DI SUMATERA UTARA 1564 WANITA POSITIF PENDERITA HIV

Medan-andalas Laju pertumbuhan penderita HIV/AIDS di Sumatera Utara khususnya wanita, semakin meningkat.Berdasarkan data dari Dinas Kesehatan Provinsi Sumatera Utara disebutkan sampai saat ini, jumlah kumulatif penderita HIV positif wanita mencapai angka 1.564 jiwa.

“Bahkan, 1.100 jiwa diantaranya berusia produktif (25-49 tahun) dan direntang usia 20-24 tahun sebanyak 302 penderita,” sebut Project Officer Global Fund Dinas Kesehatan Provinsi Sumatera Utara, Andi Ilham Lubis, Senin (4/12) di ruang kerjanya.

Bulan Oktober 2012, katanya, kunjungan di seluruh unit VCT menunjukkan, sebanyak 2.572 orang melakukan konseling.

“Dari kunjungan itu, 2.543 diantaranya adalah wanita, dan dari jumlah tersebut ditemukan 127 wanita sudah terinfeksi HIV positif. Sedangkan usia yang mendominasi yakni 25-49 tahun sebanyak 41 jiwa,” ungkapnya.

Tren saat ini, kata Andi, peningkatan HIV/AIDS di Sumatera Utara berdasarkan faktor resiko heteroseksual. “Kalau tahun 2007, tren yang tertinggi itu pada pengguna jarum suntik (penasun) 55 persen.

Tahun 2011, faktor resiko heteroseksual 38 persen. Tapi sekarang (tahun 2012), trennya sudah berubah. 50 persen lebih itu peningkatan terjadi pada heteroseksual,” jelasnya.

Menurut Andi, peningkatan kasus HIV yang terjadi pada wanita merupakan dampak tahun 2007 silam. Dimana, 55 persen terjadi pada penasun yang keseluruhannya memiliki pasangan, pacar ataupun istri. “Sekarang ini, pertumbuhan penasun baru di Sumut hanya 2 persen,”imbuhnya.

Dirinya khawatir peningkatan HIV/AIDS akan semakin tinggi di Sumatera Utara mengingat, adanya pemakaian sabu-sabu.

“Sabu-sabu juga memiliki dampak yakni meningkatkan prilaku seks. Dalam sabu-sabu ada kandungan zat yang dapat meningkatkan libido.  Nah, kalau sudah seperti ini, mereka akan jajan di luar. Iya kalau bersih, kalau tidak?,” ujar Andi
Namun yang paling penting, sambungnya, seluruh masyarakat harus paham bagaimana cara penularan HIV/AIDS itu sendiri, sedangkan pihaknya akan terus melakukan sosialisasi ini. “Kalau kita hanya melakukan upaya promotif kepada seluruh masyarakat dan preventif bagi yang belum menikah. Kemudian, menjalankan program PMTCT bagi ibu hamil yang positif HIV agar tidak menularkannya kepada bayi yang dikandung,” ucapnya.

Pihaknya juga melakukan pemberdayaan terhadap kader dan masyarakat untuk menghilangkan stigma dan diskriminasi terhadap penderita HIV/AIDS. “HIV/AIDS itu terjadi bukan karena hubungan sosial. Tapi adanya kontak cairan dengan si penderita,” katanya mengakhiri. (YN)
sumber : harianandalas

This entry was posted in Berita, Informasi Kesehatan. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *