KORBAN PENYIRAMAN CUKA API TUNTUT KEADILAN

Sei Bingei, (Analisa). Natangsa Ginting (47) dan Wati (42), keduanya warga Dusun Tanjung Bingei Desa Mekar Jaya Namo Ukur Kecamatan Sei Bingei Kabupaten Langkat tak henti-hentinya berupaya menuntut keadilan kepada aparat penegak hukum.
Hal itu mereka lakukan, setelah Natangsa Ginting dan Sani Sembiring alias Sagon (46) merupakan suami dari Wati, diduga menjadi korban percobaan pembunuhan akibat disiram cairan cuka api oleh dua warga dari desa yang sama saat melintas di Jalan Besar Dusun Lau Salak Desa Mekar Jaya Namo Ukur Kecamatan Sei Bingei Kabupaten Langkat, pada 16 Maret 2012 lalu.

Akibat peristiwa itu, Natangsa Sembiring mengalami luka bakar di tangan kanannya dan buta pada mata sebelah kiri. Sedang Sani Sembiring tewas, Kamis (22/3), atau seminggu setelah kejadian usai menjalani perawatan intensif selama tiga hari di RSUD Dr Pirngadi Kota Medan akibat sekujur tubuh yang melepuh. Saat dijumpai Analisa di kediamannya, Minggu (16/12), Natangsa Sembiring mengaku bingung dan kecewa kepada pihak kepolisian, mengingat beberapa pengaduannya hingga sekarang justru tidak ditanggapi.

“Sudah berulang kali kami buat pengaduan ke polisi, namun tetap saja hasilnya nihil. Baik ke Polsek Sei Bingei, Polres Binjai hingga ke Poldasu sama sekali tidak ada tindaklanjutnya hingga sekarang. Alasannya sama, kata polisi kurang cukup bukti. “Padahal, alat bukti sudah kami bawa, termasuk data warga di lokasi kejadian yang bersedia dijadikan saksi,”ucap Natangsa Ginting.

“Kejadiannya kurang lebih sekitar delapan bulan lalu. Malam itu kami lagi jalan pulang dari Tanjung Langkat. Sampai di Dusun Lau Salak, tiba-tiba kami disiram cairan sama dua orang dari semak-semak, yang bikin kulit kami melepuh dan terasa perih. Meski kondisinya saat itu gelap, tapi saya yakin kalau mereka itu MP alias K dan RP alias R,” tuturnya.

“Kami heran sama kerja polisi. Kenapa kasus ini imbasnya kok sama orang lain. Sebab RS (37) yang saat kejadian masih ada di kampung justru sekarang ditahan dan dijadikan tersangka. Alasan polisi, katanya penahanan RS hasil pengembangan kasus perusakan lahan yang dilaporkan MS, Rabu (12/12).

Faktanya, kasus itu terjadi pada akhir bulan Maret 2012 atau setelah kasus penyiraman. Terlebih lagi, masalah perusakan lahan sebenarnya sudah selesai, setelah dilakukan perdamaian keluarga, pada Sabtu (17/11) lalu,” tambah Natangsa Ginting.

Sempat Diancam

Saat yang sama, Wati yang kini harus menafkahi keempat anaknya setelah kematian sang suami mengaku sempat mendapat ancaman dari SP yang tak lain kakak kandung dari MP.

Menurut Wati, ancaman dilakukan terkait usahanya dalam membuat pengaduan ke pihak kepolisian pasca kematian sang suami.

“Sebenarnya mau kali diteruskan kasus kematian suamiku itu ke polisi. Tapi karena takut, terpaksalah kubatalkan. Soalnya SP datang bawa parang, terus ngancam bunuh anak-anakku. Sampai-sampai, aku pun ungsikan mereka ke rumah saudara,”ungkap Wati.(wa)
sumber: analisadaily

This entry was posted in Berita, Berita dan Informasi Utk Takasima. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *