PENDARAHAN PENYEBAB KEMATIAN IBU MELAHIRKAN

MEDAN (Berita) : Penyebab banyak Ibu meninggal saat melahirkan, katanya, yaitu karena pendarahan, infeksi, eklamsi (tekanan darah meningkat). Ketiga hal ini bisa terjadi karena saat hamil tidak memeriksakan kehamilannya.

“Kenapa tidak memeriksakan kehamilannya, karena tidak punya uang,” ucap Direktur Jenderal Bina Gizi Kesehatan Ibu dan Anak Kemenkes RI, Slamet Riyadi Yuwono, pada Roadshow Optimalisasi Peningkatan Kesertaan KB MKJP melalui Jampersal di Provinsi Sumut, Kamis (6/12) di Emerald Garden.

Maka, jelasnya, negara menjamin ibu hamil baik miskin ataupun kaya harus mau berobat di tempat pelayanan kesehatan dan diatur tenaga kesehatan lalu diatur untuk KBnya setelah melahirkan.

“Tanda-tanda kesehatan itu ditandai 3 hal yaitu besaran Angka Kematian Ibu (AKI), Angka Kematian Bayi (AKB), Gizi Buruk dan Usia Harapan Hidup (UHH),” ujar Slamet didampingi Kabid Adpin Perwakilan BKKBN Sumut Drs Datang Sembiring MPHR dan Anthony Ssos.

Dalam konteks ini ada kesepakatan global, tahun 2015 Indonesia harus bisa menekan angka gizi buruknya dari 17,9 persen 2007 menjadi sekitar 15 persen. AKB tahun 2007 dari 34/1000 jadi 23/1000, AKI dari 228/100.000 kelahiran hidup menjadi 102 per 100 ribu kelahiran hidup tahun 2015. Maka perlu upaya ekstra keras, untuk mencapai itu.

“Karena umumnya kematian melahirkan terjadi pada kehamilan ke 3 dan empat. Sekarang tidak ada batasan kehamilan berapapun ditanggung oleh negara ketika tidak punya uang sepanjang dia menggunakan KB. Kita lakukan  roashow ini untuk melihat pelaksanaan jampersal dan menyerap saran-saran yang ada,” imbuhnya.

Slamet menjelaskan, persalinan Jaminan persalinan (Jampersal) gratis sebanyak 4 kali yaitu 3 bulan kehamilan pertama sebanyak 1 kali, 3 bulan kehamilan kedua sebanyak 1 kali dan 3 bulan kehamilan terakhir sebanyak 2 dua kali pada waktu mau melahirkan.

Baik di RS, Polindes, Puskesmas dan yang pelayanan keseahtan yang memiliki kerjasama. Juga 42 hari pemeriksaan selama masa nifas termasuk biaya rawat inap. Kecuali minta tambahan beli popok atau susu, vitamin. “Bila ada pengutipan beritahu infonya dan data yang konkrit. Ada MoU dan sanksinya mulai teguran sampai pembatalan MoU,” tegas Slamet.

Disinggung besarnya anggaran Jampersal dan masih adanya masyarakat yang  belum mengetahui adanya program pemerintah tersebut,  Slamet menyebutkan tahun 2013 sekitar Rp 2 T, terjadi peningkatan dari 2012 yaitu Rp 1,8 T. “Di RS dan puskesmas harus selalu melakukan penyuluhan,” katanya.

Diakuinya, tidak semua Ibu yang telah melahirkan ikut KB, tetapi ternyata KB Pasca persalinan setelah adanya Jampersal meningkat 30 persen, yang tadinya tidak terurus malah semakin meningkat.

Jampersal gratis bagi ibu yang mau melahirkan dan tidak punya jaminan kesehatan dan disitulah ikut KB. “Siapapun ibu hamil di Indonesia ini yang tiak punya jaminan persalinan boleh ikut jampersal sampai kapanpun dan tidak masalah, cukup dengan KTP saja,” tukasnya.

Sementara Deputi Bidang KB Dan KR BKKBN dr Julianto Witjaksono AS MGO SpOG K (Fer) dalam makalahnya Pembinaan Kesertaan KB dalam Jampersal menyampaikan manfaat KB untuk perempuan dan keluarga dan manfaat KB untuk masyarakat.

Dikatakannya, AKI (Maternal Mortality Rate) 228/100 ribu kelahiran hidup berarti, setiap tahun ada 10.260 kematian ibu, setiap bulan ada 855 kematian ibu, setiap minggu ada 213 kematian ibu, setiap hari ada 30 kematian ibu dan setiap jam ada 1 kematian ibu.  “80 sampai 90 persen penyebab kematian dapat dicegah dengan teknologi sederhana, yang tersedia di tingkat puskesmas dan jaringannya,” ujar Julianto. (don)
sumber: beritasore

This entry was posted in Berita, Informasi Kesehatan. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *