“KITA AKAN MINTA TAMBAH”

Kabid PLA dan Sarana Dinas Pertanian Sumut Adam Brayun

Pemangkasan alokasi urea subsidi sebanyak 47.600 ton bukanlah angka yang sedikit dan penetapan angka 160.000 ton itu tidaklah cukup untuk memenuhi kebutuhan pupuk urea di Sumatera Utara (Sumut) mengingat luas lahan pertaniannya berkisar 486.000 hektare (untuk satu musim tanam).
Mungkinkah akan terjadi kelangkaan pupuk, seperti yang pernah terjadi sekitar tahun 2009/2010 lalu? Petani sulit mendapatkan pupuk subsidi terutama pupuk urea. “Kita harapkan, hal itu tidak akan terjadi. Kalau memang jatah pupuk yang telah ditetapkan itu serapannya tinggi di tingkat petani, Dinas Pertanian Sumut akan meminta tambahan ke pusat,” jelas Kabid Pengelolaan Lahan Air dan Sarana Dinas Pertanian Sumut, Adam Brayun Nasution, ditemui MedanBisnis, Jumat (14/12) di Medan.

Memang, kata Adam, kalau dilihat dari luas lahan pertanian Sumut mencapai 486.000 hektare maka jatah yang diberi pusat itu sangatlah tidak cukup. “Kita mau bilang apa lagi? Mau protes, mana mungkin. Karena kita sudah dikasih 207.600 ton (jatah urea Sumut 2012) tapi tidak habis kita ‘makan’. Begitu juga tahun 2010, dikasih 230.000 ton tetap juga tidak habis. Yang salahkan kita juga,” kata Adam.

Pengalokasian pupuk tahun 2013 ini lanjut Adam merupakan evaluasi serapan pupuk di tahun 2012. “Rata-rata serapan pupuk kita hanya berkisar 75 – 80 persen per tahun dari pupuk yang disediakan. Bahkan, sampai dengan November lalu, serapan pupuk kita hanya berkisar 70 persen saja. Jadi, dari situlah pemerintah menetapkan kebutuhan pupuk urea subsidi kita hanya 160.000 ton,” terangnya.

Didampingi Kasi Sarana Pertanian Nurhijjah Siregar dan staf Anita Juli Friska, Adam menambahkan, secara nasional, anggaran untuk pupuk subsidi mengalami pengurangan sehingga alokasi ke masing-masing propinsi juga menurun.

Karena itu, dalam pendistribusiannya ke petani tetap berpedoman dengan cara sistem tertutup atau menggunakan Rencana Defenitif Kebutuhan Kelompok (RDKK). Dan, itu sesuai instruksi dari Sekjen Kemendagri pada Forum Pertemuan Pupuk se Indonesia pada tanggal 13 – 15 November 2012 lalu di Yogyakarta.

“Jadi, hanya petani yang tercatat dalam RDKK saja yang dilayani untuk mendapatkan pupuk subsidi. Karena pupuk ini merupakan sarana produksi yang vital bagi petani apalagi pupuk tersebut disubsidi pemerintah diharapkan bisa sampai kepada petani yang membutuhkan,” kata Adam.

Adam juga berharap, Pemerintah Kabupaten/kota segera mengeluarkan Peraturan Bupati (Perbup) dan Peraturan Walikota (Perwal) untuk masing-masing kecamatan, paling lambat akhir Desember ini. Sehingga, penggunaan pupuk per Januari tidak terganggu.

Pihaknya juga kata Adam, dalam rangka mempercepat terbitnya Perbup/Perwali telah menyampaikan draf Pergub ke kabupaten/kota untuk dibreakdown per kecamatan. Sehingga, ketika Pergub keluar, kabupaten/kota tinggal menomori Perbup dan Perwalnya.

Perubahan Putih ke Pink
Faktor lain yang menyebabkan rendahnya serapan pupuk subsidi terutama urea menurut Kasi Sarana Pertanian Nurhijjah Siregar, disebabkan rendahnya pemahaman petani akan pentingnya penggunaan pupuk yang tepat dan berimbang.

Selama ini, petani banyak menggunakan pupuk tunggal seperti urea, TSP atau KCl saja. Padahal, penggunaan pupuk majemuk NPK dan organik jauh lebih baik. Penggunaan pupuk tunggal hanya sebagai penambah dari kekurangan unsur majemuk itu.

NPK misalnya, kandungan N,P,K nya masing-masing 15,15,15 persen. Nah, petani tinggal menambahkan kekurangan dari unsur ini dengan menggunakan pupuk tunggal.

Secara umum, untuk satu hektare lahan, rekomendasi pupuk berimbang yang diberikan ke petani adalah NPK 300 kg, Urea 200 kg dan organik 500 – 1.000 kg. “Itu hanya untuk tanaman padi sawah, lain lagi untuk tanaman jagung dan sebagainya,” ujar Nurhijjah.

Terkait perubahan warna urea dari putih ke pink yang memengaruhi serapan pupuk urea rendah, Nurhijjah mengaku masih menimbulkan keraguan pada petani. Namun, Distan Sumut sudah menindaklanjutinya dengan mengambil sampel dari beberapa sentra pertanian Sumut, seperti Simalungun, Serdang  Bedagai, dan Dairi untuk di test di laboratorium.

Hasilnya menunjukan bahwa kandungan N pada urea berwarna pink sesuai dengan standar mutu yang ditentukan. “Dan, kami sudah dan akan terus menyosialisasikan bahwa perubahan warna pink pada urea tidak mengurangi mutu atau kadar urea itu sediri,” kata Nurhijjah.(junita sianturi)
sumber: medanbisnisdaily

This entry was posted in Berita, Berita dan Informasi Utk Takasima, Informasi AgriBisnis, Informasi Untuk Kab. Karo. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *