SEPANJANG JALAN URUNG BARUS MERGANA (BAGIAN 3): JALAN TALA BARUS

BASTANTA PERMANA MELIALA. PATUMBAK. Dalam beberapa kesempatan, para tokoh masyarakat dan pemuda Kampung Karo – Patumbak tidak jarang melontarkan keinginan menabalkan jalan ke Kampung Karo ini dengan nama Karo. Salah satunya, usulan nama pendiri Kampung Karo yakni Tala Barus. Bukan hanya itu, di tingkat kecamatan juga beberapa kali muncul wacana menabalkan nama Tengku Wan Epen Barus yang merupakan Raja Urung Senembah menjadi nama Jalan Besar Patumbak yang sampai saat ini masih bernama Jalan Pertahanan. Namun, hingga kini, usulan itu tetap sebatas wacana dan wacananya pun telah padam tanpa bekas.

Latar belakang munculnya wacana nama jalan ini adalah kerinduan akan wajah Patumbak dahulu yang kental dengan rasa kekaroan dan kemelayuan. Patumbak yang kini menjadi salah satu kecamatan di Kabupaten Deliserdang (Kecamatan Patumbak) dulunya adalah bagian salah satu urung Karo bernama Senembah dengan raja urung dari merga Karo-karo Barus. Ibu kota Urung Senembah dalam sejarah tercatat berkedudukan di Patumbak. Hal ini masih tampak dengan berdirinya sebuah bangunan tua tepat di simpang menuju Kampung Karo, ±100 meter dari Kantor Camat Patumbak, yang dalam penuturan warga setempat disebut sapo/rumah mbelin. Bangunan ini tidak lain adalah istana ataupun kediaman keluarga Raja Urung Senembah hingga saat ini.

Wacana itu terdengar lebih mengaung di Kampung Karo, mengingat telah terkikisnya, bahkan hampir lenyap, rasa kekaroan di bumi Senembah Patumbak Simalem ini. Hanya Kampung Karo – Patumbak inilah satu-satunya yang hingga kini menunjukkan kekaroan walaupun kini hanya sebatas nama saja.

Cara pandang masyarakat Karo yang lebih mengedepankan harmonisasi ketimbang eksploitasi ataupun penaklukan, membuat pergerakan itu melambat, kian meredup, dan sesekali muncul kembali jika diasah. Bila terlalu sering diasah, tetap sifat yang lebih mengedepankan harmonisasi, terlalu memikirkan orang sekitar, sehingga nama yang bersifat lebih nasionalis lebih diutamakan daripada nama kedaerahan. Namun, lucunya, di satu sisi ini, terasa sangat aneh. Saat teman-teman dari etnis lain memaksakan untuk menabalkan yang identik dengan etnisnya seperti yang terjadi pada Bandara Internasional Kuala Namo, masyarakat Karo kebakaran jenggot. Jadi, apa salahnya kita mengusulkan nama yang identik dengan kita? Toh memang itu daerah kita dan kampung halaman kita? Bukankah dengan demikian kita turut berperan menjaga kekayaan bangsa ini?
Mejuah-juah!
sumber : sorasirulo

This entry was posted in Berita, Berita dan Informasi Utk Takasima, Opini. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *