POTENSI PETERNAKAN DI PERKEBUNAN SAWIT

MedanBisnis – Labuhanbatu. Budidaya ternak di areal perkebunan sawit sangat potensi dikembangkan di Kabupaten Labuhanbatu. Itu didukung dengan ketersediaan pakan hijauan sebagai pakan ternak yang banyak tumbuh di lokasi perkebunan yang ada di daerahtersebut. Sayang perhatian pemerintah setempat sepertinya masih minim.
Seperti yang diungkapkan Ketua Fraksi Partai Persatuan Pembangunan (FPPP) Labuhanbatu Ponimin. Menurut dia, minimnya perhatian pemerintah terlihat dari kredit ternak yang digulirkan masih kecil. Padahal, minat warga untuk berternak tinggi.

“Labuhanbatu potensial untuk pengembangan ternak sapi dan kambing. Tapi, dukungan pemerintah belum maksimal,” ungkapnya.

Kalau saja pemerintah serius mengembangkan ternak sapi, ia yakin kebutuhan daging di Labuhanbatu akan tercukupi bahkan bisa untuk memenuhi kebutuhan daerah lain.

Karena itu, kata Ponimin, FPPP akan meminta Pemkab Labuhanbatu untuk melobi Pemerintah Pusat agar mengucurkan dana melalui APBN guna pengembangan peternakan di daerah itu. “Banyak kabupaten lain di Sumut yang berhasil memperoleh miliaran dana pengembangan ternak dari Pusat,” ujarnya.

Kepala Informasi Penyuluh Pertanian (KIPP) Labuhanbatu Charles Tampubolon juga mengakui potensi Labuhanbatu dalam hal pengembangan ternak. Khususnya dalam memanfaatkan lahan perkebunan sebagai areal peternakan.

Dia menilai, berbagai formula juga turut mendukung pengembangan ternak. Terlebih lagi, di luasan lahan perkebunan tersebut mendukung keterdapatan rumput sebagai pakan ternak. Bahkan, dia mengakui jika limbah perkebunan kelapa sawit dapat dijadikan pakan tambahan ternak.

Muklis Hasibuan, salah seorang warga Labuhanbatu justru menilai Labuhanbatu memiliki peluang untuk swasembada daging dengan menerapkan program peternakan dalam perkebunan. Khususnya kelapa sawit. “Ya, peternakan di kebun sawit itu menjanjikan,” ujarnya.

Sebab, tambah dia selain dapat meminimalisir biaya yang ditanggungkan para petani kebun sawit, peternakannya juga dapat menstabilkan perekonomian petani sawit dengan keuntungan yang didapat dengan adanya peternakan. “Jika harga sawit menurun, hasil peternakan dapat menstabilkan fluktuatifnya perekonomian warga,” paparnya.

Menurut dia, petani sawit sudah saatnya berorientasi ke arah itu, yakni dengan memulai bisnis peternakan di sela-sela rutinitas sebagai petani kebun. “Petani sawit juga pantas menjadi peternak,” katanya.Sementara, pihak pemerintah sendiri katanya sejatinya sudah mengkonsep program itu dengan menggandeng para pihak manajemen perusahaan perkebunan yang ada di Labuhanbatu untuk memberikan bantuan dengan pola pemberian kredit hewan ternak kepada para petani pekebun.

Dari data yang diperoleh, program perkebunan yang dikolaborasi dengan peternakan tetap memiliki kendala. Bila musim kemarau tiba mutu tanaman hijauan berkurang jumlahnya yang disebabkan, hilangnya energi dan mineral serta protein dari tanaman akibat kekurangan air. Tentu berdampak pada pertumbuhan hewan jadi terlambat dan menurunnya berat badan ternak dan persentase karkas menjadi rendah.

Namun, semakin luasnya areal perkebunan kelapa sawit yang juga menghasilkan banyaknya pangkasan pelepah sawit dan dedaunan kelapa sawit sebagai alternatifnya. Limbah/sampah areal perkebunan itu menjadi pakan untuk ternak. Limbah industri pabrik kelapa sawit (PKS) juga dapat dijadikan sebagai pakan ternak.

Sehingga, kelapa sawit mulai dari dedaunan, pelepah hingga perasan buah sawit, bukil inti sawit dan lumpur sawit, seoptimal mungkin dapat diolah sebagai tambahan pada pakan ternak.

Sebagai pakan pengganti rumput, pengolahan limbah perkebunan dan industri kelapa sawit dapat dijadikan sebagai alternatif untuk penyediaan ransom, selain itu pengolahannya juga sangat sederhana.

Kulit pelepah sawit misalnya, dikupas secara manual. Bagian daging pelepah dicacah dengan ukuran kecil atau dapat digiling agar lebih halus, kemudian diberikan kepada ternak sebagai pakan dasar. Pakan ini dapat menggantikan rumput berkisar 50-100 persen. Untuk meningkatkan konsumsi pelepah dapat dicampur dengan bahan lainnya, seperti gula, tetea/molase, dedak dan lainnya.  ( fajar dame harahap)
sumber: medanbisnisdaily

This entry was posted in Berita, Informasi AgriBisnis, Informasi Untuk Kab. Karo. Bookmark the permalink.

1 Response to POTENSI PETERNAKAN DI PERKEBUNAN SAWIT

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *