramah lingkungan. Sampah-sampah dipilah secara teliti. “Kami mendaur ulang air, menggunakan energi surya dan membuat kompos dari sampah organik,” kata Herz.

Kebun binatang ini hidup hanya dari karcis masuk dan sumbangan. “Karena itu kami membuat perencanaan yang sangat tepat,”  katanya.

Dan ini tampaknya berhasil baik, karena berakar pada kepercayaan Yahudi. Misalnya, setiap petani menyumbangkan 10 persen hasil panenyna.

Buah-buahan, gandum dan sayur-sayuran gratis,  Tapi daging harus dibeli, misalnya untuk kucing-kucing liar yang kelaparan.

Dan singa perlu 15 kilo daging dua hari sekali. Semua makanan hewan halal. Kebun binatang ini juga dibuka hari Sabtu (hari libur Yahudi). Ini cukup mengherankan karena lokasinya di Yerusalem, kota dengan pengaruh religius yang tinggi. Namun kaum Yahudi ortodoks tidak menentangnya. Orang-orang Arab juga tidak.

“Kedua kelompok merasa aman di sini, saling menghormati, dan keduanya kami sambut dengan sangat baik,” katanya.

Panduan tertulis dalam bahasa Arab dan Ibrani. Pedoman kebun binatang ini adalah untuk pendidikan. Dan ini ditanggapi secara serius oleh pimpinan kebun binatang.

Menurut pengalaman Sigalit Herz, baik orang Yahudi maupun Arab yang fanatik tidak menyibukkan dirinya dengan alam. Kedua kelompok ini juga tidak menjalin hubungan yang mendalam.

Hanya anak-anak mereka yang melewati batas ini. Misalnya saat mengamati penguin kaki hitam. “Bocah laki-laki itu sangat ramah,” ujar Hanifa (8 tahun) dari kawasan Gar Hilo di Yerusalem, di mana orang Yahudi dan Arab hidup di satu kawasan.

Dan Rahel yang hidup di kawasan ortodoks Kfar Shaul mengangguk dengan antusias. Tidak hanya pengunjung kebun binatang yang Yahudi dan Arab, tetapi juga karyawannya.

“Kami berusaha untuk menyampingkan politik,” demikian ditegaskan penjual karcis masuk, Jakob Ittach. [DW/L-8]
sumber: suarapembaruan

This entry was posted in Berita, Berita Pilihan. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *