LEBIH MENCINTAI INDONESIA SETELAH BERMUKIM DI JAYAPURA..

Papua adalah tempat yang tidak pernah terbayangkan untuk menjadi tempat tugas ayah saya. Ketika saya naik kelas 2 SMP, ayah saya harus ditugaskan di Papua yang saat itu bernama Irian Jaya. Mendengar kata Irian Jaya, yang terlintas dalam benak saya peradaban primitif dan menyeramkan. Sempat tak mau ikut pindah, namun ayah saya mengatakan: “anak hanya dua, mengapa harus terpisah-pisah”. Adik saya saat itu masih kelas 5 SD, sehingga tidak punya keinginan untuk pisah dari orang tua.

Ternyata bermukim di Papua telah membuat saya makin mencintai Indonesia, juga membuat saya mengerti apa itu makna dari sebuah nasionalisme. Berikut hal-hal yang membuat saya lebih cinta terhadap Indonesia :

Letak Geografis (Di Ujung Timur Indonesia) Membuat Saya Mengenal Kota-kota Lain.

Bila anda berpesawat dari Jakarta menuju Jayapura, anda akan transit paling tidak di 3 kota. Ada yang rute transitnya di Surabaya – Ambon – Sorong, Makasar – Manando – Biak, Makasar – Ambon – Timika dan lain-lain. Dengan transit-transit ini anda menjadi kenal bandara-bandara di Indonesia dan sekaligus hapal nama-namanya.

Perjalanan tersebut mengajarkan saya untuk mengetahui bandara-bandara di Indonesia dan juga belajar nama-nama kota di Indonesia.

Belum lagi bila anda menggunakan Kapal Laut yang memakan waktu paling tidak seminggu, yang secara tidak langsung anda seperti keliling Indonesia. Contoh bila anda naik KM Sinabung maka anda akan melewati rute: TANJUNG PRIOK – SEMARANG – MAKASSAR – BAU-BAU – BANGGAI – BITUNG – TERNATE – SORONG – MANOKWARI – BIAK – SERUI – JAYAPURA, yang ditiap kota akan bersandar 4 sampai 8 jam. Anda bisa keliling kota tersebut melakukan wisata kecil-kecilan. Biasanya di dermaga ada jasa travel untuk wisata dengan berbagai paket sesuai waktu sandar kapal tersebut. Dengan menggunakan transportasi Kapal Laut anda akan lebih mengenal Indonesia dengan mengunjungi kota tempat kapal bersandar.

Keberagaman Suku dan Budaya Membuat Saya Mengerti Arti Bhineka Tunggal Ika.

Saya sering berpindah-pindah tempat tinggal, karena tuntutan dinas ayah saya. Selama saya tinggal di wilayah barat Indonesia, saya tidak menemukan teman dari perwakilan seluruh propinsi di Indonesia. Hal ini berbeda saat saya tinggal di Jayapura, teman sekolah saya beraneka suku, mulai dari Sabang sampai Merauke. Bahkan ada yang berasal dari Dili, dulu Timor Leste masih menjadi bagian NKRI.

Saya menjadi tau budaya Papua, Sulawesi, Maluku, bahkan teman saya yang orang Toraja, sudah membuat saya mengerti tata cara upacara pemakaman yang memakan waktu 40 hari dan dia ijin selama itu karena hal itu sangat penting bagi suku mereka. Guru kami pun memberi ijin. Disana guru punya banyak kelonggaran untuk hal-hal seperti itu.

Sementara itu anda jangan heran bila di Papua, anda sering bertemu babi hitam berkeliaran dijalanan. Karena bagi orang Papua, babi adalah hewan yang sangat berharga. Karena babi digunakan untuk berbagai perayaan adat, bahkan untuk upacara seperti kelahiran, menstruasi yang pertama kali juga saat kematian. Jangan sekali-kali anda menabrak babi peliharaan, karena urusannya bisa panjang sama dengan anda menabrak orang, ganti ruginya tinggi bahkan bisa sampai ke pengadilan.

Kami berbaur dengan keragaman itu, sekaligus berbagi cerita tentang kebudayaan masing-masing. Dan hal tersebut memperkaya wawasan saya tentang berbagai suku di Indonesia.

Toleransi Beragama Membuat Saya Menghargai Perbedaan Keyakinan.

Di Papua sulit mencari agama mayoritas, karena yang beragama Islam disana hanya sebagian dari jumlah penduduk yang tinggal di Papua. Demikian halnya dengan agama Katolik dan Kristen Protestan. Seakan agama terbagi-bagi seimbang. Hal ini terlihat saat pelajaran agama, biasanya digabung dua atau 3 kelas yang terpecah dengan jumlah sama besar. Untuk agama Budha dan Hindu memang sedikit, namun tetap menurut saya lebih banyak dibanding saat saya sekolah di Jakarta ataupun di Padang.

Konflik agama boleh dibilang tidak pernah menjadi isu di Papua. Saya kagum dengan cara bertoleransi penduduk di Papua. Percaya atau tidak berlebaran di Papua lebih ramai dari pada berlebaran di Jakarta. Karena warga Papua punya kebiasaan, walaupun mereka tidak merayakan lebaran, namun mereka akan berkunjung ke rumah anda, untuk mengucapkan selamat lebaran dan bersilahturahmi. Jangankan orang yang anda kenal, yang tidak kenal pun pasti akan mampir mengucapkan selamat. Apalagi yang beragama Islam pasti akan saling mengunjungi. Jadi disana lebaran itu wajib “open house”, karena tamu akan banyak berkunjung dan di rumah saya, biasanya kami menyediakan prasmanan. Tamu seharian itu bisa seratusan orang, sampai pegal rasanya tangan mencuci piring. Dan dihari ketiga lebaran teman-teman saya ramai datang ke rumah untuk mengunjungi semua guru-guru yang beragama Islam.

Hal ini pun berlaku saat Natal tiba, budaya silahturahmi ke setiap teman, tetangga dan guru yang merayakannya pun dilakukan oleh umat beragama lain. Libur Natal biasanya selama dua minggu hingga tahun baru. Bahkan saya jadi tau, bahwa orang yang beragama Advent, tidak memakan hewan juga beribadah di hari sabtu. Sehingga dulu teman saya, tiap hari sabtu bolos sekolah (saat itu hari kerja masih 6 hari). Begitu juga saat Paskah, saya heran mengapa liburnya juga dua minggu. Ternyata karena ada sebagian umat Kristen aliran tertentu, yang merayakan Paskah lebih besar dari Natal, karena justru saat Natal mereka tidak merayakannya dengan meriah, hanya melakukan misa di gereja.

Satu lagi yang saya salut terhadap orang-orang yang tinggal di Papua adalah saat Hari Nyepi. Tetangga saya dua rumah di sebelah rumah saya adalah orang Bali yang beragama Hindu. Untuk menghormati mereka yang sedang menjalankan ibadah Nyepi, jalan di blok itu ditutup, tidak boleh dilewati kendaraan. Bila ada yang ingin lewat maka mereka harus berputar. Dan kami para tetangga dengan kesadaran sendiri tidak membuat kegaduhan sepanjang hari tersebut.

Indahnya toleransi umat beragama di Papua sungguh membawa kita untuk saling menghargai keyakinan kita masing-masing.

Papua Memiliki 200 sampai 300 Bahasa Daerah Membuat Saya Mencintai Bahasa Indonesia.

Papua adalah propinsi yang kaya akan bahasa, ada 200 sampai 300 bahasa daerah yang mereka miliki. Dengan banyaknya bahasa daerah, banyak orang Papua yang seusia saya sudah tidak lagi bisa berbahasa nenek moyangnya. Sehingga di Papua tidak ada pelajaran bahasa daerah dan juga menjadikan bahasa Indonesia menjadi bahasa komunikasi di Papua, yang tentu saja dengan dialek khas Papua.

Bahasa Indonesia berdialek Papua masih sangat baku, hanya saja disingkat-singkat dan disampaikan dengan cepat. Bila anda baru saja tinggal di Papua, anda akan mengalami kesulitan untuk memahami pembicaraan mereka. Sebagai contoh bila anda ingin mengatakan : “Tukeran dong pensilnya”, maka dialek Papua menjadi : “Mari kitong baku tukar pensil”. “Kitong” itu singkatan dari “kita orang”, kalau “dia orang” disingkat menjadi “dong”. Sedang kalau: “Kamu mau pergi kemana?” menjadi “Ko pi manakah?”.

Banyak hal yang unik dari gaya bahasa Indonesia di Papua.  Namun yang membuat saya cinta terhadap bahasa pemersatu bangsa Indonesia ini adalah bila anda di Papua, jangan sekali-kali gunakan bahasa suku anda, karena mereka akan berkomentar miring tentang itu. Contoh bila ada orang Jawa menggunakan bahasa Jawa, maka akan dikomentari : “hai, ko kira disini ko pu Jawa kah?” (hai emangnya disini Jawanya kamu?). Atau bila ada orang bicara pakai dialek Jakarta dengan “lu-gue” nya, maka akan dikomentari: “wuiih sejak kapan monas pindah ke Jayapura kah?” atau “ko beli “gue” berapakah di Jakarta” (berapa kamu beli “gue” di Jakarta) atau bisa juga: “mulut masih bau sagu saja, su bagaya bicara “lu-gue”” (mulut masih bau sagu saja, sudah sok ngomong “lu-gue”).

Dengan ejek-ejekan tersebut, membuat kita melupakan bahasa suku kita masing-masing, sehingga hanya bahasa Indonesia lah bahasa komunikasi yang diperbolehkan di Papua.

Obyek Wisata Membuat Saya Mencintai Alam Indonesia.

Obyek wisata disana masih sangat alamiah. Seperti Sungai Swembad, yang berada di Ifar Gunung, Sentani, Jayapura, airnya masih jernih dengan batu-batu kali yang besar-besar dan aliran air yang menyegarkan. Sungai ini sering menjadi tempat berlibur dengan keluarga ataupun teman. Jalan menuju kesana tidak bisa menggunakan kendaraan, biasa kami berjalan dari jalan raya sambil menikmati pemandangan.

Sementara pantai Holtekamp yang berjarak 50km dari kota Jayapura, merupakan pantai samudera Pasifik, dengan pasir putih, ombak dan panorama yang dahsyat. Dan masih sangat alamiah, saking alamiahnya tak ada pedagang disana. Jadi biasanya kesana rombongan membawa bekal piknik, atau makanan untuk dibakar disana.

Ada juga air terjun Cycloop di Sentani, Jayapura dengan keindahan yang luarbiasa, masih belum terjamah dengan air terjun yang jernih. Dan menuju kesana pun, harus mendaki gunung Cycloop dulu sambil menikmati burung-burung yang indah berterbangan, mulai dari cendrawasih, kakatua dan lain-lain.

Danau Sentani pun merupakan panorama yang tak kalah indah dan tiap tahun diadakan Festival Danau Sentani yang unik. Bila anda berkunjung ke Tugu Mac Arthur, yang merupakan tugu peninggalan Belanda, dari tugu tersebut anda akan melihat pemandangan danau dan kota Sentani yang berada jauh dibawahnya.

Untuk didaerah Jayapura dan sekitarnya saja masih banyak lagi tempat-tempat indah yang bisa anda kunjungi. Apalagi bila anda ke kabupaten-kabupaten yang lain di Papua.

Dulu teman-teman saya yang jurusan Biologi, seringkali membuat saya iri. Karena mereka tidak hanya praktikum di laboratorium, sesekali mereka praktikum langsung di alam, sungguh menyenangkan.

Hal Unik yang Membuat Saya Menyadari Indahnya Perbedaan dan Keberagaman.

1. Kerajinan

Orang Papua sangat pandai memahat dan melukis, bila anda ke Papua anda akan banyak menemui kerajinan patung-patung asmat dan ukiran-ukiran. Souvenir yang bisa anda beli pun bermacam-macam mulai dari hiasan telur burung kaswari yang indah, perhiasan emas (bentuk burung cendrawasih, ukiran asmat, tifa atau mutiara dengan berbagai warna), tas dari bulu Kangguru sampai koteka yang permukaannya diukir dengan gambar panorama Papua.

2. Flora dan Fauna Khas Papua

Papua adalah pulau yang kaya akan satwa langka terutama burung, sebut saja cendrawasih, nuri Papua, kakatua, kaswari Papua yang dilindungi karena spesies nya makin sedikit, bahkan ada juga Kangguru Papua yang terdapat dibeberapa daerah seperti Merauke. Di Papua juga ada hewan yang terkenal, namanya ular kaki empat, bentuknya lebih seperti reptil namun dengan tubuh yang memanjang dan lumayan besar. Untuk tumbuhan anggrek Papua sangat langka dan terkenal. Sedang untuk buah, Matoa merupakan buah khas yang hanya ditemui di Papua, yang memiliki bentuk seperti buah kelapa kecil sebesar buah rambutan, isinya lebih seperti kelengkeng yang memiliki rasa perpaduan antara rambutan dengan kelengkeng.

Banyak spesies hewan dan tumbuhan yang unik dan bahkan baru ditemukan di Papua. Dan uniknya satwa-satwa di Papua biasanya tidak mudah untuk dipelihara, mereka hanya bisa hidup di alam bebas. Teman ayah saya pernah mencoba memelihara cendrawasih dengan membuat sangkar sangat besar sekitar 100m2, tetap saja tiga bulan kemudian sang cendrawasih pun mati.

3. Mob

Bila anda tinggal di Papua, tiap hari anda akan terhibur dengan mob. Mob itu adalah cerita-cerita lucu yang kadang aneh tapi lucu. Mob juga sering berisi cerita lucu dari suku yang satu dengan suku yang lain dari berbagai daerah di Indonesia. Setiap hari kalau sedang berkumpul, pasti ada saja yang bercerita mob. Yang secara tidak langsung berbagi pengetahuan dengan humor.

4. Keramahan, Kebaikan Orang Papua dan Konflik

Menurut saya orang Papua adalah orang yang sangat ramah. Saat nenek saya berkunjung ke Papua dan berjalan-jalan di pagi hari keliling komplek, nenek saya selalu disapa oleh orang Papua, padahal mereka tidak kenal. Ada yang menyapa “selamat pagi mama”, atau “selamat pagi nenek”, dan mereka selalu tersenyum dan menganggukan kepala.

Dan mengenai kebaikan, orang Papua sungguh diluar dugaan. Ayah saya pernah kecelakaan mobil terperosok jatuh ke jurang yang dalam. Tiba-tiba ada orang Papua yang menyelamatkan dan ayah saya diantar ke asrama tentara terdekat. Dia tidak mau diberi uang, malah kemudian dia menjenguk ayah saya dengan membawa hasil tambak ikannya juga hasil panen kebun yang tidak sedikit.

Pernah lagi mobil ayah saya mogok dijalan saat tengah malam, tiba-tiba di bantu oleh orang Papua yang tidak mau dibayar juga. Sampai akhirnya ayah saya mengundang dia untuk makan malam di rumah.

Orang Papua pada dasarnya adalah orang yang tulus, namun mereka juga terkadang lugu, saking lugunya jadi sering dimanfaatkan juga mudah di provokasi. Hal ini yang membuat sering terjadi konflik antar suku di Papua. Tapi entah bagaimana, itu hanya pada saat konflik terjadi, besoknya mereka biasa saja bahkan berteman lagi.

Di Papua konflik sering terjadi antara suku-suku Papua atau antara Maluku dengan Papua atau bahkan Jawa dengan Maluku atau Makasar dengan Bugis dan lain-lain. Yang paling repot kalau Makasar dengan Bugis sedang berkelahi, pasar bisa tutup tiga hari, karena pedagang mayoritas berasal dari Makasar dan Bugis. Namun setelah mereda, mereka akrab kembali dan berjalan harmonis lagi.

5. Gempa

Di Papua hampir tiap minggu terjadi gempa. Saat awal tinggal di Papua, bila ada gempa kami berlari-lari keluar rumah. Dan heran kenapa tidak ada yang keluar rumah. Ternyata orang disana sudah terbiasa dengan gempa di bawah 6 skala richter, selain itu rumah disana sudah didesign tahan gempa. Saya ingat waktu disekolah terjadi gempa, kami santai tetap belajar, walau alat tulis sudah berjatuhan karena memang sering terjadi. Tapi sekali waktu gempa terjadi lebih dari 10 menit, kami mulai waspada, saat sudah berlari keluar, gempa pun berhenti. Saya sering mengalami tidur seperti diayunan yang berayun sangat kencang saat malam hari. Awalnya selalu terbangun, lama-lama semakin biasa sehingga malah terbuai mimpi.

Gempa 8 skala richter pernah terjadi dengan pusat gempa di Biak. Saat itu Bandara Internasional Biak lumpuh, banyak jalan yang terbelah. Salutnya rumah-rumah dan gedung-gedung di Biak tidak ada yang sampai ambruk, hanya retak disana sini dan ubin-ubinnya pecah. Dan di Jayapura yang dekat dengan Biak, tidak berefek pada bangunan-bangunannya. Kami hanya merasakan guncangan yang hebat. Gempa di Biak terjadi karena, pulau Biak yang kecil yang semakin kebawah semakin mengerucut, sehingga sering terjadi patahan.

Menurut guru geografi saya, di Papua sering terjadi gempa karena gunung-gunungnya masih muda, sehingga masih akan sering bergeser. Dengan gunung-gunung yang masih muda tersebut, di kemudian hari tidak hanya di Timika saja, gunung-gunung lain di Papua di masa depan akan menjadi penghasil tambang nikel, tembaga, emas dan lain-lain. Dan hal itulah yang menjadi incaran Australia sejak tahun 1980an.

Ada hal yang luar biasa terjadi seputar emas. Sekitar tahun 1997, 1998 atau 1999 di Jayapura, heboh karena di halaman-halaman rumah terdapat kandungan emas. Dan memang banyak yang menyianginya dan memeperoleh emas. Jadilah warga Jayapura berburu emas dipekarangan rumah masing-masing.

6. Mabuk

Saya dulu takut keluar di atas jam 7 malam, karena banyak orang mabuk di pinggir jalan. Orang Papua memang senang sekali minum alkohol, apalagi kalau awal bulan, banyak sekali orang mabuk di pinggir jalan. Lama kelamaan saya tidak takut lagi keluar malam, karena ternyata mereka mabuk tapi tidak menganggu orang lain. Benar-benar hanya mabuk berat tanpa membuat keributan. Bahkan kebanyakan mereka tepar di pinggir jalan.

7. Jam Berdagang

Di Papua berdagang ada jamnya, dari jam 8 pagi sampai jam 1 siang, kemudian mereka istirahat tidur siang, nanti buka lagi jam 3 atau 4 sore sampai jam 7 atau 9 malam. Jadi bila anda mencari warung jam 1 siang, tidak akan ada yang buka, lebih baik menunggu hingga jam 4 sore.

8. Makanan Khas Papua dan Kegemaran Mengunyah Pinang

Makanan yang terbuat dari sagu, sangat banyak diperoleh di Papua. Kue-kue yang terbuat dari sagu, sangat banyak ragamnya dan lumayan enak. Yang harus anda coba saat ke Papua adalah Papeda, bila pertama kali melihat, anda pasti takkan tertarik, tapi begitu mencobanya, anda akan ketagihan. Papeda terbuat dari sagu yang diberi kuah yang pedas di campur sayur dan ikan.

Orang Papua punya kegemaran unik yaitu mengunyah buah pinang, dan itulah yang menyebabkan gigi mereka putih dan kuat hingga tua.

Pengalaman dan pelajaran yang luarbiasa yang saya peroleh selama tinggal di Papua dari Juni 1990 sampai dengan Juni 1995. Walau saya sudah menguraikannya dengan panjang lebar, tetap belum semuanya tersampaikan.

Semua yang pernah saya alami selama di Papua, membuat saya bangga menjadi orang Indonesia yang Bhineka Tunggal Ika. Oleh : Priadarsini (dessy)
sumber : sumber : kompasiana

This entry was posted in Berita, Opini. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *