TIGA JUTA LEBIH ORANG INDONESIA ALAMI GANGGUAN BAB

Prof Dr Gontar Siregar Alamsyah

Medan, (Analisa). Sekitar 12 persen penduduk dunia mengalami gangguan pola buang air besar (konstipasi). Penyebabnya karena kurang asupan serat dalam tubuh. Di Indonesia, sesuai penelitian tahun 2003, estimasi warga yang konstipasi BAB sebesar 3.857.327 jiwa.
“Penyebab utamanya kurangnya asupan serat dalam tubuh. Untuk daerah kita Sumatera Utara, hasil Riset Kesehatan Dasar tahun 2007, hanya 5,5 persen warga Sumut usia 10 tahun ke atas yang mengonsumsi buah dan sayur yang mengandung serat sesuai anjuran WHO,” sebut Prof. Dr. Gontar Siregar Alamsyah SpPD KGEH saat menjadi pembicara dalam acara Round Table Discussion and Media Briefing tentang Sehat Dengan Serat yang dilaksanakan oleh PT Sari Enesis Indah di Medan, Kamis (6/12).

Minimnya orang Sumut yang mengonsumsi serat itu, sebut Dekan Fakultas Kedoktern USU tersebut, bisa diasumsikan banyak warga yang mengalami konstipasi BAB. Kondisi ini jika berlangsung lama, bisa terjadi kanker kolon atau usus besar.

“Dari 1000 orang yang mengeluh susah air besar yang kita tangani di RSUP H Adam Malik, satu sampai dua persennya sudah mengalami kanker usus besar. Kalau konsumsi serat ini terus berkurang, patut kita waspada ledakan berbagai penyakit ke depan,” kata Prof Gontar.

Minimnya asupan serat, menurutnya, karena pergeseran gaya hidup masyarakat urban yang cenderung menggemari makanan cepat saji yang tinggi kolestrol, namun rendah serat. Ini menyebabkan keluhan gangguan pencernaan seperti sulit buang air besar atau sembelit.

“Padahal akibat kekurangan asupan serat dapat berisiko mendatangkan penyakit yang penanganannya bisa seumur hidup, antara lain kardiovaskuler, kanker kolon, kegemukan, penyakit jantung koroner, diabetes dan banyak lagi,” katanya.

Gangguan BAB

Menurutnya, gejala konstipasi atau gangguan pola BAB akibat kurangnya asupan serat antara lain BAB kurang dari tiga kali dalam seminggu, merasa tidak puas saat buang air besar, ada lendir dan darah saat BAB, memerlukan waktu yang lebih untuk BAB.

Dijelaskannya, serat sendiri ada dua macam, serat larut dan tidak larut. Kedua jenis serat itu berfungsi untuk melancarkan BAB karena sifatnya mengikat air dan menyebabkan rasa kenyang.

“Kalau sudah merasa kenyang, maka kita tidak lagi mengonsumsi protein, lemak, karbohidrat secara berlebih. Kalau zat itu dikonsumsi secara berlebih maka tidak bagus bagi tubuh,” ungkapnya.

Namun, lanjut Gontar, hingga saat ini pemahaman masyarakat tentang manfaat serat ini masih sangat minim di Indonesia.

Masyarakat pada umumnya masih menganggap serat sebagai hal yang sepele, padahal efeknya terhadap kesehatan sangat besar.

Gontar menambahkan, rendahnya kesadaran akan pentingnya serat tersebut, terlihat dari data hasil penelitian Departemen Kesehatan tahun 2008, yang menemukan konsumsi serat masyarakat di Indonesia hanya 10,7 gram per hari.

Jumlah tersebut masih jauh dari anjuran Balai Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) sebesar 25 gram-35 gram per hari.

Dia menambahkan, dalam beberapa kasus dia sering menganjurkan pasien untuk mengonsumsi suplemen sebagai bagian dari terapi kesehatan.

“Saya sering menganjurkan untuk suplemen serat dibanding pencahar. Soalnya, dengan suplemen tidak sampai pada tingkat adiktif karena serta itu fungsinya melancarkan BAB,” ucap Gontar.

Acara yang juga dihadiri sejumlah dokter itu, Nadia perwakilan PT Sari Enesis Indah menjelaskan, mereka mengeluarkan suplemen serat. Sebagai suplemen, sifatnya untuk menambah asupan serat bagi tubuh yang relatif kurang.

“Kita sudah ikut uji klinis tahun 2002 di RS Harapan Kita. Hasilnya, serat kita mampu menurunkan kadar kolestrol total dan BAB menjadi rutin dan lancar,” katanya. (nai)
sumber: analisadaily

This entry was posted in Berita, Informasi Kesehatan. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *