DISBUN KEMBANGKAN BIBIT TEBU HASIL KULTUR JARINGAN

MedanBisnis –Medan. Meningkatkan produksi gula Sumatera Utara (Sumut), Dinas Perkebunan (Disbun) telah mengembangkan bibit tebu hasil kultur jaringan. Bibit bina yang memiliki rendemen tinggi ini dikembangkan oleh Kebun Benih Datar (KBD) di Kabupaten Langkat seluas 200 hektare.
“Sudah seharusnya petani tebu menggunakan varietas unggul yang memiliki tingkat rendemen tinggi. Sehingga meskipun lahan yang dimiliki sempit, namun dari segi produksi dapat ditingkatkan,” kata Kepala Bidang Produksi Disbun Sumut, Herawaty kepada MedanBisnis, Kamis (20/12) di Medan.

Dari segi perluasan lahan kata dia, tidak dimungkinkan untuk dilakukan sementara pengurangan lahan bisa terjadi mengingat tingginya konflik lahan yang terjadi saat ini.

Secara umum, sebutnya, produksi tebu di Indonesia menurun. Hal yang sama juga terjadi di Sumut namun tidak signifikan. Untuk Sumut, produksi gula masih berkisar 76,6 ton per hektare dari total lahan seluas 11.997 hektare yang terdiri dari tebu rakyat seluas 207 hektare dengan lahan milik sendiri, tebu mitra APTRI 1.064,12 hektare dan rental fee dengan lahan di lahan milik PTPN 2.

Maka, total tebu rakyat di Sumut seluas 1.271,12 hektare. “Ditambah tebu milik Koperasi Karpeda selkuas 333,3 hektare, tebu milik PTPN 2 seluas 9.628,73 hektare, maka total seluruhnya berkisar 11.997 hektare,” ujarnya.

“Hanya itu luasan lahan kita di Sumut, masih kecil dibandingkan dengan di Jawa,” katanya sambil menerangkan Lampung merupakan satu-satunya propinsi di Sumatera yang memiliki lahan perkebunan dengan produksi 1 juta ton.

Selama ini, lanjutnya, petani tebu di luar yang memiliki lahan sendiri, meminjam lahan milik PTPN 2. Dalam peminjaman tak jarang petani kesulitan meningkatkan produksi karena masa tanam yang tidak sesuai atau terlambat. Misalnya, penanaman yang baik dilakukan diawal tahun terlambat sampai pertengahan tahun. Ini disebabkan proses peminjaman yang memakan waktu.

“Lagipula, tebu itu nantinya ditumpangsarikan dengan kebun kelapa sawit, paling tidak mereka bisa bertanam selama 2 kali masa tanam, atau 2 tahun. Di atas itu, sulit karena semakin berumur kelapa sawit, akan banyak hara yang diserapnya, tebu akan kalah,” ungkapnya.(dewantoro)
sumber: medanbisnisdaily

This entry was posted in Berita, Berita dan Informasi Utk Takasima, Informasi AgriBisnis, Informasi Untuk Kab. Karo. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *