KOLOM JUARA R. GINTING: NENEKKU BERU GINTING PASE

Beberapa hari yang lalu, saya bertemu dengan seorang laki-laki Karo yang sedang mengikuti program singkat Asosiasi Tradisi Lisan (ATL) dari Indonesia ke Napoli, Italy. Dia sedang menyelesaikan Studi program doktor (PhD) di salah satu universitas di Medan mengenai turi-turin. Sebagian peserta program singkat ATL ini dikirim ke Napoli dan sebagian lainnya ke Leiden.

Laki-laki Karo ini adalah kelompok yang dikirim ke Napoli. Tapi, beberapa hari lalu, mereka mengunjungi rekan-rekan mereka yang dikirim ke Leiden (Nederland). Kamipun bertemu dan berbincang-bincang di sebuah rumah makan Indonesia di Leiden yang kebetulan pemiliknya adalah seorang perempuan Karo. Nelly br Sembiring, si pemilik rumah makan. Dia adalah vokalis dan penari kelompok musik dan tari tradisional Karo yang saya bina di Belanda, TARTAR BINTANG.

Tartar Bintang usai nampil di Den Haag (Mei 2012) dalam sebuah seminar yang diadakan oleh beberapa kantor walikota di Belanda (Den Haag, Amsterdam, Rotterdam dan Utrecht)

Selain ertutur dan berbincang-bincang mengenai perkembangan teori-teori yang berkaitan dengan tradisi lisan, sampailah percakapan kami pada suatu hal yang menarik mengenai Karo. Dia mengatakan saya adalah kalimbubunya karena ayahnya bebere Ginting. Setelah tahu dia berasal dari daerah Urung Senembah (Deliserdang), saya menduga ayahnya bebere Ginting Munte. Memang Senembah adalah urung panteken Barus mergana, tapi di sana banyak sekali Ginting Munte, terutama di Sibiru-biru sekitarnya.

“Bebere Ginting apai dage bengkila?” Tanyaku.

“Bebere Ginting Pase,” jawabnya.

Kalau kam melihat wajahku saat mendengar jawabannya saat itu pasti kam terheran-heran. Aku sendiri tidak melihat wajahku saat itu. Hanya kurasakan perasaanku campur aduk. Serasa aku ingin berkata: “Seriuslah kam e?” Tak kuucapkan itu karena menyadari itu tidak sopan.

“Tapi, tersingetna ….. enggo kap masap Ginting Pase ningen kuidah,” kataku setelah menemukan titian kata yang belum pasti aman tapi cukup sopan karena lebih menunjukkan ketidaktahuan daripada sok tahu.

“Masap uga katandu? Nini ndai pe nggeluh denga. Kalimbubunta si Ginting Pase pe mbue kal kutandai deher-deher kutanta ah,” katanya.

“Tehndu nge turi-turin Beru Ginting Pase ningen e?” tanyaku.

“Lang. Beru Ginting Sope Mbelin kueteh,” jawabnya.

Kuceritakan ringkasan kisah Beru Ginting Pase padanya. Lalu kukatakan: “Menurut buku P. Tamboen (1952) berjudul Adat-Istiadat Karo, terbitan Balai Pustaka, Ginting Pase telah punah.”

Sekarang, dia yang merga Tarigan Tua ini yang tercengang.

“Punah uga? Kalimbubunta kal e kerina. Enterem denga kal Ginting Pase ndai sikutandai saja,” katanya sambil meneguk minumannya.

“Inilah akibatnya,” kataku kemudian setelah kami lama saling memandang.

“Inilah akibatnya kalau referensi kita hanya satu. Peneliti-peneliti lain seperti Masri Singarimbun, Rita Smith Kipp, Herman Slaats dan Karen Portier mengulangi apa yang telah dikatakan oleh P. Tamboen. Memang, di Karo Gugung kita tidak temukan lagi seorangpun Ginting Pase,” kataku seolah-olah sedang membuat general evaluation.

Sambungku: “Hampir tidak ada penelitian terpublikasi yang mendasarkan setting penelitiannya dari Karo Jahe.”

Diapun menggeser duduknya sedikit gelisah. Anganku mengawang ke perdebatan beberapa waktu lalu di facebook ketika ada orang mengatakan bahwa Sembiring Kembaren tidak bisa kawin dengan Sembiring yang manapun juga. Kukatakan di facebook itu, aturan itu hanya berlaku di Karo Timur. Di Karo Barat, Sembiring Kembaren bisa kawin dengan Sembiring yang manapun juga kecuali sesama Sembiring Kembaren. Orang itu mengamuk-ngamuk mengatakan kalau hal itu adalah pelanggaran bukan menurut adat Karo.

“Bagaimana kita mengatakan itu pelanggaran kalau sebuah kampung yang didirikan Kembaren kalimbubu simajek lulangna adalah Sembiring Gurukinayan?” Kataku menimpali.

“La lit ena, si la mungkin,” katanya tak mau mendengar. Aku contohkan Kuta Pengkih di wilayah Urung Liang Melas. Simantek kuta adalah Sembiring Kembaren, kalimbubu simajek lulangna adalah Sembiring Gurukinayan. Berarti, sejak kampung itu didirikan, ratusan tahun lalu, Kembaren dan Gurukinayan sudah saling kawin.

Tiba-tiba, seorang merga Brahmana nimbrung dalam perdebatan. Katanya: “Anak beru kuta Limang yang didirikan oleh Sembiring Brahmana adalah Sembiring Kembaren.”

Perdebatan terhening. Penjelasan tentang Limang datang dari anak kuta Limang tegun simantek kuta. Bukan dari seorang peneliti seperti saya.

Kiranya, buku P. Tamboen yang diulang-ulang oleh penulis-penulis berikutnya telah dijadikan patokan tanpa pernah tertarik pada apa yang betul-betul terjadi di lapangan. Seharusnya buku yang telah ada kita jadikan sebagai penerang untuk mencari kebenaran yang lebih luas dan mendalam daripada yang tertulis di dalam buku. Mengapa malahan kita enggan melihat lapangan dan, kemudian, berpaling kepada apa yang telah ditulis?

Meski pengetahuanku pada saat itu masih didasarkan pada buku P. Tamboen yang mengatakan Ginting Pase sudah punah, aku sangat terbuka pada informasi terbaru yang mengatakan masih banyak Ginting Pase di Deliserdang. Bukannya aku terus membantah dia dan tegar tengkuk mengatakan dia yang salah.

Sebaliknya, aku dan laki-laki Tarigan Tua dari wilayah Senembah itu menyusun sebuah proyek penelitian kecil-kecilan mendata siapa saja merga Ginting Pase ini yang masih hidup dan apa yang mereka ketahui tentang merga mereka. Sederhana saja pertanyaannya. Kami sama-sama percaya bahwa kebudayaan Karo dan penelitian tentang kebudayaan Karo secara umum adalah ongoing process, bukan seperti membaca kitab suci.
sumber : sorasirulo

This entry was posted in Berita, Berita dan Informasi Utk Takasima, Informasi Untuk Kabupaten Karo, Opini. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>