PENDAMPINGAN PETANI KOPI DONGKRAK PRODUKSI

MedanBisnis –Medan. Agar produksi kopi bisa lebih maksimal, tidak hanya didukung dengan bibit yang unggul. Secara teknis, petani harus diberi pendampingan cara mengelola pertanamannya maupun sarana pokok lainnya seperti kemampuan membuat pupuk organik. Ketersediaan pupuk subsidi maupun non subsidi harus dijamin.
Direktur Eksekutif Sumatera Rainforest Institue Indonesia, Rasyid Assaf Dongoran, kepada MedanBisnis, Jumat (21/12) di Medan mengatakan, pihaknya konsen dalam memberikan dukungan teknis dan non teknis kepada petani kopi di Desa Telagah, Resort Bekncan, Langkat. “Di Desa Telagah, pertanian kopi masyarakat belum berproduksi secara maksimal,” katanya.

Umumnya kata dia, tanaman kopi milik petani di Desa Telagah merupakan jenis kopi ateng yang ditanam sejak 2001. Secara produksi, tanaman kopi kurang maksimal karena faktor kualitas bibit serta pengetahuan petani mengelola tanamannya.

Menurutnya, biarpun secara mendasar, petani mampu mengelolanya, namun tidak dapat dibiarkan sendiri tanpa pendampingan. Selama ini pemerintah hanya memberikan bantuan benih namun pendampingan berupa sosialisasi secara penuh kepada petani sangat kurang.

Padahal, tidak semua petani mengetahui cara mengelola tanaman kopi secara benar. Akibatnya, petani hanya memberikan perlakuan sederhana. “Harusnya tidak hanya diberikan bibit tapi sekaligus dibantu cara bertanam yang tepat agar produksinya maksimal,” katanya.

Selain dari sisi bibit, pupuk juga kerap menjadi permasalahan yang dialami petani. Tidak semua petani mendapatkan pupuk bersubsidi. Di sisi lain, petani tidak selalu memiliki kemampuan untuk membeli pupuk non subsidi. Dari  sini seharusnya petani diberikan pengetgahuan cara untuk membuat pupuk organik sendiri agar tidak ketergatungan terhadap pupuk yang sulit diperoleh tersebut.

Pihaknya yang konsen terhadap pemberdayaan masyarakat pedesaan berbasis sumberdaya alam ini berencana untuk membuat lokasi khusus pertanaman kopi di Desa Telagah seluas 50 hektare dengan memberdayakan masyarakat setempat.

Sebagian dari 50 hektare tersebut akan dijadikan sebagai lokasi percontohan pengelolaan pertanaman secara maksimal dan petani akan dibantu secara penuh dalam teknis pengembangan mulai dari pembibitan, penanaman, pemupukan, perawatan, pemanenan hingga pasca panen.

Ia menilai, jika petani di desa yang berbatasan dengan Taman Nasional Gunung Leuser (TNGL) ini dapat memperoleh kesejahteraan dari kopi, akan membuat petani ini tidak akan berpikir untuk memasuki TNGL untuk megambil kayu.  (dewantoro)
sumber: medanbisnisdaily

This entry was posted in Berita, Berita dan Informasi Utk Takasima, Informasi AgriBisnis, Informasi Untuk Kab. Karo. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *