BEA EKSPOR CPO RIAU CAPAI RP9,55 TRILIUN

PEKANBARU–MICOM: Provinsi Riau telah menyumbang sekitar Rp9,55 triliun atau 33,4 persen dari total bea ekspor CPO secara nasional yakni sebesar Rp28,9 triliun sesuai data Badan Kebijakan Fiskal Kementerian Keuangan RI tahun 2012.

“Sumbangan tersebut belum dihitung pendapatan bea ekspor dari komoditi lain yaitu kelapa, karet, sagu, kakao dan lain-lain,” kata Gubenur Riau Rusli Zainal diwakili Kepala Dinas Perkebunan Provinsi Riau, Zulher, ketika membuka secara resmi lokakarya pemberdayaan potensi perkebunan sebagai pilar ekonomi Riau, di Pekanbaru, Kamis (13/12).

Lokakarya tersebut diikuti 150 pelaku perkebunan, terdiri atas petani perkebunan kabupaten/kota sebanyak 80 orang, perusahaan perkebunan 30 orang anggota GAPKI, dan sejumlah aparatur dinas perkebunan kabupaten/kota se-Provinsi Riau.

Provinsi Riau menurut statistik perkebunan tahun 2011, memiliki luas perkebunan di Provinsi Riau adalah seluas 3,4 juta Ha, dengan urutan terluas adalah perkebunan kelapa sawit seluas 2,26 juta hektare, perkebunan kelapa seluas 521.038 Ha, perkebunan karet 504.139 Ha, dan lain-lain komoditi sisanya seluas 119.082 Ha yang terdiri atas 11 komoditi yakni kakao, kopi, sagu, pinang, lada, kayu manis, enau/aren dan gambir,

Tidak bisa dipungkiri bahwa perkebunan merupakan penggerak utama atau pilar utama ekonomi Riau, mengingat sebarannya yang sangat luas dan melibatkan kurang lebih 980.605 KK petani.

Jika asumsi 1 KK terdiri dari 4 orang, maka kurang lebih 3,922 juta orang menggantungkan hidupnya dari perkebunan. Ini merupakan 70% dari jumlah penduduk di Provinsi Riau yang sebanyak 5,5 juta Ha.

“Pembangunan sub sektor perkebunan di Provinsi Riau yang dilaksanakan selama ini telah menunjukkan perkembangan yang signifikan,” katanya.

Hal ini ditandai dengan meningkatnya PDRB sub sektor perkebunan dan kehutanan Provinsi Riau rata-rata sebesar 24,95 persen per tahun dalam 5 tahun terakhir.

Keberhasilan ini, katanya, merupakan suatu prestasi yang sangat menggembirakan dan perlu dipertahankan untuk masa mendatang seiring dengan semakin beratnya persaingan di era globalisasi apalagi kini Riau juga terkena damapk krisis moneter internasional.

Sementara itu, terpilihnya Provinsi Riau sebagai salah satu cluster industri hilir kelapa sawit di samping Provinsi Sumatera Utara dan Provinsi Kalimantan Timur, juga merupakan bukti bahwa Pemerintah Pusat telah memberikan perhatian yang lebih kepada Provinsi Riau.

“Hal ini juga mengantarkan Riau pada tahun 2010 atas penghargaan Regional Champion sebagai salah satu dari tujuh daerah tujuan investasi oleh BKPM,” katanya.

Ia menambahkan, perusahaan besar sudah banyak mengembangkan pengusahaan kelapa sawit, namun untuk komoditi lainnya masih didominasi rakyat dan dalam skala rumah tangga.

Karena itu, perlu dikawal terus, agar perekonomian petani rakyat makin kuat dan melalui lokakarya ini diharapkan petani dapat menyerap ilmu dari para nara sumber yang selanjutnya dapat meningkatkan produktivitas dan perbaikan budidaya pada tanaman.

Sedangkan untuk para aparatur diharapkan dapat membuat kebijakan-kebijakan dan kegiatan-kegiatan yang mendukung peningkatan
produksi dan ketahanan pangan di tingkat petani, tambahnya. (Ant/Ol-3)
sumber: mediaindonesia

This entry was posted in Berita, Informasi AgriBisnis. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *