GAMBIR BERHASIL DIOLAH JADI PERMEN

Pakpak Bharat, (Analisa). Bupati Kabupaten Pakpak Bharat, Remigo Yolando Berutu MBA menyebut, memberi perhatian serius terhadap pendidikan non formal. Kegiatan dimaksud difokuskan pada peningkatan keterampilan.
Ditemui pekan kemarin, dijelaskan, kerja sama dengan balai penelitian di Medan Sumatera Utara, perguruan tinggi serta lembaga di Pulau Jawa terus diintensifkan. Sinyal kemajuan telah diperoleh walau belum pada stadium memutar roda ekonomi masyarakat. Pokok utama, peluang meraih nilai tambah kian cerah.

Gambir sebagai komoditas utama, kata alumnus La Trobe University, Melbourne Australia, sudah dapat diolah menjadi makanan siap saji berupa permen dan juice. Hanya saja, pembuatan masih skala kecil ditangani Dekranasda (Dewan Kerajinan Nasional Daerah).

Pemantapan mengenai ukuran, rasa dan kemasan masih dalam pengkajian. Butuh waktu minimal setengah tahun ke depan. Ketika produk sesuai permintaan pasar telah dipenuhi, processing partai besar segera dikembangkan. Pada kondisi itu, masyarakat diajak bermitra dengan badan usaha milik daerah guna mengolah besar-besaran serta halal.

Obsesi kami, tandas Remigo didampingi Sekretaris Daerah Drs Holler Sinamo MM dan Kabag Humas Kastro Manik, karya tersebut minimal menembus pasar Jakarta dan kota besar di Indonesia, termasuk apotik. Cita-cita ini sangat rasional mengingat zat kimia dalam gambir berfungsi sebagai bahan pencahar.

Sehubungan itu, keikutsertaan di beberapa expo akan digiatkan demi menembus marketing. Peluang lain, sedang dijakaki kemungkinan melempar ke produsen obat. Nantinya, BUMD akan membikin hasil setengah jadi lalu diolah perusahaan farmasi.

Keterbatasan bahan baku secara nasional, tambah dia, merupakan nilai plus Kabupaten Pakpak Bharat. Saat ini, budidaya 1 juta gambir tengah digalakkan. Bibit didistribusi ke sejumlah desa.

Sepengetahuannya, tanaman sejenis hanya diusahai petani di Kabupaten Lima Puluh Kota Sumatera Barat.

Sekadar gambaran, menu tadi mulai sering dipamerkan di berbagai even. Permen itu sudah disuguhkan kepada tamu pemerintah dan masyarakat.

Selama ini, transaksi lebih banyak dilakukan di Sidikalang Kabupaten Dairi dalam bentuk bulatan. Konsumennya adalah pemakan sirih. Ada kabar, getah itu juga diekspor ke India via pedagang perantara. (ssr)
sumber: analisadaily

This entry was posted in Berita, Informasi AgriBisnis. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *