KOPI LUWAK ORGANIK LAKU DI LUAR NEGERI

Agam, Sumbar (ANTARA News) – Pemasaran kopi luwak organik yang dirintis pengusaha di Kabupaten Agam, Sumatera Barat, mampu menarik minat konsumen hingga manca negara.

Umul Khairi, warga Jorong Batang Palupuh, Nagari Koto Rantang Kecamatan Palupuh, Kabupaten Agam yang merintis usaha rumahan kopi luwak organik, mamanfaatkan jasa wisatawan manca negara sebagai promosi.

“Dengan memanfaatkan jasa wisatawan manca negara yang berkunjung untuk melihat bunga raflesia di daerah ini, pemasaran kopi luwak ini telah mencapai negara Asia, Eropa, Amerika, dan Australia,” kata Umul, di Agam, Minggu.

Ia mengatakan, produk kopi organik yang diberi nama Rafflesia Luwak Coffe itu, memiliki kelebihan pada proses pembuatan kopi, dimana kopi yang diolah berasal dari luwak atau musang liar tanpa di kandangkan.

“Jenis kopi yang diolah yakni kopi arabika, karena jenisnya cocok untuk iklim di Sumbar,” katanya.

Umul menyebutkan, kopi luwak organik yang ia produksi diperoleh dari kopi yang langsung dimakan luwak pada batang kopi, bukan dari luwak yang dikandangkan.

Sedangkan, kopi yang dikeluarkan luwak diperoleh dari petani yang mencari secara langsung kopi-kopi tersebut di kebunnya.

Untuk menjaga keaslian biji kopi, ia tidak banyak mengambil petani pengumpul biji kopi tersebut. Ia hanya mempercayakan kepada beberapa petani saja yang sudah sangat dikenalnya.

Ia meyakini, luwak yang memakan biji kopi tersebut, hanya luwak yang mamakan tumbuhan saja, sementara kopi organik yang diperoleh langsung dari alam memiliki kandungan enzim yang lebih baik ketimbang luwak yang dikandangkan.

“Dalam satu sisi, tidak mengkandangkan luwak, termasuk upaya untuk menjaga ekosistem alam sekaligus populasi luwak di alam liar,” katanya.

Produksi kopi luwak di rumah umul memang terbatas, dalam satu bulan, paling banyak ia hanya mengolah 40 kilogram biji kopi.

Sedangkan hasil olahan berupa biji kopi belum digiling dan serbuk kopi, paling banyak hanya berkisar 10 hingga 15 kilogram per bulan.

Karena proses mendapatkan biji kopi dan pembuatannya cukup sulit, menjadikan harga kopi luwak yang ditawarkan mencapai Rp200 ribu per kilogramnya.

“Karena harga yang relatif mahal, saya lebih banyak mendapat pesanan dari wisatawan domestik dan manca negara yang pernah berkunjung di kawasan bunga raflesia ini,” katanya.(Ant)

This entry was posted in Berita, Berita dan Informasi Utk Takasima, Informasi AgriBisnis, Informasi Untuk Kab. Karo. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *