“ITU KEPUTUSAN YANG TEPAT”

Direktur CV Bedagai Agro Sejati:

Turunnya jatah pupuk subsidi untuk Sumatera Utara (Sumut) ternyata tidak terlalu dirisaukan para distributor pupuk subsidi yang merupakan mitra kerja produsen pupuk. Bahkan, apa yang dilakukan pemerintah itu dianggap merupakan keputusan yang tepat meski sesungguhnya income (pendapatan) mereka juga akan turun.
“Dari sisi pendapatan jelas akan menurun. Tapi, itu jauh lebih baik ketimbang kami ‘dipaksa’ menebus pupuk sesuai SK Perbub yang tidak sesuai dengan fakta di lapangan,” ucap Direktur CV Bedagai Agro Sejati, salah satu distributor pupuk subsidi, Rismauli Nadeak, kepada MedanBisnis, Rabu (12/12) di Medan.

Dan tiap tahun, lanjut Risma, alokasi pupuk subsidi terutama urea untuk Sumut memang selalu menurun karena realisasinya tidak pernah mencapai seratus persen. Tahun 2011 misalnya, dialokasikan 230.000 ton, kemudian tahun 2012 menjadi 207.000 ton dan tahun 2013 turun drastis menjadi 160.000 ton. “Jadi, dibuat pun alokasinya besar tapi yang terserap hanya berkisar 160.000 ton, itulah yang rilnya kebutuhan petani,” terangnya.

Ia menilai tingginya alokasi urea subsidi di tahun-tahun sebelumnya disebabkan adanya mark up luas lahan sementara dosis pupuk yang dianjurkan 150 kg per hektare. Nah, pada saat kuota pupuk ditetapkan tinggi sementara luas lahan tidak bertambah, otomatis pupuk yang diberikan berlebih.

Kemudian, lanjut Risma, perubahan warna urea dari putih ke pink juga sangat memengaruhi. Petani, masih enggan menggunakan urea berwarna pink, mereka menilai perubahan warna tersebut memengaruhi mutu urea. Padahal,  pewarnaan pada urea bersubsidi tak lain hanya untuk melindungi petani dari orang yang tak bertanggungjawab.

“Ketika berwarna putih, banyak urea yang ‘lari’. Tidak sampai ke petani yang seharusnya menerima pupuk tersebut. Dan, umumnya lari ke perkebunan. Penyelewengan itu banyak terjadi tapi sejak berwarna pink, kita nyaris tidak mendengar adanya urea yang diselewengkan,” jelasnya.

Petani, kata dia, harus tahu bahwa pewarnaan itu tidak memengaruhi mutu dari urea. Pewarnaan itu hanya untuk lebih melindungi petani agar tepat sasaran.

“Untungnya petani di wilayah kerja saya yakni Kecamatan Tebingtinggi dan Sipispis, Kabupaten Serdang Bedagai tidak mempersoalkan itu. Kebutuhan tetap saja tinggi, mencapai 80 persen dari alokasi yang ditetapkan,” sebutnya tersenyum.( junita sianturi)
sumber: medanbisnisdaily

This entry was posted in Berita, Berita dan Informasi Utk Takasima, Informasi AgriBisnis, Informasi Untuk Kab. Karo. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *