PEDAGANG TRADISIONAL KABANJAHE TERANCAM GULUNG TIKAR

Kabanjahe-andalas Menjamurnya jaringan pasar modern yang bergerak di bidang bisnis ritel, seperti hipermarket, supermarket, minimarket, dikhawatirkan akan menjadi ancaman serius keberadaan pasar tradisional Pusat Pasar Kabanjahe.

Kehadiran pasar modern, dengan sistem waralaba (franchise) yang sudah merambah hingga perkampungan, sangat berpotensi meminggirkan keberadaan pasar tradisional, bahkan tidak mustahil bila saatnya akan memusnahkan eksistensi pasar tradisional di Tanah Karo.

Buktinya, kehadiran hipermarket indomart di Jalan Kapten Pala Bangun yang hanya berjarak 200 meter ke Pusat Pasar Tradisional Kabanjahe dinilai sejumlah kalangan akan mematikan pedagang tradisional.

Hal itu secara terpisah dikatakan pengamat ekonomi dari Universitas Quality Berastagi, Rahmat Purba, SE dan anggota DPRD Karo, Sentosa Sinulingga SH saat bincang-bincang dengan andalas, di Kabanjahe, kemarin.

Menurutnya, proses peminggiran dan pemusnahan pasar tradisional sesungguhnya telah berlangsung secara sistematis dan berkelanjutan yang dilakukan dengan sangat kompak oleh koalisi strategis antara pemilik modal dan oknum birokrasi.

“Sedikitnya ada dua modus operandi yang selama ini telah digunakan oleh koalisi strategis itu dalam melakukan upaya peminggiran dan pemusnahan terhadap pasar tradisional,” ungkap Rahmat Purba.

Modus pertama, “pengambilalihan” secara paksa sejumlah pasar tradisional untuk digantikan dengan pasar modern, seperti hipermarket dan supermarket. Dalam pengambilan paksa tersebut pedagang pasar tradisional tidak bisa berkutik sama sekali menghadapi tekanan dari pihak koalisi strategis, sehingga mereka harus rela terpinggirkan, ujarnya.

Modus operandi kedua adalah “pengepungan” terhadap pasar tradisional dengan pendirian mall, supermarket, dan mini market waralaba disekeliling pasar tradisional. Akibat pengepungan tersebut, jumlah pengunjung pasar tradisional semakin menurun secara drastis, tak pelak lagi pedagang tradisional pun terancam gulung tikar, lantaran pembeli berpindah belanja ke pasar modern.

Padahal, sebelumnya pasar modern di Jalan Veteran maupun di Simpang Tiga depan Mesjid Agung sudah duluan berdiri hipermarket indomaret. Demikian juga di Jalan Mariam Ginting dan Jalan Kapten Pala Bangun (Zentrum), maupun di Jalan Kotacane Kabanjahe, ditambah sekarang berdiri lagi indomaret di Jalan Kapten Pala Bangun komplek Kabanjahe Plaja yang nota bene hanya berjarak 200 meter ke Pusat Pasar Kabanjahe, kecamnya.

Diakui, sambung Rahmat Purba, kelebihan pasar modern dibanding pasar tradisional cukup jelas, mereka memiliki banyak keunggulan yakni nyaman, bersih serta terjamin. Itu yang membuat para konsumen mau membeli, disamping tuntutan gaya hidup modern. AC, bersih, kenyamanan dan mempunyai gengsi yang tinggi menjadi andalan dari pasar modern, dan hal itu tidak dimiliki oleh pasar tradisional.

Bahkan kalau kita melihat tidak ada kelemahan dari pasar modern ini. Dengan modal yang cukup besar mereka bisa melakukan apa saja untuk makin mempercantik penampilannya, lontar Rahmat Purba.

Sementara anggota DPRD Karo, Sentosa Sinulingga SH mengatakan, beberapa faktor perlu dibenahi adalah, pertama, masih buruknya infrastruktur kelembagaan pasar tradisional. Pada umumnya, pengembangan kelembagaan pasar tradisional masih dikelola secara tradisional dan bersifat seadanya saja sehingga kurang profesional.

Kedua, masih belum adanya payung hukum berupa peraturan perundangan-undangan yang memberikan sanksi tegas dan keras terhadap pelanggar regulasi industri ritel. Meskipun pemerintah telah menerbitkan Perpres Nomor 112 Tahun 2007 tentang penataan dan pembinaan Pasar Tradisional, Pasar Modern dan Pusat Perbelanjaan serta Permendag Nomor 53 Tahun 2008 tentang Pedoman Penataan dan Pembinaan Pasar Tradisional, Pasar Modern dan Pusat Perbelanjaan untuk mengatur regulasi industri ritel nasional, dalam implementasinya, bahwa setiap usaha toko modern harus dapat Izin Usaha Toko Modern (IUTM), bukan SIUP (Surat Izin Usaha Perdagangan) lagi.

Yang paling parah, lemahnya political will pemerintah daerah. Hal itu tampak dari rendahnya dukungan serta keberpihakan pemerintah daerah dalam pembangunan fisik pasar tradisional di daerah sangat memprihatinkan, kumuh, sempit, becek, bau tak sedap, serta banyak bangkai tikus, asap pembakaran, sampah dan lain-lain.

Lihat pasar tradisional di Kabanjahe, Tigapanah, Berastagi, Tigabinanga, Tiganderket, pasti tidak mampu menghadapi serbuan jaringan pasar modern.

“Pembangunan fisik pasar, baru dilakukan oleh pemerintah jika pasar tersebut sudah benar-benar ambruk termakan waktu atau sesudah terjadi kebakaran pasar saja, sebuah fenomena yang sangat memiriskan hati di tengah derasnya persaingan pasar global, “ketus Sentosa Sinulingga.(RTA)
sumber : harianandalas

This entry was posted in Berita, Berita dan Informasi Utk Takasima, Informasi Untuk Kab. Karo. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *